Wujud kecintaan terhadap Guru rohani, dapat dimanifestaskan dalam bentuk khidmat (pelayanan). Khidmat berbagai macam bentuknya; khidmat dalam bentuk tenaga. Melayani Guru dengan tenaga yang kita miliki. Di antara kita, mungkin saja, hanya dapat berkhidmat berupa kontribusi tenaga.
Sementara yang lainnya berkhidmat dengan pikiran. Karena ide dan pemikiran yang brilian, seorang murîd ikut meramaikan kegiatan majelis melalui ide-idenya, tidak lebih dari itu. Sedangkan yang lainnya, berkemampuan untuk menjalankan aktivitas majelis dengan memberikan materi.
Ketiga khidmat ini dii´tikadkan untuk mencintai Guru. Karena cintanya lah, kita dapat sampai ke gerbang keiLâhian. Kalau bukan cintanya, tak seorang pun yang akan sampai ke hadirat ilahi rabby.
Adapun khidmat yang memiliki nilai di hadapan Guru, sudah tidak diragukan lagi, adalah Râbithah. Tiada yang diminta oleh Guru terhadap murîd, kecuali melakukan Râbithah. Manfaat dari Râbithah, bukan untuk kepentingan Mursyid, tetapi untuk kepentingan murîd itu sendiri.
Atas kecintaan, Mursyid meminta kepada murîd-murîd untuk mendawamkan Râbithah. Dengan Râbithah kesempurnan khidmat tercapai oleh setiap murîd. Karena Râbithah, kecintaan seorang murîd diukur oleh Mursyid.
Mursyid tidak membedakan di antara murîd-murîdnya, berdasarkan status sosial dan pendidikannya. Tetapi, murîd yang akan dikenang dan dicintai, ialah murîd yang selalu melakukan Râbithah.
اِلَهِي أَنْتَ مَقْصُوْدِي، وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِي،
أَعْطِنِي مَحَبَّتَكَ وَمَعْرِفَتَكَ
“Wahai Tuhaku,
engkau yang aku maksud
Kecintaanmu yang aku pinta.
Berilah kepadaku cintamu,
Sehingga Engkau mengenalkan dirimu.”
Khidmat yang dikembangkan dalam majelis, merupakan metode efektif bagi pendidikan spiritual seorang murîd. Berkhidmat kepada orang lain, hakikatnya, telah berkhidmat kepada dirinya sendiri.
Orang yang sombong tidak dapat melayani orang lain. Hanya orang-orang yang rendah hati, yang dapat melayani orang lain.

No responses yet