Allah berfirman:
اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ
“…Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).” (QS. al-Syura [42]: 13).
Ayat di atas, sekilas menunjukkan bahwa al-Qur’an menyebutkan dua jalan kembali kepada Allah. Pertama, jalan ijtiba dan kedua jalan hidayah (inabah). Kedua jalan ini sangat berbeda dan sulit ditebak bagi orang-orang yang akan meraihnya.
Jalan ijtiba merupakan hak mutlak Allah untuk memilih hamba-hambaNya yang akan ditarik agar kembali ke jalan-Nya. Sementara jalan hidayah terjadi melalui proses pertaubatan (inabah) dengan menempah diri dengan berbagai pengetahuan, menjalankan ketaatan, memperbanyak zikir dan ibadah lainnya.
Manusia dalam melalui jalan ijtiba ini hanya bersifat pasif. Karena Allah langsung memilihnya dan menariknya tanpa ada upaya apapun darinya. Jalan ini berlaku khusus bagi orang-orang yang terpilih oleh-Nya, tidak sembarang orang. Hanya orang-orang yang dikehendaki-Nya dan dipilih-Nya.
Berbeda halnya dengan jalan hidayah. Jalan ini diberikan Allah kepada hamba-Nya yang telah menempuh perjalanan spiritual dan tergantung pada ikhtiar manusia itu sendiri. Karena hidayah datang sebagai “buah” dari usaha dan kesungguhannya. Dari sini, hidayah dibutuhkan manusia yang aktif mendekat kepada-Nya.
Dalam sejarah Islam banyak orang yang ditarik oleh Allah dalam satu kali proses peralihan, dari kesesatan menuju petunjuk, dari ketidakmenentuan menuju kepatuhan, dari kecintaan pada selain Allah menuju kecintaan hanya kepada-Nya.
Di antara orang-orang pilihan itu adalah Al-Fudhail bin Iyyad dari seoarang pembunuh dan perampok menjadi ahli ibadah yang mengisi hatinya hanya untuk rasa cinta dan takut kepada Allah, Abdullah bin al-Mubarak dari penyanyi dan pemain musik yang abai terhadap perintah-larangan Allah menjadi hamba yang alim dan ahli ibadah kepada-Nya.
Orang-orang semacam Fudhail bin Iyyad, Abdullah bin al-Mubarak, Malik bin Dinar adalah orang-orang yang dipilih oleh-Nya. Mereka menjadi dekat kepada-Nya, tanpa didahului dengan usaha melakukan banyak ibadah, zikir, dan penyucian jiwa lainnya.
Mereka adalah orang-orang yang dinaikkan ke tingkat keluhuran makrifat dan ketaatan kepada Allah dalam beberapa menit atau bahkan dalam sekejap mata dengan penyucian jiwa dan hati mereka. Seakan, tiba-tiba menjadi manusia saleh dan rohani.
Akan tetapi, orang-orang yang meraih ijtiba dari Allah ini ketika telah merasakan lezatnya makrifatullah dan kedekatan serta cinta kepada Allah, mereka akan bersungguh-sungguh dan membebankan banyak tanggungjawab pada dirinya berupa ibadah dan ketaatan. Ia tidak mau lagi jauh-jauh dengan Allah.
Dan, kondisi mereka tidak menjadi baik pasca mengalami perubahan drastis yang dianugerahkan oleh Allah itu, kecuali dengan bersungguh-sungguh dalam menangung beban tersebut. Beban yang mereka ditanggung itu berat, tapi nikmat baginya.
Dengan kata lain, proses peralihan manusia melalui jalan ijtiba ini mudah di awal, tapi konsekuensinya “berat” di belakang karena harus menunaikan “hak-hak cinta kepada-Nya” melalui banyak ibadah, zikir dan keluhuran sikap dalam kehidupan sehari-hari.
Orang-orang yang telah dianugerahi ijtiba’ adalah orang yang paling komitmen dalam melaksanakan perintah Allah, paling “lurus” memahami persoalan halal-haram dan paling konsisten dalam melaksanakan nawafil dan zikir.
Bagaimana dengan kita? Entahlah.
Jika jalan ijtiba pun belum terbuka, maka masih ada jalan lain untuk mendekati-Nya, yaitu jalan inabah. Jadi, mari kita kembali kepada-Nya, agar senantiasa mendapatkan hidayah dari-Nya.
Jogya, bakda Subuh, 14 Juli 2020.

No responses yet