Sudah umum diketahui, bahkan sering digembar-gemborkan sebuah pertanyaan; “Kenapa ya Orang Islam yang berderma, ia dibalas Surga. Sementara Orang Kafir yang juga berderma, tetapi ia tidak masuk Surga?” 

Essensinya, pertanyaan tersebut berspirit mendobrak dan mendekonstruksi identitas/inti ajaran Iman-Islam tentang balasan Surga. Walaupun, jamak diketahui juga, bahwa setiap agama itu mempunyai esensi pokok ajaran yang khas, yang menjadi identitasnya, sehingga dianggap suci dan untoucheable. Namun, tetap saja pertanyaan di atas diputar berulang-ulang, seolah-olah kebaikan kemanusiaan berada di atas segalanya dan patut menginjak-injak identitas ajaran Agama. Padahal, tidak demikian, dan tidak perlu dihadap-hadapkan.

Nah, untuk memahami persoalan dan berupaya menjawabnya, seyogyanya seseorang membaca dan memaknai kisah yang diriwayatkan oleh Imam Al Qurtubi dalam kitab tafsirnya Ahkamul Qur’an;

إنَّ أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيقَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ يُطْعِمُ مَسَاكِينَ الْمُسْلِمِينَ فَلَقِيَهُ أَبُو جَهْلٍ فَقَالَ: يَا أَبَا بَكْرٍ أَتَزْعُمُ أَنَّ اللَّهَ قَادِرٌ عَلَى إِطْعَامِ هَؤُلَاءِ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَمَا بَالُهُ لَمْ يُطْعِمْهُمْ؟ قَالَ: ابْتَلَى قَوْمًا بِالْفَقْرِ، وَقَوْمًا بِالْغِنَى، وَأَمَرَ الْفُقَرَاءَ بِالصَّبْرِ، وامر الْأَغْنِيَاءَ بِالْإِعْطَاءِ. فَقَالَ: وَاللَّهِ يَا أَبَا بَكْرٍ مَا أَنْتَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ أَتَزْعُمُ أَنَّ اللَّهَ قَادِرٌ عَلَى إِطْعَامِ هَؤُلَاءِ وَهُوَ لَا يُطْعِمُهُمْ ثُمَّ تُطْعِمُهُمْ أَنْتَ؟ فَنَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ، وَنَزَلَ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿فَأَمَّا مَنْ أَعْطى وَاتَّقى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنى ﴾ [الليل: ٦ – ٥] الْآيَاتِ.

Suatu ketika Abu Bakar As Shiddiq sedang berbagi makanan kepada orang-orang miskin. Mendapati hal demikian, Abu Jahal pun lantas mendebat Abu Bakar.

Abu Jahal; “Wahai Abu Bakar, apakah kamu menyakini bahwasannya Allah itu berkuasa atas memberi makan orang-orang miskin itu?”

“Ya, tentu.” Jawab Abu Bakar.

Abu Jahal mendebat; “Kalo, Dia berkuasa, kenapa kok Dia gak langsung saja memberi makanan kepada mereka?”

“Allah menguji suatu Kaum dengan Kefakiran, dan menguji Kaum lainnya dengan Kekayaan. Lalu, Dia memerintahkan orang-orang fakir untuk bersabar, dan juga memerintahkan orang-orang kaya untuk memberi.” Jawab Abu Bakar.

Lantas Abu Jahal membully dengan mengatakan, “Sumpah, kamu sungguh sesat dan berkelit; kamu meyakini Allah berkuasa atas memberi makan mereka, padahal Dia tidak memberi makan mereka, kemudian kamu lah yang memberi makan kepada mereka.”

Kemudian, Allah menurunkan ayat 5-7 Surah Al-lail.

Maka barangsiapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga), maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan)

Umumnya, yang namanya Kenyataan itu ya diwakili oleh Mata yg melihat dan meng-capture objek. Orang umum biasanya hanya memfokuskan hati dan fikirannya pada; Apa yang dilihat, Apa yang didengar, dan Apa yang nyata dari objek di hadapannya. Atasdasar ini, yang namanya kebaikan manusiawi adalah -semisal- amal berderma dan kebaikan terhadap sesama, dalam wujud yg empirisnya ini. Ini terpotret pada pola-fikir Abu Jahal pada kisah di atas.

Tetapi, di lain sisi, ada yang berfikir; tidak hanya sebatas itu, tetapi ada yang lebih, bahkan lebih tinggi karena bermakna spiritual, yaitu; hal yang disebut dengan Kesejatian, atau Hakiki/Hakekat. Hakekat itu tumbuh dari Keyakinan dan Logika yang cerdas menangkap makna. Ini terpotret pada pola-fikir Abu Bakar.

Perhatikan deh; Kenyataannya adalah ada Yang Kaya dan ada pula Yang Miskin. Yang Nyatanya adalah; Abu Bakar sebagai orang Kaya berbagi makanan kepada orang miskin itu. Adapun, hakikatnya adalah; Allah ta’ala yang menciptakan dan menentukan atas apapun. Kaya dan Miskin adalah ketentuan-Nya terhadap mahluk-Nya, dan bisa juga silih-berganti ‘peran’ juga atas ketentuan-Nya. Konkritnya; siapa yang memberi dan siapa yang menerima, itu adalah atas ridho-Nya. Lalu, Allah memerintahkan si Kaya untuk berbagi dan si miskin untuk bersabar, sebab pada hakikatnya semua itu adalah kehendak dan perbuatan-Nya (iradatuhu wa fi’luhu ta’ala). Ini adalah frame berfikir maknawi, konkritnya ya berfikir Imani, Iman terhadap ketuhanan Allah ta’ala. 

Maka, orang beriman kepada Allah ta’ala akan menggunakan frame berfikir spiritual tersebut dalam beramal dan berderma. Sehingga pada syariatnya ia beramal dan bersabar, karena memenuhi aturan Allah ta’ala dan mengerti akan hakikat sang “diri”. Inilah level hakikatnya, lebih tinggi dari sekedar melihat yang nyata. Ini kekhasan yang tidak dimiliki orang kafir ketika berderma.

Sehingga, kalau hanya melihat amal berderma dan kebaikan kemanusiaan dari sudut dasar kenyataan, maka semua pantas mendapat balasan kebaikan. Akan tetapi, kalau pola fikirnya naik level dari Yang Nyata menuju Yang Hakiki, maka akan dimengerti bahwa Syurga itu balasan dari Allah dzat yang diimani pada setiap amal dan kebaikan. Sehingga, Surga ini hanya untuk yang beriman kepada Allah ta’ala Sang Pemilik Surga.

Oleh karenannya, Allah berfirman;

مَنۡ عَمِلَ صَالِحࣰا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنࣱ فَلَنُحۡیِیَنَّهُۥ حَیَوٰةࣰ طَیِّبَةࣰۖ وَلَنَجۡزِیَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُوا۟ یَعۡمَلُونَ

Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, DAN IA BERIMAN (berfikir imani dan kesejatian), maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik (di surga) dari apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S. An Nahl 97)

Lalu, dimanakah diri kita terjerembab; di Kenyataan (yang mungkin termanipulasi oleh ‘fatamorgana’ empiris) Ataukah di kesejatian Hakekat (yang bernuansa maknawi dan spiritual)? 

اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه….

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *