Seribu rakaat di setiap sudut kakbah yang dikerjakan Ibrahim as pun menjadi tak berarti dibanding sedekah sesuap makan kepada si lapar —-

*^^^^*

Nabi saw pun tersenyum dan bersumpah dengan jiwanya bahwa Abdullah sahabatnya mencintai Allah dan rasulnya ketika ada sebagian sahabatnya yang mengumpat dan berkata kasar kepadanya karena masih doyan dan belum bisa berhenti minum khamer, sesaat sebelum ia dihukum cambuk usai shalat Jumat.

Lantas bagaimana mengukur kesalehan —-memahami esentilal-spiritualitas tak semudah berpikir biasa, tapi butuh ketenangan jiwa, dada lapang dan hati bening agar bisa menghadirkan keheningan. Nabi saw melakukan khalwat menyendiri di gua Hira agar lahir jiwa muthmainah.

Bukan berati menafikkan ribuan rakaat shalat di setiap sudut kakbah, hanya hendak menanyakan, apa yang sudah kamu dapati dari ibadahmu, shalatmu, puasamu, hajimu atau sedekahmu? Apakah amal salehmu bisa menghadirkan Tuhan? Atau sebatas ritual yang berhenti pada jumlah bacaan dan gerak.

*^^^^*

Di sebuah ayat di sebut bahwa orang beriman, Yahudi, Nasrani dan Sabeen berhak masuk surga jika mereka beriman dan beramal saleh —- Nabi saw juga pernah berkata kepada Abu Dzar ra sahabat karibnya bahwa siapapaun yang mengucap Lailaha illallah bakal masuk surga meski ia mencuri dan berzina.

Menyandingkan esential-spiritualitas dengan syariat bukan perkara mudah—- bahkan keduanya kerap saling menafikkan. Bagaimana mungkin Yahudi, Nasrani dan Sabeen masuk surga bagaimana pula pezina dan pencuri berbekal mengucap kalimat tauhid juga demikian. Untuk memahami yang demikian harus mengenal Allah tabaraka wataala yang maha wenang dan welas dalam satu kesatuan. Bukan wenang hamba untuk memasukan seseorang ke dalam surga atau neraka.

*^^^^*

Mengenal diri adalah kunci mengenal Tuhan —- bukankah Tuhan telah menetapkan sebagain sifat Nya dalam bentuk yang lebih humanis dalam diri makhluk paling sempurna ini—‘sangkan paran’ adalah konsep mengenal diri dan Tuhan dalam satu kesatuan utuh.

Memahami esential-spiritualitas bukan lagi soal logika halal dan haram tapi lebih pada kemampuan memberi makna atas sesuatu, sebagaimana Musa as saat berguru kepada ahli hikmah Khidr as. Jadi Ini bukan soal melegalkan khamer, tapi perlakuan terhadap sahabat yang sedang khilaf —juga bukan menghalalkan mencuri apalagi berzina, tapi lebih pada keagungan kalimat tauhid atas semua amal. Bahwa pemahaman tentang ‘alam kasunyatan dan sangkan paran ing dumadi’ adalah pemahaman tentang yang fana dan yang baqa dalam satu kemasan yang tidak terpisah. Keduanya manunggal dalam kesatuan ihwal.

Yang telah berada dalam pemahaman hakikat ‘kasunyatan’ ini maka baginya tak ada lagi dibatas ruang dan waktu sebab keduanya tak lagi terpisah—shalat adalah mi’radznya orang mu’min—(ashalaatu mi’radz ul mu’minin. Ia telah mengenal dirinya dan mengenal Rabbnya lewat sifat sifat ilahiah yang ada dalam dirinya. Yaitu tentang ‘bait-Allah’ yang kokoh berdiri dalam hatinya.

*^^^^*

Konsep ‘subha-ni’ maha suci aku— tidak bisa dipahami leterlyk apalagi dengan nalar cekak — aku memuji-Nya seperti Dia memujiku. Adalah bagian-bagian spiritualitas yang hanya bisa dicandra lewat pengalaman batin yang sangat personal. Bukankah menjadi hak setiap hamba untuk mengenal Rabbnya sebagai mana prasangka nya. Maka Allah pun mengingatkan dalam sebuah hadits Qudsi yang populair : ‘Aku sesuai prasangka hamba-Ku maka jangan sekali-sekali kalian mati sebelum berprasangka baik kepada-Ku’. Wallahu taala a’lam

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *