Di luar kisah cinta segitiga Seo Dal-mi dengan Nam Do-san dan Han Ji-pyeong yang pelik, mengobrak-abrik perasaan, dan membuat saya merasa dua puluh tahun lebih muda dari kenyataannya, drama televisi Korea Selatan itu mengantarkan saya pada pertanyaan ini: apa itu kebahagiaan? Bagaimana kita memilih kehidupan?

Hidup Seo Dal-mi kecil dalam drama Start-up memang tak mudah. Lantaran kemiskinan, ibu-bapaknya bercerai lalu menghadapkannya untuk memilih: ibu atau bapak. Ia memilih bapaknya. Kakaknya memilih ibunya. Menurut sang kakak, pilihan Seo Dal-mi keliru. Hidup bersama ayahnya hanya menambah daftar cerita kesusahan. Seo Dal-mi terpukul atas kata-kata itu. 

Bapak Seo Dal-mi pekerja keras. Tapi tetap kesulitan meraih kebahagiaan dengan mendapatkan investor bagi usaha rintisannya. Kalau pun berhasil menandatangni kontrak, Ayahnya tak bisa mewujudkan mimpinya lantaran kecelakaan ditanduk mobil. Sang kakak merasa benardengan memilih tinggal bersama ibu dan telah menikah lagi dengan lelaki kaya lalu memberinya kehidupan layak. “Aku akan membuktikan, pilihanku tak salah,” kata Seo Dal-mi pada sang Kakak.

Kebagiaan jelas sekali satu tema pokok dalam hidup manusia. Apa yang terjadi dalam hidup yang fana ini selalu saha dipenuhi kisah-kisah tentang orang-orang yang mencari kebahagiaan dengan beragam definisi. Definisi bisa disumbang dari mana saja: agama, ideologi, atau pengalaman hidup kita sendiri. 

Imam As-Samarqandy mengutip hadis Nabi yang penting dalam Tanbih al-Ghafilin (Pengingat Bagi yang Abai) halaman 220. Ada lima tanda kebahagiaan: keyakinan dalam hati, kesalehan dalam beragama, zuhud terhadap dunia, rasa malu dalam dua mata, dan ketakutan dalam tubuh.

Dengan mengutip hadis ini, ulama abad ke-10 asal Uzbekistan itu sepertinya ingin mengatakan konsep kebahagiaan tidak tunggal. Kebahagiaan harus dilihat dalam konteks tertentu. Satu saat ketakutan akan hukum tuhan adalah kebahagiaan bagi manusia beragama. Saat lain, kebahagiaan malahan adanya keyakinan dalam hati dan rasa malu.

Kesadaran akan keragaman kebahagiaan ini seharusnya menuntut kita untuk tak buru-buru mengukur kebahagiaan kita dengan alat ukur kebahagiaan orang lain atau sebaliknya. Sebab kita hidup dalam konteks yang tak sama. Dan itulah yang tampaknya penyakit manusia yang benderang dalam dunia media sosial. Anda merasa hidup anda kurang bahagia dibanding orang lain. Padahal mereka juga merasa tak bahagia dalam hal-hal tertentu.

Jadi, memang tak adil mengukur kebahagiaan orang kaya dengan ukuran orang miskin; orang berilmu dengan orang bodoh; penguasa dengan rakyat; berkelurga dengan yang tidak berkeluarga. Inilah hikmah yang bisa bisa Anda petik dengan memahami apa kebahagiaan menurut Seo Dal-mi dan kakak kandungnya.

Tapi, tak berarti pula karena kebahagiaan beragam tak ada sesuatu yang menjadikannya terhubung dan nemiliki kesamaan. Jika Anda setuju dengan pikiran psikolog sosial Amerika, Jonatahan Haidt, dalam Hipotesis Kebahagiaan. Satu-satunya kesamaan dalam kebahagiaan manusia tak lain pada kondisi keseimbangan hubungan atau kondisi yang kita hadapi. Kita akan bahagia jika kita berhasil membangun keseimbangan di antara dua kondisi yang tak membuat kita bahagia.

Haidt membuat analogi yang menarik. Kebahagiaan itu terjadi ketika tejadi keseimbangan atau keselerasan interaksi antara penunggang gajah dengan gajah. Ketidakbahagiaan terjadi ketika penunggang dan gajah memiliki perbedaan besar tentang cara melakukan sesuatu. Ia menyebut dua istilah yang masih kurang terang pahami: controlled processes and automatic processes. Yang pertama mewakili penunggang, sedang kedua mewakili gajah.

Sebagai penunggang, kita jelas memiliki kuasa dan berhak memilih apa yang membuat kita bahagia. Kerana itu, saya bisa memahami, meskipun tak sepenuhnya adil, mengapa Seo Dal-mi lebih memilih Nam Do-san ketimbang Han Ji-pyeong. Bukankah Han Ji-pyeong berhak bahagia? Ji-pyeong telah mengorbankan waktu dan tenaganya untuk Seo Dal-mi selama lebih 15 tahun. Bukan hanya itu, ia juga telah mengorbankan perasaan begitu dalam untuk sesuatu yang mungkin menurut Seo Dal-mi sebagai kebahagiaan.    

Kalimulya, 1 Januari 2021

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *