Oleh: Neli Ni’mawati (mahasiswi Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang)
Ajaran agama islam di indonesia dalam lintasan sejarahnya mengalami perkembangan yang cukup unik. Di jawa pergantian pemerintahan sangat berpengaruh terhadap pandanagn sebagai masyarakat jawa, dari pandangan bercorak Hidu menjadi pandangan bercorak islam. Namun pandangna tersebut tidak terjadi secara utuh dan menyeluruh. Orang yang berpandangan sinkertis menganggap bahwa semua agama adalah baik dan benar.
Pandangan orang-orang sinkertis ini menunjang petumbuhan kepustakaan islam dijawa, khususnya pertumbuhan kepustakaan islam kejawen. Bahwa di dalam masyarakat islam jawa berkembang 2 jenis kepustakaan islam. Yakni kepustakaan santri dan kepustakaan islam kejawen. Kepustakaan tersebut berpusan di kraton atau istana (solo dan yogyakarta).
Tempat penyimpanan karya sastra klasik yang berupa manuskrip berada di museum widyabudi yogyakarta. Naskah-naskah itu sudah banyak yang rusak termakan usia namun ada juga yang masih dapat terbaca jelas yaitu serat sattin. Naskah serat satti yang tersimpan di museum yogyakarta merupakan salah satu peninggalan bersejarah pujangga jawa Islam.
Serat sittin mengajarkan berbagai aspek ajaran islam, seperti akidah, fiqih, dan juga tasawuf. Ajaran yang menonjol dalam ajaran ini adalah ajaran fiqih dan aqidah. Akidah yang dikemas dalam adat dan budaya jawa. Serat sittin ini murni dan tidak menyimpang dari Al Quran. Nama sittin berasal dari bahasa Arab “sittun” yang berarti 60 (enampuluh). Artinya naskah tersebut memiliki arti 60 masalah keagamaan. Judul kitab tersebut adalah Sittin. Masalah, Kitab tersebut adalah kitab fiqih yang bermadzhab syafi’i. Karangan Syekh Abut Abbas Ahmad Az-Zahid. Kitab tersebut diberi syarah oleh Ahmad Syihabbudin bin Hamzah ar-ramli. Kitab sittin masalah terrnasuk kitab kuning yang mengajarkan fikihatau syariat islam dan juga akidah, kondisi fisik naskah serat sittin cukup baik, warna kertas sudah menguning kehitaman karena termakan usia, jenis kertasnya daluang atau dluwang, teks ditulis dengan tinta hitam, halaman naskah agak kumuh, ada cap air (watermark), dan goresan tulisan agak tipis. Teks ditulis dengan kertas Eropa, dengan cap bergambar singa bermahkota” ,e,bawa pedang menghadap kesamping dan seseorang membawa tongkat berujung topi. Huruf dan bahasanya adalah bahasa jawa. Teks scara keseluruhan masih bisa dibaca dengan jelas.
Ajaran Islam dalam naskah serat sittin terutarna dalam membahas mengenai fik.ih. llmu fikih yang menjadi dasar dan pokok dalam beribadah umat islam, ajaran fik.ih memebrikan bimbingan tata cara beribadah bagi umat islam kepada Tuhan disajikan dalam bentuk dialog, dengan menampilkan nama tokoh lold (jawa), yairu syekh Mejenun dan Ni Liyep (istrinya), sebagaimana naskah yang dijelaskan dalam serat halaman 3 sebagai berikut:
Syekh majenun angandika mring kang garwa ngajia yayi pekih nora sah salaatipun yen sira nora wikan Ni Liyep alon denira umatur kawula anuwun berkat tuwan wulang ngelmifikih seh majenun angandika satuhune wong akil balek wajib wikan ngelmu sarak iku andikaning pandhating ingkang sinung rahmat dening Hyang Agung.
Artinya: syekh majenun berkata kepada istrinya, : Dinda, belajarlah ilmu Fikih, tidak sah salatjika kamu tidak tahu aturan salat.” i Liyep berkata pelan, “saya mohon sudilah Tuan mengajarkan ilmu fikih.” Syekh majenun berkata”, sebenarnya orang yang sudah ak.il balik wajib mengerti mengenai ilmu sarak. Menurut pendapat ulama yang mendapat rahmat Allah.
Didalam mernahami tata cara beribadah dalam islam, seseorang hendaknya memepelajari ilmu fikih. Ilmu ini wajib diketahui oleh umat muslim, karena menyangkut seluk beluk dan semua yang berkenaan dengan ibadah dalam agama islam. Sebagai contohnya adalah pelaksanaan ibadah solat. Orang yang tidak mengetahui tentang tata cara bersuci, menghilangkan hadas kecil dan besar, maka sholatnya tidak sah, karena suci dari hadas kecil dan besar merupakan syarat seseorang melaksanakan sholat. Hal ini dijelaskan dalam naskah halaman 4 sebagai berikut ini:
Pan sing asapa asembayang tingkahing wulu tan unig tingkahing salat tan wikan nora sah so/ate wong puniki nadyan prayoga iku tingkahing wulu bisa lawan tingkahing so/at tan sah iku den wikan lampahing sarak wajibing adus tan unig .
Artinya: barangsiapa yang melaksanakan solat maka ketahuilah hal hal yang berkaitan dengan wudhu. Tata cara sholat juga harus diperhatikan, sholatnya tidak sah meskipun baik namun tata cara wudhu tidak diperhatikan juga aturan-aturan syara’ mandi wajib juga harus dilakukan.

No responses yet