Kalo di tulisan sebelumnya kita mbahas gimana logika bersyukur dalam kesulitan lewat tafsir firman Gusti Allah, sekarang kita bahas bagaimana bersyukur dalam kesulitan lewat filsafat bahasa. Ini saya peroleh dari kesimpulan ceramah Fadhilatusy Syaikh Ali Jum’ah Al Azhari yg dibagikan oleh Bu Nyai Hilma Rosyida Ahmad.
Kita mungkin saat diberi kesulitan hidup, kita anggap itu siksaan atau dalam bahasa Qur’an disebut ‘adzab (عذاب). Tapi dalam bahasa Arab, kata ‘adzab ini gak mesti bermakna siksa.
Kalo orang Arab mengistilahkan air tawar yang segar dan manis itu juga maau ‘adzb. Kalo misal kita melihat sesuatu yang indah, istilah Arabnya juga ‘udzubah. Semua itu satu akar kata dengan ‘adzab.
Jadi bisa ditarik kesimpulan, kata ‘adzab yang dipakai Qur’an untuk menyebut apa yg bakal diterima pendosa akibat dosanya itu tidak bermakna siksa. Tapi bisa dimaknai memurnikan, menetralkan, mengindahkan atau menghias. Dengan pengertian ini, kita menyadari bahwa lewat adzab itu, Gusti Allah hendak merahmati hamba-Nya.
Lalu kenapa adzab dikatakan rahmat tapi kok sakit?
Analoginya seperti kalo kita melihat orang yang melahirkan, mereka kesakitan hingga hampir mati. Tapi gitu ya gak kapok tuh. Malah ada yg sampai punya anak belasan biji. Hal itu karena mereka membayangkan buah hati yg mereka cintai dan harapkan, bisa lahir dengan selamat hingga terlupa sakit saat melahirkan. Bahkan kebahagiaan itupun ingin mereka ulangi, hingga punya belasan anak.
Jadi walau yg namanya adzab itu sakit, rahmat Gusti Allah tetap mengikuti rasa sakit tersebut. Saat kita susah, pasti ada rahmat Gusti Allah yg menyertainya. Maka gak salah, seperti tulisan sebelumnya, kalau Gusti Allah berfirman
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (٥) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (٦)
“Maka sesungguhnya dibalik satu kesulitan, ada kemudahan. Sesungguhnya dibalik satu kesulitan, ada kemudahan.”
Bahwa sudah jadi sunnatulloh, dibalik kesusahan ada kebahagiaan. Dalam kesusahan, ada sisi kebahagiaan. Maka sudah seharusnya kalo kita beriman betul pada Gusti Allah dan paham hakikat adzab seperti itu, tetap bahagia dan bersyukur di saat senang maupun susah.
Surat Alam Nashroh itu emang ajib, mbah. Semakin digali, semakin membesarkan harapan kita.
Seakan lewat surat ini, Gusti Allah dawuh bahwa selama nyawa masih melekat maka harapan akan terus merapat. Gusti Allah gak mungkin menciptakan alam semesta ini tanpa ditaburi harapan-harapan yang menjanjikan. Bahkan dalam keadaan yang bagaimanapun gentingnya.
Mbah Yai Husein Ilyas dan seorang guru saya pun menganjurkan baca surat Alam Nashroh 11 kali tiap habis sholat rowatib.
Ngomong2 harapan menjanjikan, jadi ingat satu anekdot, mbah.
Kyai Sarip pernah kehilangan istri yg dicintainya. Para warga pun menghiburnya, “Jangan bersedih, Kyai, kami akan bantu mencarikan pengganti untuk menghapus rasa kehilangan njenengan, Kyai,”
Kyai Sarip tercenung dengan perkataan para warga itu. Ada satu harapan membuncah di tengah kesedihannya.
Suatu hari, Kyai Sarip melihat rumahnya yg kecil itu hampir roboh. Bukannya diperbaiki, Kyai Sarip diam-diam malah membakar rumahnya itu hingga habis. Warga pun pada berdatangan untuk memadamkan api.
Warga gak tau kalo kebakaran itu kesengajaan Kyai Sarip. Mereka pun jadi simpati pada Kyai Sarip, lalu mereka menghibur Sang Kyai, “Jangan sedih, Kyai, kehilangan harta adalah cobaan, mohon Kyai kuat bersabar,”
Warga ngomong gitu, eh Kyai Sarip malah muntab, “Sialan, kalian ini! Pas istri saya meninggal, kalian semua warga kampung bilang: ‘Kami akan mencari pengganti untuk Kyai’. Tapi coba sekarang lihat! Pas rumah saya habis, gak ada seorang pun yang sukarela nawarin penggantinya!”

No responses yet