Seorang jama’ah mendatangi Paijo dan langsung bertanya : “Jo katanya agama (Islam) itu rahmatan lil alamiin tetapi kenapa sejak dahulu ummat manusia kehidupannya selalu diwarnai peperangan dan pertikaian ?
Paijo : “Sejak awal akan diciptakan, manusia sudah diprediksi oleh para malaikat akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah di dunia. Malah iblis yang iri sama manusia bertekad akan semakin menjerumuskan manusia dalam kubangan kedholimannya sendiri.”
Jama’ah : “Lha terus ngapain kita harus susah-susah hidup di dunia dengan agama?”
Paijo : “Lha beragama itu kan perintah Allah kang. Tuhan tidak perlu punya alasan yang harus bisa dipahami Iblis, Malaikat dan ataupun manusia itu sendiri. Bayangkan apa yang terjadi dengan dunia jika tanpa agama. Mungkin akan semakin cepat kerusakannya”
Jama’ah : “Tapi kan harus tetap rasional Jo, masak tidak ada alasan yang lebih rasional. Manusia di kasih akal sama Allah supaya bisa berpikir.”
Paijo : “Betul, tapi selain dianugerahi akal manusia juga dikasih hati dan perasaan, serta nafsu, yang jauh lebih peka dibandingkan akal kang. Berpikir (reflektif) memang menjadi ciri pembeda manusia dan mahluk lainnya, yang dilhamkan pada manusia. Dunia ini adalah tempat “bermain” yang fana, lihat saja semua upaya rasional manusia ujungnya akhirnya juga kerusakan. Itulah semua nabi dilarang terpukau oleh pencapaian duniawi. Karena tujuan mereka adalah membawa kembali manusia ke sorga dengan iman, Islam dan Ihsan. Agama lebih menuntut manusia berbuat baik bukan semata dengan pertimbangan rasional, tetapi lebih dari itu. Yaitu sebagai konsekwensi dari iman, Islam dan Ihsan. Iman adalah puncak rasionalitas atau keyakinan (yang justru sering dianggap tidak rasional), Islam adalah puncak kepasrahan, dan Ihsan adalah puncak penyatuan dengan semesta. Ketiganya tidak dianggap rasional oleh para pendukung modernitas yang konon dibanggakan sebagai rasional. Kata sampeyan Barat lebih hebat, nyatanya mereka yang melakukan kolonialisasi, di seluruh dunia. Kang apa yang sering kita anggap rasional kadang menjerumuskan kepada irasionalitas. Sebaliknya apa yang terlihat irasional malah berujung pada rasionalitas. Begitulah kadang kepercayaan agama sering ditampilkan di dunia ini. Bukankah nalar Qobil terlihat “lebih rasional” dibandingkan dengan nalar Tuhan yang menginginkan persilangan dalam perkawinan mereka? Intinya dalam beragama itu adalah kepatuhan pada titah Tuhan. Bukan malah melakukan anarkhi kepatuhan terhadap esensi perintah Allah.” #SeriPaijo

No responses yet