Scolds Bridle adalah semacam topeng terbuat dari besi untuk menutup mulut dan pendengaran tukang gosip. Penyebar isu, penyebar berita hoax dan mulut busuk atau cangkem elek. 

*^^^^*

Pada masa Eropa Kuno. Hukuman scold’s bridle diberikan untuk memotong sebaran hoax. Lisan tanpa adab. Orang-orang yang ngomong dulu baru berpikir. Orang-orang ini memang menyebalkan dan kerap bicara tanpa pikir panjang. 

Negara sering dibuat sibuk oleh berita hoax, isu dan kabar burung bahkan tidak jarang menjadi sebab banyak selisih yang berakhir perang. 

*^^^^*

Akan halnya Ali Ngabalin. Ia sangat dibutuhkan dikomunitas ketika cangkem elek menjadi tradisi yang dilembagakan — sebagai bumper penahan rumor dan berita buruk lainnya. Ini juga kelaziman meski tak cukup etis. Tapi apa perlunya etika dikalangan cangkem elek. 

Ali Ngabalin salah satunya. Saya tak pernah nanggapi serius orang ini. ‘Gak Jowo’ saya menyebutnya atau ‘kurang sedikit’. Ia adalah aktor di komunitas cangkem elek. Jadi terlalu mahal jika marwah Persyarikatan dipertaruhkan. 

Sayangnya banyak yang kena jebak termasuk memuji setinggi langit, pada Rocky Gerung. Ali Ngabalin dan Rocky Gerung saya pikir keduanya punya peran sama pada komunitas yang berbeda. Sebab kekuasaan memang tak bisa mengenyangkan. 

Tapi Hoax seperti candu, membuat banyak orang ketagihan dan sulit dibendung. Scolds Bridle adalah solusi ampuh. Di kerangkeng mulut dan pendengarannya agar tak bisa menyebar gosip. Dibuat bungkam dan tuli. Itu cara efisien mem-bridle mulut busuk.

*^^^^*

Di Hastinapura, banyak pangeran, ksatria dan raja mati sebab hoax. Karena gosip pula, Lakshmana sepupu Rama harus membujang seumur hidup. Bharatayudha pecah karena cengkem elek Sengkuni yang terus sebar gosip, bermulut busuk kerap membuat situasi politik memanas. Tiang gantung guiletone dibuat untuk lawan politik Maria Antoniette yang juga suka ber-gosip. 

Ibunda Aisyah ra harus dipulangkan sementara ke rumah orang tuanya karena gosip selingkuh yang disebar Abdullah bin Salul. Makar para pembrontak yang dipimpin Muhammad bin Abu Bakar membuat khalifah Ustman bin Affan terkapar karena gosip tentang isu cincin stempel. Sayidina Ali ditikam pada shalat subuh oleh Ibnu Muljam juga karena gosip. Pertengkaran Sunni dan Syiah meruncing juga karena gosip dan cangkem elek.

Saking dahsyatnya, gosip menempati urutan ke dua dosa terbesar setelah musyrik lebih berat ketimbang membunuh, zina dan mencuri. Sedang pelaku, produsen, penyebar dan penikmat gosip dikelompokkan sebagai kawanan kanibal pemakan bangkai. Mereka bertolong-tolongan dalam dosa dan permusuhan. 

*^^^*

Scold’s Bridle tak bisa hilangkan mulut busuk tapi mungkin hanya cukup untuk mencegah mulut dan pendengaran menebar hoax, tapi siapa bisa kendalikan mental dan niat cangkem elek — ‘berkatalah yang baik, kalau tak bisa maka diamlah’ pesan nabi saw, tapi pesan ini tak cukup mempan pada kawanan yang menjadikan cangkem elek sebagai tradisi — sebab ini memang soal ketika hoax telah menjadi industri dan perut menguasai pikiran, Naudzubillah ..

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *