“Sekarang di Serambi Mekkah, Esok di Depan Kakbah”

Itulah doa tulus yang terucap  agar kelak di kemudian hari dipanggil oleh Allah SWT menuju Rumah-Nya di Tanah Suci Makkah al-Mukarromah untuk memandang kiblat umat islam sedunia, Kakbah Rasulullah SAW. Secercah harapan yang terpanjat agar disampaikan hajatnya berziarah ke bumi kelahiran al-Mustafa Muhammad SAW. Sebuah impian yang diidam-idamkan setiap umat muslim khususnya bagi warga Bumi Aceh Darussalam maupun siapa saja yang pernah mengunjunginya.

Aceh merupakan provinsi paling barat dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Aceh dikenal sebagai tempat awal masuknya islam di Bumi Nusantara. Aceh masyhur akan perjuangan dan kegigihan rakyat melawan penjajah. Aceh sebuah wilayah yang memiliki  tradisi keislaman yang cukup kuat. Dan Aceh memiliki sebuah monumen bersejarah yang tak menjadi saksi bisu perjuangan dalam menegakkan kalimatullah dan bumi pertiwi, yaitu Masjid Raya Baiturrahman.

Masjid Raya Baiturrahman terletak di pusat kota Banda Aceh, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Masjid Raya Baiturrahman adalah simbol agama, budaya, perjuangan dan nasionalisme rakyat Aceh. Masjid Raya Baiturrahman kini menjadi landmark (ikon) Kota Banda Aceh sekaligus menjadi saksi bisu Tsunami Samudra Hindia 26 Desember 2004.

Dilansir dalam catatan Ruslan Baranom, Masjid Raya Baiturrahman dibangun pada 1292, di masa kekuasaan Sultan Alauddin Johan Mahmud Syah (1267-1309). Sultan ketika itu sangat gencar menyebarkan Islam ke seluruh pelosok Kesultanan Aceh Darussalam. Beliau membangun Masjid Baiturrahman sebagai tempat ibadah sekaligus pusat pendidikan dan pengembangan Islam. Dulunya, Masjid masih beratapkan jerami berlapis-lapis, yang merupakan fitur khas arsitektur Aceh.

Semasa Sultan Iskandar Muda (1607-1636) memegang tampuk pimpinan kesultanan, syiar Islam jauh lebih maju. Pengembangan dan pendidikan Islam sudah terlembaga. Kala itu, Masjid Baiturrahman sudah memiliki perguruan tinggi terbesar di Asia Tenggara. Di sana setidaknya terdapat 15 jurusan pendidikan, meliputi ilmu keislaman dan umum.

Bukan hanya bidang ilmu tafsir, perbandingan mazhab, hukum, dan bahasa Arab. Pusat pendidikan Masjid Baiturrahman di masa itu juga memiliki jurusan pendidikan bidang kedokteran, kimia, matematika, pertambangan, dan pertanian. Malah ada jurusan ilmu politik, pemerintahan, sejarah, dan filsafat. Kala itu digunakan istilah dar untuk setiap jurusan, kini setara dengan fakultas pada sebuah perguruan tinggi. Dar al-Hisab untuk jurusan ilmu matematika, Dar al-Siyasah sebutan jurusan ilmu politik, atau Dar al-Ardi bagi jurusan pertambangan.

Pusat pendidikan dan pengembangan Islam Masjid Baiturrahman ini kelak menjadi cikal bakal lahirnya perguruan tinggi di Banda Aceh. Sebut saja Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Universitas Syiah Kuala, dan Universitas Islam Syiah Kuala.

Terbakarnya Masjid Raya 

Menurut catatan Profesor Ali Hasjmy, gubernur pertama Aceh, masjid ini pernah dua kali dilumatkan. Pertama, pada masa pemerintahan Sultanah Nurul Alam Naqiatuddin (1675-1678). Saat itu pecah pergolakan yang dipelopori kelompok aliran Wujudiyah yang di Jawa dikenal dengan ajaran Manunggaling Kawulo Gusti. Kelompok ini mencoba menjatuhkan kekuasaan sang ratu karena menilai haram hukumnya menyerahkan kekuasaan tertinggi kerajaan kepada perempuan.

