Ini tentang salah satu sastrawan Mesir yg saya kagumi. Bukan karena sama-sama memiliki nama Ahmad . Namun, lebih kepada keindahan bait-bait puisi yg diciptakannya. Dan tentang Indonesia yang begitu dicintainya.
Seperti ini ceritanya…….
Ali Ahmad Bakatsir (1910-1969) adalah sastrawan Arab kelahiran Surabaya yang sangat mencintai tanah kelahirannya. Walaupun sejak 1934 ia mukim di Cairo, kemudian 1951 resmi menjadi warga negara Mesir, kecintaannya pada Indonesia tidak luntur, bahkan semakin tak terbendung. Kecintaan ini dituangkan dalam beberapa beberapa puisi, novel dan naskah drama yang ia tulis dan dipentaskan.
Diantara karya spektakuler yang menggambarkan “kecintaan” Ali Ahmad Bakatsir terhadap Indonesia adalah naska drama yang berjudul : عودة الفردوس ( Kembalinya Surga Firdaus) yang menceritakan babak puncak perjuangan menuju proklamasi Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945.
Setidaknya ada empat catatan penting mengenali Ali Ahmad Bakatsir. Pertama, Ali Ahmad Bakatsir sebagai sastrawan telah berjasa memperkenalkan nama Indonesia bagi politisi, akademi dan rakyat awam dunia Arab dan Afrika. Sebab literatur berbahasa Arab sampai awal abad XX tidak ada yang menyebut Indonesia. Para ulama dan akademisi hanya mengenal nama Jawa.
Kedua, walaupun Ali Ahmad Bakatsir hanya 10 tahun sejak kelahirannya tinggal di Surabaya, tapi kecintaannya pada Indonesia tempat ia lahir sangat menggelora melebihi WNI asli yang sepanjang tinggal di Indonesia.
Ketiga, pengetahuannya tentang tradisi Jawa sangat mendalam. Ia mempraktikkan tradisi itu sekaligus menyebarkannya melalui karya-karyanya. Kedalamannya terhadap tradisi Jawa itu terikat dengan sanak-saudaranya yang sampai saat ini tinggal di Surabaya, Jakarta, Solo dan Jember.
Keempat, selama tinggal tinggal di Mesir antara 1931 sampai wafat pada 1969 ia aktif berhubungan dengan para pemuda dan mahasiswa Indonesia yang belajar di al-Azhar guna berjuang dalam gerak diplomasi agar Mesir segera mengakui kemerdekaan Indonesia.
Gerak diplomasi ini menghasilkan Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Di sinilah Ali Ahmad Bakatsir ikut berjasa. Jiwa nasionalisme dan kecintaan Ali Ahmad Bakatsir terhadap Indonesia memiliki keunggulan dibanding kaum nasionalis yang lain.
Saya kutipkan beberapa Syair yg diucapkan oleh tokoh Sulaiman dalam drama Audatul Firdaus karya penyair Ali Ahmad Bakatsir, yang mengisahkan perjalanan kemerdekaan Indonesia.
الحُبُّ وَالْحُرِّيَّةُ
مَتَى يَؤُوبُ الطَّيرْ * يَوْمًا إلى وَكْرِهْ
فلا يَجُور الغَيْرْ * فِيهِ عَلَى أمرِهْ؟
بَعْدَ السُّرَى والأينْ * هلْ يَصِلُ الرّكْبُ؟
وهَلْ تَقَرُّ العَينْ * ويَفْرَحُ القَلْبُ؟
الحبُّ في الأكْبَادْ * لكن تَرَكْنَاهُ
فَلْيَحْطِمِ الأصْفَادْ * مَنْ يَتَمَنَّاهُ
يا لَذَّةُ الحُبِّ * إن شيبَ بالذُّلِ؟
الحُبُّ في قَلْبِي * والقيدُ في رِجْلِي؟
زَيْنُ اذْكُرِي يا زَيْنْ * هَيمانُ يَهْوَاكِ
ضَرَّسهُ بالبَيْنْ * تحريرُ مَثْوَاكِ
Cinta dan kemerdekaan
Kala suatu hari burung itu kembali.
Pada sarangnya sendiri
Maka tak seorangpun dapat berkuasa
Menentang segala perintahnya
Setelah perjalanan malam pada suatu masa
Apakah kabilah itu akan sampai?
Dapatkah mata berbinar bahagia
Dan hati riang sentosa?
Cinta bersemayam dalam hati
Namun kita tinggalkan ia sendiri
Maka hancurkan saja belenggu itu. Bagi siapa saja yang mendambakannya
Apa nikmatnya cinta, jika masa tua berakhir hina?
Cinta di hati, sedangkan belenggu di kaki?
Zainah, ingatlah wahai Zainah, cinta buta menginginkanmu
menggertaknya dengan perpecahan, pembebasan tanah air kediaman.

No responses yet