KH. Moh. Said Ketapang merupakan salah satu ulama masyhur di kota kami, Kepanjen. KH. Moh Said bukan hanya dikenal sebagai pendiri PPAI Ketapang, Kepanjen, namun beliau seorang Mursyid Thariqah Khalwatiyyah dan pejuang kemerdekaan Republik Indonesia. KH. Moh. Said begitu besar pengabdiannya bagi agamanya lewat pesantren dan Nahdlatul Ulama dan bangsanya lewat perjuangan Sabilillah melawan penjajah dan sebagai Duta Bahasa Internasional. KH. Moh Said menjadi bukti shahih bahwa santri tak hanya mampu mengaji namun mampu memberi kontribusi besar bagi bangsa dan negara.
Berikut sejarah singkat kisah hidup ulama yang juga pejuang kemerdekaan Republik Indonesia yang patut kita teladani bersama.
Kelahiran dan Pendidikan KH. Moh. Said
KH. Moh. Said lahir di Jl. Tongan Kota Malang pada tahun 1901 dari pasangan H. Moh. Anwar dan Ny. Lis.
Pada masa penjajahan Belanda, Kyai Said termasuk beruntung. Karena pada usia 10 tahun, beliau dapat mengenyam pendidikan dan berhasil menamatkan pendidikan HIS (Hollandsch-Inlandsche School yakni sekolah Belanda untuk Bumiputera) tahun 1911. 5 tahun kemudian, tahun 1916, menamatkan ELS (Europesche Lagere School atau sekolah rendah Eropa diperuntukan bagi keturunan Eropa dan pribumi dari tokoh terkemuka). Setamat dari ELS beliau bekerja menjadi Komis Pos di Jember selama 9 tahun, 1916-1925.
Secara khusus, awalnya Kyai Said hanya nyantri di beberapa kyai di Malang, seperti ngaji pada Kyai Mukti Kasin, dan beberapa kyai lainnya. Selain itu, juga pernah nyantri ke Pondok Pesantren Canga’an Bangil, Pasuruan (Pesantren tempat Syaikhona Kholil Bangkalan belajar)
Selanjutnya pada 1925 sampai 1927 Kyai Said sempat menjadi pegawai di kantor Gubernur Jawa Timur di Surabaya. Tak lama bekerja disana, beliau mengambil keputusan yang agak mengejutkan dan mengherankan bagi kalangan awam, karena pada tahun 1927 beliau yang telah menjadi pejabat di tingkat propinsi Jawa Timur, dan apalagi baru 2 tahun menikah memutuskan untuk mundur dari jabatan. Hal ini dikarenakan status beliau yang saat itu menjadi pegawai pemerintah Belanda, ternyata tidak memuaskan hatinya.
Setelah keluar dari tempat kerja bersama dengan sang istri, Nyai Siti Fathimah, beliau kembali pergi menimba ilmu di Pondok Pesantren Hamdaniyyah Siwalan Panji, Buduran, Sidoarjo. Hal ini beliau tempuh selama 6 tahun sampai tahun 1931.
Mendirikan Pondok Pesantren
Setelah di Pesantren Siwalanpanji, KH. Moh. Said pindah ke Kabupaten Malang sejak tahun 1927. Beliau mulai mendirikan dan mengasuh Pondok Pesantren di Desa Sonotengah, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang selama 16 tahun, 1931-1947.
Pada tahun 1948 beliau memindahkan Pondok Pesantren di Sonotengah ke daerah Karangsari, Bantur, Kabupaten Malang. Hal ini dikarenakan untuk menyelamatkan santrinya dari penjajahan Belanda. Beliau sendiri juga ikut berjuang mengusir penjajah Belanda serta menjadi penggerak tentara Hizbullah.
Pada tanggal 28 Oktober 1949, beliau memindahkan pesantrennya ke daerah Dusun Ketapang, Desa Sukoraharjo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang (hingga saat ini) dengan nama Pondok Pesantren Pendidikan dan Perguruan Agama Islam (PPAI) Ketapang. Dalam perkembangan selanjutnya nama PPAI dijadikan nama depan seluruh pondok pesantren di tanah air yang didirikan dan diasuh oleh para kyai alumni PPAI Ketapang.
Sebagaimana umumnya pesantren NU, pondok beliau juga bersistem pengajaran klasikal (Salafiyah). Unit pendidikan yang tersedia meliputi Sekolah Diniyah Putra-Putri Ibtida’iyah, di tingkat Tsanawiyah dan Aliyah dengan kurikulum pesantren. Meski tak membuka jenjang pendidikan formal, namun cukup banyak alumninya yang berkiprah di instansi pemerintahan maupun swasta.
Selain itu, PPAI Ketapang juga membuka pesantren bagi lanjut usia khusus putri, pengajian mingguan, pengajian jum’at pon. Dalam rangka memberantas buta huruf Al-Qur’an PPAI juga meluncurkan metode cepat baca Al-Qur’an as-Sabiqi.
Santri KH. Moh. Said
ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. al-Jatsiyah: 18).
Ayat itulah yang selalu ditanamkan KH. Moh. Said kepada santrinya. Harapannya, agar santri yang menuntut ilmu di Pondok Pesantren Agama Islam (PPAI) Ketapang, Kepanjen, yang diasuhnya tidak model-model.
“Kalau memang hanya bisa membaca al-Fatihah, ya ajarkan al-Fatihah itu,” ujarnya kala itu.
Prinsip Kyai Said: “Sebagai seorang pemimpin harus bisa mencetak atau mengkader santrinya menjadi pemimpin.” Karenanya, tak heran jika kemudian Kyai Said berhasil mengkader santrinya menjadi ulama dan tokoh masyarakat, seperti: KH. Alwi Murtadho (Pengasuh PPAI Al-Ihsan Blambangan Bululawang), Drs. KH. Mahmud Zubaidi (Mantan Ketua MUI Kabupaten Malang dan Mantan Rektor Universitas Islam Raden Rahmat, Kepanjen, Malang), KH. Suyuti Dahlan (Pengasuh Ponpes Nurul Ulum Kacuk Sukun), KH. Tauhid Asad Malik Sa’aduddin (Pengasuh PPAI Ketapang, menggantikan Kyai Moh. Said), KH. Suadi, KH. Umar Faqih, KH. Imam Asfali dan ratusan kiai dan pejuang islam lainnya yang tersebar di Malang dan sekitarnya.
Perjuangan dan Pengabdian KH. Moh. Said
Sejak masa muda, beliau memang dikenal sebagai orang yang suka bekerja keras dan tekun belajar. Selain membantu orangtuanya, juga berdagang serta terkadang bertani.
Beliau menikah pada tahun 1925 dengan Siti Fatimah, seorang wanita dari Kidul Pasar Malang. Dalam pernikahan tersebut, Kiai Said tidak sampai dikarunia anak.
Di masa pendudukan Belanda, Jepang dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia beliau dikenal sebagai penggerak laskar Hizbullah pada tahun 1945-1948.
Dalam peristiwa heroik 10 Nopember 1945 di Surabaya beliaupun turut serta menggembleng pasukan Hizbullah serta melengkapi mereka dengan “amunisi” kerikil ber-asma’, pecut dan kalung.
Di kalangan santri dan masyarakat, beliau dikenal sebagai ulama yang bijaksana. Beliau juga dekat dengan umara’ dan organisasi, tetap menampakkan pribadi yang alim, wara’ dan sufi. Selain itu, beliau dikenal sebagai salah satu ulama pendiri Nahdlatul Ulama’. Dimana Kyai Said pernah diberi tugas oleh Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari untuk mengibarkan bendera NU ke penjuru dunia karena beliau termasuk orang yang mahir berbahasa Inggris, Rusia, Jerman dan Belanda.
Bersama Syaikh Ghanayim al-Misri dan KH. A. Wahab Hasbullah, beliau berkelana ke luar negeri mengabarkan NU ke dunia internasional. Beliau mengantarkan surat berdirinya NU kelima penjuru dunia Eropa. Kemudian di tingkat struktural Kyai Said sempat menjadi Rois Syuriah NU Cabang Malang pada tahun 1950-1965.
Bahkan, pada tahun 1956 pada masa pemerintahan Presiden Ir. Sukarno, beliau ditunjuk sebagai Ketua Delegasi Ulama’ Indonesia ke Moskow (Rusia) dan Karachi (Pakistan) mewakili Partai NU wilayah Jawa Timur. Hal ini dikarenakan kepandaian dan kecakapan beliau yang menguasai beberapa bahasa asing dengan baik
Menurut KH. Suyuti Dahlan, Kyai Said itu sosok sufi yang berpendirian teguh, suka menyendiri dan menjauhi keramaian. Meski beliau lebih menekankan pada syariat (fiqih), tapi juga mengamalkan Thariqah Khalwatiyah dengan kitab susunannya Khulashah Dzikr al-‘Ammah wa al-Khasshah, yang didirikan Syaikh Muhammad al-Khalwati. “Beliau itu hampir 27 tahun tidak pernah telat melaksanakan shalat berjamaah. Dan pelajaran itu, selalu ditekankan pada santri-santrinya,” ujar Almaghfurlahu KH. Suyuti Dahlan , Pengasuh PP Nurul Ulum Kebon Sari Malang).
Demikian juga dalam bidang pendidikan, beliau sangat memperhatikan para generasi muda. Para santrinya diarahkan untuk menjadi penganjur agama Islam atau da’i, menjadi kader-kader dakwah yang memperjuangkan agama Islam ala Ahlussunnah wal Jama’ah serta menyebarluaskan ajaran pesantren yang sehaluan dengan PPAI Ketapang.
Pertemuan Dua Wali Agung
Sebagaimana pernah dituturkan oleh KH. Achmad Muchtar Gz, salah satu santri KH. Moh. Said, suatu pagi hampir beranjak siang, KH. Abdul Hamid (Mbah Hamid) Pasuruan tiba-tiba datang ke Ketapang. Maka beliau pun segera menuju ndalem KH. Mohammad Said.
Ketika berada di depan Ndalem KH. Said, Pengasuh PPAI Ketapang Kepanjen Malang, seraya mengucapkan:
“Assalamu’alaikum…” sampai 3 kali, namun tidak ada jawaban.
Tak lama kemudian, muncul seorang santri datang dari bilik yang tak jauh dari Ndalem mendatangi Kyai Abdul Hamid yang berada di serambi Ndalem.
“Romo Kyai Said wonten?” (Kyai Said ada?) Tanya Kyai Hamid.
“Romo Kyai Said kadose tindakan kolo wau kaleh Bu Nyai. Ngapunten, saking pundi?”
(Kyai Said sepertinya tadi pergi bersama Bu Nyai. Maaf, Anda dari mana?) Tanya santri tadi.
(“Kulo Abdul Hamid saking Pasuruan”), saya Abdul Hamid dari Pasuruan.
Mendengar jawaban itu santri tadi langsung bingung tak tahu harus berbuat apa karena sekarang ia tahu bahwa yang di hadapannya bukan orang biasa, tetapi kyai panutan banyak orang dan masyhur dikenal sebagai Waliyullah.
Melihat hal itu Kyai Hamid pun langsung berkata kepada santri tadi:
“Menawi ngaten kulo tak ngrantosi Romo Kyai Said ten masjid mawon mpun nak geh”, (kalau begitu sembari menunggu Kyai Said, saya di masjid dulu ya)
Akhirnya Kyai Hamid pun berjalan menuju masjid yang tak jauh dari Ndalem, kemudian shalat dua rakaat lalu rebahan tidur di depan mihrab masjid. Sedangkan santri tadi sambil bingung kembali ke bilik memberi tahu teman-temannya bahwa tamu tadi adalah Kyai Hamid dari Pasuruan yang alim dan wara’.
Selang hampir satu jam, melihat kondisi Kyai Hamid yang sedang tidur-tiduran di depan mihrab menunggu kedatangan Kyai Said, akhirnya santri tadi berinisiatif untuk mencari keluarga atau abdi ndalem agar bisa membukakan pintu Ndalem Kyai Said. Tujuannya supaya Kyai Hamid bisa menunggu di Ndalem saja.
Tak lama kemudian keluarlah Gus Kholidul Azhar, putra angkat Kyai Said, dari dalam Ndalem sambil kelihatan layu nampak habis bangun tidur. Maka tanpa basa-basi santri tadi langsung berkata kepada Gus Kholid:
“Gus, wonten Kyai Hamid Pasuruan bade sowan dateng Romo Yai,” (Gus ada Kyai Hamid Pasuruan ingin menghadap KH. Said)
“Iyo wis mari ketemu kok,” (iya sudah ketemu kok) jawab Gus Kholid.
“Lho, kepanggih pripun tho Gus. Lha wong Kyai Hamid sak meniko tasik nenggo Romo Kyai Said kundur saking tindakan ten masjid ngantos sare wonten ngajenge mihrob”, (Sudah ketemu bagaimana Gus, lha tadi Kyai Hamid masih menunggu Kyai Said yang sedang keluar di masjid depan mihrab kok)
“Lho, sopo sing ngomong Abah (Kyai Said) tindak? Wong iki maeng lho aku metu teko kamar (habis tidur) Abah karo Kyai Hamid isik temon-temonan ndek mbale (ruang tamu) omah”, (kata siapa Abah sedang keluar? Baru saja aku keluar kamar, Abah bersama Kyai Hamid bertemu di ruang tamu).
“Lho, saestu Gus Romo Kyai Said tasik tindakan, kulo ningali piambak wau mios ipun. Pramilo Kyai Hamid nenggo Romo Kyai kundur sakniki ten masjid” (beneran lho Gus, tadi Kyai Said sedang keluar. Saya lihat. Sedangkan Kyai Hamid menunggunya di masjid)
“Koen iki yokpo se, dikandani lek Abah karo Kyai Hamid isik temon-temonan ndek mbale kok gak percoyo?” (Kamu ini bagaimana sih, diberi tahu Abah bersama Kyai Hamid masih bertatap muka di ruang tamu kok tidak percaya).
“Mosok nggeh Gus, saestu tah? Wong nembe mawon kulo tasik ningali Kyai Hamid wonten masjid, sare ten ngajenge mihrob. Lan kulo ningali Kyai tindakan lan dereng kondur.” (Masak sih Gus, sungguh? Baru saja saya lihat Kyai Hamid masih di masjid, tiduran di depan mihrab. Dan saya lihat Kyai Said sedang keluar, belum pulang).
“Koen iki, dikandani kok gak percoyo.” (Kamu itu diberi tahu kok tidak percaya). Timpal Gus Kholid.
Di tengah perdebatan antara santri tadi dengan Gus Kholid, tiba-tiba datang mobil Holden Kyai Said datang dan berhenti di depan Ndalem. Keluarlah dari dalam mobil tadi Kyai Said dan Ibu Nyai.
Melihat pemandangan itu, Gus Kholid dan santri tadi menjadi bingung. “Lho Gus, niku lho Romo Kyai nembe kondur saking tindakan,” (Lho Gus, itu Kyai Said baru saja pulang), tukas santri tadi.
“Lha terus, sing tak delok temon-temonan ndek mbale omah iki maeng sopo?” (Lha terus yang barusan saya lihat sedang bercengkerama di ruang tamu itu siapa?) Sela Gus Kholid.
“Lha geh duko Gus,” Ya tidak tahu, Gus, jawab santri tadi.
Di tengah kebingungan keduanya, maka Gus Kholid langsung menghampiri Kyai Said yang baru keluar dari mobil, seraya berkata: “Abah, wonten…” (Abah tadi ada…)
Belum selesai berkata, Kyai Said langsung menjawab: “Kyai Hamid? Wis.. wis… Abah wis ketemu kok.” Kyai Hamid? Sudah, sudah saya temui kok. Sambil berjalan menuju Ndalem.
Maka makin bingunglah Gus Kholid dan santri tadi mendengar jawaban Kyai Said tersebut. Demi untuk menghilangkan kebingungannya, santri tadi langsung berlari ke masjid memastikan Kyai Hamid masih di depan mihrab. “Tapi kali ini ia tidak berhasil menemukan Kyai Hamid di sana, dicari ke mana-mana pun tidak ketemu.”
