Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Alquran surat al-Baqarah ayat 57

وَمَا ظَلَمُونَا وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ  

“Dan tidaklah mereka menganiaya Kami, akan tetapi merekalah yg menganiaya diri mereka sendiri”.

Mendholimi atau berbuat aniaya kepada sesama manusia juga merupakan perbuatan yg dibenci Allah subhanahu wa ta’ala. Perbuatan tsb, seperti menyinggung kehormatan orang lain, menyakiti tubuh atau hati orang lain, hingga mengambil harta orang tanpa alasan yg benar, adalah perilaku yg dimurkai Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala, menyebut akan mengambil amalan orang yg berbuat dholim dan diberikan kepada orang yg didholimi. Bahkan, akan menimpakan dosa orang yg didholimi, kepada orang yg mendholimi. Dalam hadits riwayat Abu Hurairah (Abdurrahman bin Shakhr Al-Azdi) Radhiyallahu Anhu (603 – 678 M, Jannatul Baqi’ Madinah), Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

عن أَبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، عن النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: مَنْ كَانتْ عِنْدَه مَظْلمَةٌ لأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ مِنْ شَيْءٍ فَلْيتَحَلَّلْه ِمِنْه الْيَوْمَ قَبْلَ أَلَّا يكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ، إنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمتِهِ، وإنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سيِّئَاتِ صاحِبِهِ، فَحُمِلَ عَلَيْهِ 

“Barangsiapa yg berbuat zalim kepada saudaranya, baik terhadap kehormatannya maupun sesuatu yg lainnya, maka hendaklah ia meminta kehalalannya darinya hari ini juga sebelum dinar dan dirham tidak lagi ada. Jika ia punya amal salih, maka amalannya itu akan diambil sesuai dgn kadar kezaliman yang dilakukannya. Dan jika ia tidak punya kebaikan, maka keburukan orang yg ia zalimi itu dibebankan kepadanya.” (HR Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari atau Imam Bukhari rahimahullah, 20 Juli 810 M – 1 September 870 M, Uzbekistan)

Bahkan, para nabi meneladankan berdoa dijauhkan dari perilaku dholim orang2 yg dholim. Sebagaimana doa Nabi Musa alaihis salam (wafat sejak 3.400 tahun yg lalu, yaitu sekitar tahun 1407 SM) meminta kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk menyelamatkannya dari Raja Firaun (Minephtah atau Merneptah putra Ramses II, yg memerintah pada 1232 SM-1224 SM) la’natullah : 

رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ 

“Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang2 yg zalim.” (QS al-Qashash: 21). 

Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wasallam, juga meminta pertolongan selamat dari orang2 yg zalim. Dari Jabir bin Abdullah bin Amr bin Haram al-Anshari radliyallahu anhu (607 – 697 M, Madinah),  Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berdoa:

 اَللَّهُمَ أَصْلِحْ لِي سَمْعِي وَبَصَرِي وَاجْعَلْهُمَا الْوَارِثَيْنِ مِنِّي وَانْصُرْنِي عَلَى مَنْ ظَلَمَنِي وَأَرِنِي مِنْهُ ثَأْرِي  

“Ya Allah, perbaikilah pendengaran saya dan penglihatan saya, dan jadikanlah keduanya yg mewarisi diri saya dan tolonglah saya terhadap orang yg menganiaya saya, dan perlihatkan pembalasan saya kepadanya.” ( HR Imam Al-Bukhari rahimahullah dalam Al-Adab Al-Mufrad). 

Kemudian disebutkan, jarang Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berdiri dari majelis, kecuali beliau berdoa dgn doa2 ini untuk para sahabatnya :

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنْ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا وَلَا تَجْعَلْ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا

“Ya Allah, curahkanlah kepada kepada kami rasa takut kepada-Mu yg menghalangi kami dari bermaksiat kepada-Mu, dan ketaatan kepada-Mu yg mengantarkan kami kepada Surga-Mu, dan curahkanlah keyakinan yg meringankan musibah di dunia. Berilah kenikmatan kami dgn pendengaran kami, penglihatan kami, serta kekuatan kami selama kami hidup, dan jadikan itu sbg warisan dari kami, dan jadikan pembalasan atas orang yg menzalimi kami, dan tolonglah kami melawan orang2 yg memusuhi kami, dan janganlah Engkau jadikan musibah kami pada agama kami, dan jangan Engkau jadikan dunia sbg impian kami terbesar, serta pengetahuan kami yg tertinggi, serta jangan engkau kuasakan atas kami orang2 yg tidak menyayangi kami.” (HR  Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah at-Tirmidzi atau Imam At-Tirmidzi rahimahullah, 824 – 892 M, Termez, Uzbekistan)

Wallahu a’lam 

Al-Faqir Ahmad Zaini Alawi Khodim Jama’ah Sarinyala Kabupaten Gresik

CHANNEL YOUTUBE SARINYALA

https://youtube.com/channel/UC5jCIZMsF9utJpRVjXRiFlg

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *