Sebelum seseorang bersikap tawadhu’ (rendah hati), haruslah ia berpikir Tawadhu lebih dulu. Karena segala sikap dan tindakan seseorang itu dipengruhi oleh pola pikirnya. Maka orang tidak bisa bersikap tawadhu’ jika pola pikirnya sudah sombong, merasa lebih baik, lebih taat, lebih benar daripada orang lain.
Syekh Abdul Qodir al-Jaelani mengajarkan jika kita melihat anak kecil, jangan meremehkannya dengan menganggapnya masih ingusan, atau bau kencur. Tetapi berpikirlah bahwa anak itu masih kecil, berarti dosanya masih sedikit daripada kita bahkan bisa jadi belum ditulis sama sekali kesalahannya. Beda jauh dengan orang dewasa yang lebih banyak dosa dan kesalahannya bahkan lebih parah lagi dampak perbuatannya bagi lingkungan sekitarnya.
Begitu pula saat melihat orang sepuh (tua bangka), janganlah kita melecehkannya karena sudah semakin lemah, lambat responnya, bahkan cenderung bertingkah seperti anak kecil. Seharusnya kita berpikir bahwa orang sepuh itu tentu sudah banyak ibadah dan pengalamannya daripada kita, lebih bijak dan hati-hati dalam berbuat. Sementara kita yang lebih muda tentu masih kalah banyak ibadah dan pahala kebaikan lainnya, kalah jauh pula pengalaman hidupnya sehingga masih harus banyak belajar kepada mereka tentang mengatasi dan menyikapi problematika kehidupan.
Jika kita melihat orang bodoh juga jangan lantas jumawa, merendahkan dan menghinakannya; melainkan kita mesti berpikir bahwa orang tersebut melakukan kesalahan-kesalahan karena kebodohannya, karenanya pastilah ALLAH akan mengampuninya. Sedangkan orang yang pintar dengan penuh kesengajaan berbuat dosa, padahal ia mengetahui bahwa perbuatan itu dilarang. Maka bisa saja sikap itu memacing murkaNya. Berarti kondisinya lebih buruk dari orang bodoh tadi.
Terhadap orang kafir pun kita tidak boleh memusuhinya, menjauhi atau membencinya, menghujat atau menyakitinya baik dengan sikap, ucapan maupun perbuatan. Semestinya kita berpikir bahwa orang kafir itu belum tentu jadi orang celaka. Bisa saja di kemudian hari bakal masuk Islam lalu berubah menjadi Muslim yang paling taat dan teguh imannya melebihi kita, sehingga akhir hidupnya husnul khotimah. Sementara kita yang sekarang beriman, belum tentu akhir hidup kita dijamin husnul khatimah bila kita tidak dibimbing terus oleh taufiq dan hidayah dari Sang Pencipta.

No responses yet