Kewafatan KH. Moh. Said
Pernah sewaktu sakitnya, beliau dikunjungi Habib Abdul Qadir Bilfaqih, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Hadits al-Faqihiyah, yang waktu itu diantarkan oleh KH. Suyuti Dahlan. Dalam pertemuan itu, Habib Abdul Qadir sempat menawarkan obat dari Jerman yang sangat istimewa dan mujarab kepada Kyai Said.
Namun, dengan segala kerendahan hati tawaran sang habib tersebut ditolaknya. Lantas Kyai Said menceritakan, jika dirinya pernah bermimpi. Hatinya pecah menjadi dua. Pecahan itu kemudian menjadi tulisan dalam bahasa Arab, yang artinya: “Tidak ada obat untuk penyakit ini, kecuali dengan dzikrullah.”
“Kalau begitu, tidak usah saya beri obat Kyai. Dzikir itu saja diteruskan,” tutur KH. Suyuti menirukan perkataan Habib Abdul Qadir Bilfaqih kepada Kyai Said waktu itu.
KH. Moh. Said wafat pada tanggal 1 Desember 1965/13 Sya’ban 1384 H dalam usia 63 tahun. Jenazahnya dimakamkan di lingkungan Pesantren PPAI Ketapang Kepanjen Malang.
KH. Moh Said dan Ibu Nyai Hj. Fatimah (Wafat 16 Dzulqo’dah 1398 H/ 17 Oktober 1978 M) sampai meninggal memang tidak dikaruniai keturunan. Maka sepeninggal beliau kepemimpinan pesantren diasuh oleh santri beliau KH. Tauhid As’ad Malik Sa’aduddin dibantu oleh santri Kyai Said lainnya seperti KH. Muhammad Suaidi (w. 2008), KH. Umar Faqih (w. 1966), KH. Imam Asfali (w. 1999).
Selanjutnya setelah KH. Tauhid wafat pada 20 Jumadil Akhir 1414 H/4 Desember 1993 kepengasuhan diemban oleh 3 putra-putrinya yakni KH. Makinuddin MAR (w. 2004), KH. Cholidul Azhar (w. 2009) dan Ibu Nyai Malia (w. 2017). Dan setelah wafatnya KH. Cholidul Azhar, PPAI Ketapang pucuk pimpinan pesantren diemban oleh putra beliau KH. Nu’man dan KH. Fauzi, (Suami Ibu Nyai Hj. Malia) sampai sekarang.
Dalam sebuah kesempatan Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Umar bin Thoha bin Hasan bin Yahya pernah berkata bahwa di Malang ada dua tempat yang memancarkan sinar yang luar biasa terang yakni di utara yakni di Singosari tepatnya di Areal Makam Bungkuk (Disana dikebumikan Kyai Chamimuddin, KH. Thohir, KH. Nachrowi Thohir, KH. Masykur, KH. Tolchah Hasan, KH. Badawi Umar dan puluhan ulama lainnya) dan satunya ada di berada di selatan yakni di Areal Makam KH. Said, Ketapang Kepanjen, Malang.
Saat ini PPAI Ketapang terus berkembang dengan tetap mempertahankan tradisi salaf murni. Saat ini telah bermukim tak kurang 900 putra-putri dari berbagai daerah. Selain itu, PPAI Ketapang juga mengadakan Malam Taubatan bersama Jamaah Thariqah Khalwatiyah dari penjuru tanah air yang dilaksanakan setahun dua kali. Yakni pada tanggal 1-3 di bulan Rajab dan Dzulhijjah di tanggal yang sama.
Pada tahun 2018 ini Haul KH. Moh Said akan diselenggarakan pada tanggal 15 Sya’ban 1349 H/1 Mei 2018 yang diisi dengan berbagai kegiatan seperti Semaan Al-Qur’an yang dipimpin oleh KH. Najib Abdul Qodir Munawwir, Cucu Ulama Al-Qur’an KH. Munawwir sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Pendowoharjo, Sewon, Bantul, Jogjakarta dan Pengajian Umum di malam harinya bersama muballigh dari Sidoarjo, Jawa Timur.
Semoga Bermanfaat
Kepanjen, 22 April 2018
Dikutip dari catatan Kang Syaroni As-Samfuriy dengan tambahan berbagai literatur dan pengamatan langsung

No responses yet