Percobaan kudeta itu dapat dipadamkan. Tapi para pengikut kelompok oposisi ini pun kalap, lalu menimbulkan kekacauan di seputar ibu kota kerajaan. Mereka bahkan melancarkan aksi bumi hangus. istana ratu beserta isinya musnah terbakar. Demikian pula Masjid Jami Baiturrahman dengan berbagai khazanah Islam yang ada di dalamnya.

Aksi bumi hangus kaum Wujudiyah ini benar-benar menggemparkan, sehingga tercatat pula dalam tambo Kerajaan Malaka pada 1677. Di situ disebutkan, perpustakaan yang ada di dalam masjid terbakar, sampai melumatkan berbagai literatur Islam yang tersimpan di dalamnya. Karya-karya alim ulama besar Aceh, seperti Syekh Nuruddin Ar-Raniry (Ulama Besar Asal India, dan Pengarang Kitab Bustanus Salatin dan Syarah Sabilul Muhtadin karya Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari) Syekh Abdurrauf (Dikenal juga dengan sebutan Syiah Kuala), dan Syekh Hamzah Fansuri (Ulama Tasawwuf asal Yaman) ikut musnah dilalap api.

Selang beberapa waktu setelah penghancuran itu, Masjid Baiturrahman dibangun kembali. Penerus sang ratu, Sultanah Zakiatuddin Inayat Syah (1678-1688) melanjutkan kembali tradisi menjadikan masjid sebagai pusat pendidikan dan ilmu pengetahuan. Pengembangan lembaga itu pun dipercayakan pada Syekh Abdurrauf as-Singkili atau Syiah Kuala, Ulama besar kelahiran Singkil, Aceh bagian selatan yang juga menyebarkan ajaran Thariqah Syatariyyah di Nusantara 

Sentral Perjuangan Melawan Belanda

Untuk kedua kalinya Masjid Raya Baiturrahman kembali terbakar saat rakyat Aceh mengangkat senjata melawan Belanda. Di masa pemerintahan Sultan Mahmud Syah (1870-1874), hubungan Kesultanan Aceh Darussalam dengan Belanda memanas. Belanda berniat menguasai wilayah yang kaya dengan hasil bumi itu.

Dilansir dari detik.com, Ketika Belanda menyatakan perang terhadap kerajaan Aceh pada 26 Maret 1873, para pejuang Tanah Rencong menjadikan masjid sebagai markas dan benteng pertahanan. Di sana, dijadikan tempat untuk mengatur strategi dan taktik perang. Para pahlawan seperti Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien mengambil andil dalam mempertahankan keberadaan masjid Raya Baiturrahman.

Pasukan Belanda yang dipimpin Jenderal Johan Harmen Rudolf Köhler mendarat di pantai Ulee Lheue,  Banda Aceh pada 5 April 1873. Ia membawa 3.198 tentara dan sekitar 168 perwira. Peperangan pertama meletus. Sultan kala itu menjadikan Masjid Baiturrahman sebagai markas sekaligus benteng pertahanan yang kokoh.

Pasukan Belanda pun langsung merangsek jantung pertahanan kesultanan. Dalam pertempuran, masjid kebanggaan rakyat Aceh pun terbakar habis. Sebaliknya, panglima perang Belanda, Mayor Jenderal Kohler, tewas dalam pertempuran di depan masjid pada 14 April 1873.

Saat agresi tentara Belanda kedua pada tanggal 10 April bulan Shafar 1290 H/April 1873 M yang dipimpin oleh Jenderal van Swieten, masjid Baiturrahman habis dibakar. Masyarakat Serambi Mekkah marah besar ketika itu. Cut Nyak Dhien yang memimpin pasukan, membakar semangat jihad para pejuang. Perang kembali meletus.

Hancurnya Masjid Baiturrahman membuat rakyat Aceh makin berang. Mereka mengangkat senjata, berjuang dengan sistem gerilya yang membuat pusing Pemerintah Belanda. Untuk mendinginkan amarah rakyat, Belanda memperlunak sikapnya dengan menghentikan serangan ke daerah-daerah. Dalam rangka meredam perlawanan rakyat Aceh tersebut, Jenderal van Swieten menjanjikan pemimpin lokal bahwa dia akan membangun kembali Masjid Raya sebagai wujud permohonan maaf. 

Dikutip dari portal Harian Pikiran Rakyat.com disebutkan, empat tahun setelah Masjid itu terbakar, pada pertengahan Maret 1877 (Safar 1294 Hijriah) masjid itu kemudian dibangun kembali di lokasi yang sama. Pembangunan menjadi tanggung jawab Gubernur Jenderal van Lansberge yang meneruskan janji Jenderal van Sweiten. Pernyataan itu kemudian diumumkan setelah diadakan permusyawaratan dengan kepala-kepala negeri sekitar Banda Aceh mengingat pentingnya rencana tersebut. 

Pembangunan masjid raya itu dilaksanakan oleh Mayor Vander selaku Gubernur Militer Aceh pada waktu itu. Peletakan batu pertama pembangunannya dilakukan pada 9 Oktober 1879 (13 Syawal 1296 Hijriah) oleh Tengku Qadhi Malikul Adil. Pembangunan masjid selesai pada 27 Desember 1882 ketika masa pemerintahan Sultan terakhir Aceh, Muhammad Daud Syah. Saat itu, masjid tersebut dinamai Masjid Raya Kutaraja.

Awalnya Banyak orang Aceh yang menolak untuk beribadah di Masjid Raya Baiturrahman yang baru ini. Dikarenakan dibangun oleh orang Belanda, yang merupakan musuh mereka. Namun sekarang Masjid ini telah menjadi kebanggaan rakyat Aceh. Bahkan banyak masjid atau meunasah (musholla) di Aceh  mengadopsi kubah masjid baik dari segi warna atau bentuknya.

Basis Perjuangan Pasca Kemerdekaan

Dalam Aceh Daerah Modal, Tengku A.K. Jobi mengisahkan bahwa pasca proklamasi 17 Agustus 1945, Masjid Raya menjadi tempat berkumpulnya para pejuang kemerdekaan. Dalam pertemuan 15 Oktober 1945 tersebut tercapai kesepakatan bahwa mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia dan mengusir penjajah hukumnya wajib. Barisan perjuangan Hizbullah pun segera dibentuk untuk menyambut perang sabil melawan Sekutu yang akan kembali menguasai Indonesia. Tampak hadir dalam pertemuan tersebut Tengku Daud Beureuh, Tengku Hasan Krung Kalee, Tengku Ahmas Hasbllah Indrapuri, Tengku Syekh Sulaiman Mahmud dan Tengku Sulaiman Ulee Kareeng, Tengku A. Wahab Selimun, dan ulama-ulama besar lainnya. Hadir pula Teuku Nyak Arif selaku Resimen Aceh dan Teuku Mahmud Ketua KNI Aceh.

Keberadaan masjid Baiturrahman tak hanya menjadi saksi bisu perang Aceh melawan Belanda. Saat konflik Aceh dengan Republik Indonesia berkecamuk, masjid ini juga menjadi saksi bisu. Di sana, pernah diadakan Referendum yang digelar pada 1999. Jutaan orang berkumpul untuk menyatakan sikap ketika itu. Merdeka atau berada dalam kesatuan NKRI. Dan akhirnya mayoritas warga Aceh memilih untuk tetap dalam pangkuan ibu pertiwi.

Referendum tersebut merupakan ikhtiar untuk mengakhiri konflik berkepanjangan antara Pemerintah dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Penandatanganan MOU Helsinki, Finlandia pada tanggal 15 Agustus 2005 menjadi puncak akhir konflik. Dari kesepakatan tersebut kemudian lahirlah Undang-Undang No. 11/2006 tentang Pemerintahan Aceh, Peraturan Pemerintah No. 20/2007 Tentang Partai Politik Lokal di Aceh dan Qanun-Qanun Aceh

Interior Masjid Raya

Pada awalnya, Masjid Raya Baiturrahman hanya memiliki satu kubah dan satu menara. Kubah-kubah dan Menara-menara ekstra baru ditambahkan pada tahun 1935, 1958, dan 1982. Hari ini Masjid Raya Baiturrahman memiliki 7 kubah dan 8 menara, termasuk yang tertinggi di Banda Aceh.

Perluasan dan perombakan terus dilakukan seiring dengan bertambahnya jemaah dan keterbatasan kapasitasnya. Tercatat beberapa kali proses perombakan terjadi di masjid Baiturrahman. Salah satunya pada tahun 1935, 1975, 1981, dan 1991.

Dalam laman Wikipedia disebutkan bahwa Masjid Raya Baiturrahman awalnya dirancang oleh arsitek Belanda Gerrit Bruins. Desainnya kemudian diadaptasi oleh L.P. Luijks, yang juga mengawasi pekerjaan konstruksi yang dilakukan oleh kontraktor Lie A Sie. Desain yang dipilih adalah gaya kebangkitan Mughal, yang dicirikan oleh kubah besar dengan menara-menara. Kubah hitam uniknya dibangun dari sirap kayu keras yang digabung menjadi ubin.

Dalam website Indonesia Kaya.com dikatakan bahwa Masjid Raya Baiturrahman ini kemudian mengalami beberapa kali perluasan. Yang pertama terjadi pada tahun 1936. Atas upaya Gubernur Jenderal A. PH. Van Aken, dilakukan pembangunan dua kubah di sisi kanan dan kiri masjid. Selanjutnya, pada tahun 1958-1965, bangunan masjid kembali diperluas. Pada perluasan kedua ini ditambahkan dua kubah dan dua menara di sisi barat (mihrab). Kelima kubah ini merupakan perlambang lima elemen dalam Pancasila.

Pada tahun 1992, dilakukan pembangunan dengan penambahan dua kubah dan lima menara. Selain itu, dilakukan perluasan halaman masjid sehingga total luas area masjid saat ini menjadi 16.070 meter persegi.

Interior masjid dihiasi dengan dinding dan pilar berelief, tangga marmer dan lantai dari Tiongkok, jendela kaca patri dari Belgia, pintu kayu berdekorasi, dan lampu hias gantung perunggu. Batu-batu bangunannya berasal dari Belanda. Pada saat penyelesaiannya, desain yang baru pada masanya ini sangat kontras dibandingkan dengan masjid-masjid khas Aceh. Hal itulah yang mengakibatkan banyak rakyat Aceh sempat menolak untuk shalat di Masjid Raya Baiturrahman ini, ditambah lagi karena masjid ini dibangun oleh orang kafir Belanda. 

Saksi Bisu Tsunami

Saat terjadi gempa berskala 9,1 Skala Richter dan Tsunami yang meluluhlantakkan Bumi Aceh Darussalam, Masjid Raya Baiturrahman tetap kokoh berdiri. Tercatat hanya terdapat sedikit kerusakan seperti beberapa dinding yang retak. Salah satu menara 35 meter juga mengalami sedikit keretakan dan menjadi sedikit miring akibat gempa tersebut. Disaat bencana alam tersebut, Masjid ini digunakan sebagai tempat penampungan sementara untuk orang-orang yang terlantar dan baru dibuka kembali untuk ibadah setelah dua minggu.

Pasca Tsunami, Masjid Baiturrahman mengalami renovasi besar-besaran. Diperkirakan dana mencapai 20 miliar rupiah dikucurkan untuk merehab masjid bersejarah ini. Dana tersebut berasal dari bantuan dunia internasional, seperti dari Saudi Charity Campaign. Proses renovasi selesai pada 15 Januari 2008. 

Saat ini halaman masjid telah berlantaikan marmer yang diimpor langsung dari Italia. Payung raksasa yang dapat kita jumpai di Masjid Nabawi Madinatul Munawwaroh dan Masjid Agung Jawa Tengah, Semarang juga dapat jumpai, menara di depan masjid berdiri kukuh menjulang. Parkir bawah tanah dipersiapkan untuk menampung kendaraan jamaah. Begitu pula tempat wudlu dan toilet ditempatkan di bawah tanah di sekitar areal bangunan utama. Air mancur dan taman tertata rapi dan terlihat elok dipandang.

Masjid Baiturrahman merupakan masjid kebanggaan warga Serambi Mekkah sekaligus menjadi pusat syiar islam di Tanah Rencong. Mengunjungi masjid antik nan eksotik ini selain untuk beribadah juga dapat menjadi momentum mengenang perjuangan rakyat Aceh dan menjadi pengingat akan tragedi Tsunami yang telah menelan korban sampai ratusan ribu jiwa ini. 

Semoga hati kita selalu terpatri untuk selalu berusaha memakmurkan masjid agar kita tergolong hamba-Nya yang mendapatkan petunjuk. Karena dengannya negeri kita akan terhindar dari bencana dan marabahaya. Sebagaimana Allah SWT telah berfirman:

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ (سورة التوبة آية ١٨)

“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. At-Taubah: 18)

Banda Aceh, 22 Oktober 2018

Disarikan dari berbagai sumber dan pengamatan langsung.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *