_(Dialog Kyai Kampung Dengan Santrinya)_

Santri : “Kyai… dalam munajat mana yang khidmat di Masjid atau kuburan keramat

Kyai : Ini perlu kebeningan hati dan kejernihan pikiran untuk memahaminya

Santri : Maksudnya….

Kyai : Masjid afdal sebagai ‘rumah Tuhan’ tapi untuk kasus tertentu banyak masjid yang kehilangan sakralitasnya.

Santri : Kalau kuburan…

Kyai  : justru tidak sedikit sakralitas kuburan lahir menempati posisi masjid yang semakin profan.

Santri : semakin menarik kyai…. monggo dilanjut..

Kyai : tidak sedikit dari masjid yang saat ini berubah menjadi tempat menghujat mereka yang berbeda. Bahkan masjid jadi ajang untuk menggolongkan orang lain menjadi kafir, munafiq, tidak boleh dijadiin tempat sholat jenazah dll. Padahal argument mereka hanya karena beda pilihan, beda politik, beda kepentingan. Mereka sudah melebihi kapasitas Rosul dalam memikah siapa ahli surga dan siapa ahli neraka…

Yang mereka bikin bid’ah dlalalah kontemporer dengan melebeli masjid sunnah vs masjid tidak sunnah… Rosul bisa sedih dengan kelakuan mereka.. 

Santri : kalau kuburan….

Kyai : tahu gak… mereka yang ziarah itu tidak pernah bertemu dgn tokoh yang diziarahi. Tidak pernah bertatap muka. Hanya satu yang menyambungkan batin mereka yaitu CINTA karena ALLAH. Tokoh dimakam tersebut telah berjuang memperkenalkan agama, kemanusiaan/humanisme, egaliterianisme kepada kita. Semua tanpa pamrih hanya karena cintanya pada masa depan umat dan kehidupannya. Wajar dan sudah semestinya kita membalasnya dengan doa, ziarah, hadiah fatihah dan kalimat-kalimat thoyyib lainnya sebagai terima kasih serta kecintaan kita kepadanya. Titik Simpul CINTA inilah yang menyatukan kita. Cinta ini terus tumbuh berkembang dari generasi ke generasi. Dalam hadits Bukhori-Muslim disebutkan bahwa Tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Alloh dibawah naungan-Nya pada hari tiada naungan lain selain naungan-Nya. Mereka ‘salah satunya’ adalah;

Dua orang yang saling mencintai karena Allah bertemu dan berpisah karena Allah,

Dalam hadits riwayat Imam Turmudzi, bahwa Rosulullah bersabda : Siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia maka ia (sama saja) tidak berterima kasih terhadap Allah.

Santri : kenapa kok ramenya dihari raya kyai…

Kyai : ziarah untuk orang yang kita cintai itu waktunya kapan saja. Dan ini sunnah Rosul. Junjungan kita bersabda : “Kuntu nahaitukum ‘an ziyaratil qubri fazuruha”!

Tapi seandainya moment iedul fitri atau moment moment lain kita jadikan pijakan juga tidak melanggar sunnah Rosul. Bahkan biar ente tahu ya, bahwa Rosul dan para sahabat itu rutin ziarah kubur syuhada’ Uhud setiap bulan Syawal (pasca Ied). Dan ini dilanjutkan oleh Abu Bakar, Umar bin Khottob, Utsman bin Affan radliyyallahu anhum. 

Muhammad bin Ibrahim, dia berkata;

Nabi Saw senantiasa mendatangi kuburan para syuhada Uhud setiap tahun (dalam beberapa riwayat ditegaskan setiap Syawal). Kemudian beliau berkata; ‘Assalamu ‘alaikum bimaa shobartum fani’ma ‘uqbaddaar.’ Begitu juga dengan Abu Bakar, Umar dan Ustman.

Santri : tapi komunitas SAWAH (Salafi-Wahabi) bilangnya kita ini kuburiyyun atau penyembah kuburan kyai…

Kyai : orang-orang peko bin bahlul kamu dengerin. Mereka modal jidat hitam dan celana cingkrang saja. Paham agamanya leterlek, kaku dan dangkal. Itu memang kekhasan kaum bumi datar. Baru hafal hadits tentang bid’ah saja sudah bergaya mujtahid. Baru tahu sebagiab bab fiqih saja sudah menyalahkan ulama yang menguasai fiqih dan ushul fiqihnya. Baru tahu definisi hadits dhaif saja sudah bergaya melebihi ulama yang paham betul hadits plus mustholah haditsnya. Sanadnya batu nyambung ke google dan yahoo saja sudah menyalahkan ulama yang sanad keilmuannya nyambung, musalsal sampai Rosul. Kalau saja mereka mau lebih cerdas, lebih inklusif, mau menggunakan ilmu-ilmu yang sudah diajarkan salafuna-sholeh dalam istinbat hukum, mungkin peko berjemaah mereka bisa diminimalisir.

Santri : wah.. kalau begitu ijin mau ziarah kubur kyai…

Kyai : Monggo…. dan ingat, kuburan keramat bisa lebih hidup dan menghidupkan hatimu daripada masjid yang sudah kehilangan ruh-nya. Yang hanya mengejar kemegahan fisik tapi kering sakralitas…

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *