Guru H. Syansuri atau lengkapnya Tuan Guru H. Syansuri bin H. Muhriz bin H. Marhasan bin Abdurrohim Wujud bin Datu Kattab. Beliau lahir sekitar tahun 1959, di Martapura dan wafat Jum’at 24 Juli 2020. Masih cukup muda, baru berusia 61 tahun, belum mencapai usia Nabi Muhammad Saw yang berusia 63 tahun. Banyak dari murid dan masyarakat sekitarnya masih mengharapkan bimbingan, arahan, nasehat dan doa beliau. Namun apa hendak dikata Allah menghendaki lain, ingin beliau segera berada di sisi-Nya, tempat kembali semua makhluk yang bernyawa, karena setiap yang bernyawa pasti akan mati, tak bisa dimundurkan dan tak bisa dipercepat.
Guru H. Syansuri adalah salah satu dari guru PP. Darussalam yang terkenal telah melahirkan ulama-ulama mumpuni yang mewarnai kehidupan masyarakat Banjar baik di masyarakat perkotaan maupun masyarakat pedesaan. Beliau dikenal sebagai guru yang banyak senyum dan menyenangkan terutama bagi mantan murid-murid beliau dan yang sedang menjadi murid beliau serta masyarakat sekitarnya.
Beliau masih semuda itu, sudah tergolong sebagai ulama khos (poros langit) yang tidak semua ulama bisa mencapainya. Gus Dur (Presiden RI ke 4) selagi masih hidup mempunyai beberapa ulama khos yang menjadi benteng pertahanan atau pelindung spiritual diri dari serangan black magic dan politik licik. Sebut saja umpama KH. Abdullah Faqih dari PP. Langitan, Tuban (Jatim), KH. Abdullah Abbas dari PP. Buntet, Cirebon (Jabar), Ajengan H. Ilyas Ruhiyat dari Tasikmalaya (Jabar), Mbah Mat Watucongol dari Magelang (Jateng),Tuan Guru H. Turmudzi dari Baghu, Lombok, Mataram (NTB), Mu’allim H. Moch. Hamdan Khalid dari PP. Rakha, Amuntai (Kalimantan Selatan) dan Anre Gurutta H. Sanusi Baco dari Ujungpandang (Sulawesi Selatan).
Biasanya ulama khos itu tidak hanya menguasai ilmu keislaman yang utuh dan menyeluruh (syariat, tarekat, hakikat ma’rifat), tapi juga memiliki olah batin yang kuat dan beberapa kesaktian ilmu kanuragan.
Beliau juga, menurut informasi yang kudapat, salah satu ulama yang menjadi tempat “Talaqqi” di rumah beliau di Gang Luntas, Pasayangan. Karena dalam dunia Islam tidak cukup belajar itu hanya dengan otodidak, tapi harus belajar juga kepada guru-guru yang mumpuni ilmu dan baik cara metode mengajarnya. Atau, tak bisa hanya membaca di Mbah Gogle dan Kyai Youtube saja, lalu sudah merasa cukup bahkan sampai berani berfatwa. Sungguh akan sangat membahayakan, bisa terjatuh kepada arah sesat lagi menyesatkan karena ilmu yang diperoleh dengan otodidak sehebat apapun akan sangat dangkal dan tidak matang kalau tidak diiringi dengan berguru secara reguler dengan ulama tertentu atau pesantren dan madrasah termasuk STAI, IAI dan UI baik negeri maupun swasta. Dalam kata lain, Talaqqi menghendaki tak sekadar membaca suatu pelajaran, tapi mengulang-ulang, memahami, meresapi, menghayati dan melakukan pendalaman. Juga, Talaqqi menghendaki berguru kepada ulama yang ilmunya bersanad dan silsilah sanadnya sambung-menyambung sampai kepada Nabi Muhammad Saw. Beliau juga terkenal sebagai pengamal Dalail Khairat karya Sulaiman Jazuli dari Tarekat Syadziliyah dan bahkan termasuk ke dalam Mursyid Dalail Khairat hingga banyak dari murid beliau yang mengambil ijazah amalan hizib dan salawat ini kepada beliau.
Begitulah Guru H. Syansuri, muda tapi sudah menjadi sosok guru yang mendekati sempurna. Sayang sungguh sayang beliau telah mendahului kita. Kita doakan bersama semoga beliau dikasih sayangi oleh Allah Swt, diampun segala dosa-dosanya, dimaafkan segala kesalahannya, ditambali semua kekurangannya, diterima seluruh amal baiknya, digandakan segala kebajikannya, diluaskan liang lahatnya sebagai salah satu taman surga dan dimasukkan beliau ke dalam surga bighairi hisab. Semoga kita bisa meneladani sifat dan perilaku beliau dan bisa mengambil hikmah di balik musibah. Allahummagh firlahu war hamhu wa’afihi wa’fu’anhu waj’alil jannata matswahu wa ma’wahu. Allah Yarham.

No responses yet