Ketika saya masih berada dalam lingkungan salah satu institusi pendidikan di Jakarta, saya pernah merasakan masa dimana Budi pekerti seakan hilang dari naluri penglihatan.
Pada saat itu, pemikiran saya yang tidak begitu menghiraukan sebab dari krisis akhlak tersebut. Jangankan peduli, terlintas dibenak pun tidak untuk mencari jalan keluar bagaimana memperbaiki keadaan. Selain saya yang belum begitu baik, ditambah keadaan alam bawah sadar saya yang terlalu over memikirkan diri sendiri pada saat itu.
Setelah beberapa waktu kemudian, saya merasa ada yang janggal dalam fenomena ini. Ditengah lingkungan yang begitu agamis dihimpit dengan banyaknya kiai, kok bisa terjadi krisis akhlak?.
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita bisa mengambil pelajaran dari orang yang sakit. Selain dokter yang memberikan pantangan dan obat untuk memulihkan penyakit, disisi lain orang yang sakit harus memiliki andil dalam melaksanakan nasihat dokter. Awalnya memang tidak terbiasa untuk menjauhi pantangan, tapi itulah gunanya pelatihan untuk menempuh jalan yang lebih baik.
Sama hal nya dengan fenomena yang pertama, jika mereka tidak mengaplikasikan apa yang disampaikan oleh para kiai, maka hasilnya pun akan nihil. Tidak ada perubahan.
Secara keseluruhan, ada 2 hal yang menjadi jalan dalam memperbaiki perilaku. Sebut saja jalan khusus, dan jalan umum. Jalan khusus merupakan jalan yang izin tempuhnya hanya diberikan oleh orang-orang pilihan Tuhan. Orang-orang yang diberikan hati yang bersih, dan sifat yang baik sejak lahir. Sebut saja para nabi, dan para kekasihnya.
Adapun jalan umum, jalan inilah yang harus ditempuh orang-orang biasa seperti kita. Jalan ini biasa dikenal dengan “Riyadhah” atau diartikan sebagai pelatihan. Misalnya orang yang digerogoti oleh penyakit pelit dan ingin menjadi dermawan, dia harus menggembleng dirinya untuk memberikan sesuatu, hingga suatu saat penyakit dia pun akan terkikis oleh waktu.
Selain dua hal ini, ada jalan tikus yang mempermudah perjalanan dalam melatih diri; yaitu lingkungan. Jika dalam pelatihan menjadi orang baik, dan dilengkapi dengan lingkungan yang memadai, maka hasilnya pun akan lebih cepat. Lain halnya jika disekitar lingkungan tidak mendukung, justru ini akan menjadi jalan yang berlubang ditambah banyaknya polisi yang siap menilang.
Jika jalan umum sudah ditempuh, ditambah kita juga sudah mengetahui jalan tikus, namun rasanya tujuan masih terasa jauh, masih ada beberapa jalan pintas yang akan membantu. Salah satu pemuka sufi pada zamannya; Yahya bin Mu’adz ar-Razi berkata: “gemblenglah diri kalian dengan tajamnya latihan”.
Beliau menyebutkan ada 4 jalan pintas yang akan membantu kita sampai ketujuan: “mempersedikit makan, mengurangi tidur, bebicara secukupnya, dan menahan rintangan dari semua saingan”.
Mempersedikit makan akan memberikan dampak yang bagus. Selain bekal tidak cepat habis, dia akan melatih jiwa agar tidak terlalu banyak berkeinginan.
Adapun mengurangi tidur, dia akan menjadikan waktu perjalanan lebih banyak dari pada istirahat. Ditambah efeknya akan menjernihkan keinginan kita, setidaknya kita lebih peka mana yang baik dan mana yang buruk
Begitu juga berbicara seperlunya, kita akan merasa aman dari melukai orang lain. Setidaknya itu akan mengurangi tantangan dan rintangan dalam perjalanan. Dan yang terakhir adalah menahan rintangan, apapun yang terjadi tetaplah berjalan.
Jika perjalananmu makin berat, ketahuilah! Kamu sudah dekat dengan dengan aroma kemenangan.
Imam Al-Ghazali menerangkan ada 4 hal yang harus dimiliki dalam kesempurnaan perilaku: “hikmah, keberanian, menjaga diri, dan keseimbangan”.
Hikmah memiliki arti kamu harus memahami pilihan antara yang baik dan tidak. Keseimbangan berarti kamu dapat mengontrol amarah dan syahwat. Keberanian berarti kamu mengerti kapan harus menggunakan amarahmu. Menjaga diri berarti kamu tau cara mendidik akal.
Meskipun dalam perjalanan terasa berat, namun yang perlu diingat adalah tujuan kita dalam melatih diri adalah kehidupan yang penuh dengan ketenangan. Walaupun kesempurnaan perilaku hanya dimiliki oleh Nabi Muhammad Saw., setidaknya kita dapat meniru beberapa dari perilaku beliau sebagai bukti cinta kita.

No responses yet