Kalo kita perhatikan, kebanyakan orang yg gak mengakui adanya Dzat Gusti Allah itu karena pelarian dari masalah yang mereka hadapi. Entah itu masalah keluarga, sosial atau ekonomi. Masalah2 itu yg akhirnya menutup logika akal sehat mereka sehingga mereka memilih tidak percaya lagi pada Tuhan.

Tapi kalo mau jujur, sebenernya mereka masih percaya adanya Tuhan. Namun mereka hanya depresi pada takdir Tuhan yang menimpa mereka. Gara2 depresi, mereka jadi gak bisa membedakan antara masalah keyakinan sebagai buah logika akal sehat dan problematika kehidupan sebagai buah perilaku manusia. Sehingga mereka memilih berontak dan lari dari realita (denial). 

Mirip kita pas remaja yang lagi puberitas dan muncul nakalnya, lalu berontak pada orang tua. Aslinya masih mengakui orang tuanya sebagai ayah ibunya, cuma akal sehatnya lagi ketutup hormon puber.

Hingga kemudian banyak cerita atheis yang setelah lama bergulat dengan realita, akhirnya mengakui kebenaran konsep ketuhanan agama Islam setelah terbuka akal sehatnya. Bahwa memang Dzat Tuhan itu harus wujud lha wong alam ini wujud. Yang namanya Tuhan pasti satu dan berbeda dengan ciptaannya. Mustahil ada banyak tuhan dan sama dengan makhluk. Semua konsep ketuhanan Islam pun baru terasa serba masuk akal. Dan akhirnya mereka bisa membedakan antara keyakinan sebagai buah logika akal sehat dan masalah dalam kehidupannya sebagai buah dari perilaku manusia.

Tapi sebagian dari mereka masih belum mau masuk Islam. Kebanyakan beralasan ibadah Islam itu berat, menyita pekerjaannya. Artinya masih mbulet sama mindset materialistik. Selain memang belum dapat hidayah.

Ya biarkan saja. Tapi satu hal yg pasti, akal sehat mereka yang terlanjur terbuka, pasti akan terus menyangkal ideologi atheis mereka sendiri. Ada satu siksaan batin yang sedikit banyak bikin mereka gelisah. Bahwa mereka sebenarnya tahu bahwa tidak ada Tuhan selain Gusti Allah. Dan sunnatullah orang yg melawan akal sehatnya sendiri pasti merasa tersiksa. Ekspresi ketersiksaan itu pun terlihat pada sikap kekaguman yang lebih dari mereka pada Islam dan orang Islam.

Ekspresi penerimaan mereka macem2. Ada yang jadi pembela orang Islam seperti Abu Tholib. Ada yang toleran pada orang Islam, seperti Raja Habasyi. Bahkan ada seorang agnostik yang saya kenal, mentato tubuhnya dengan ayat Qur’an yang sangat berkesan baginya.

Dan juga terbukti. Orang2 di dunia barat yg materialistik, kaget, heran campur kagum dengan kehidupan orang timur, terutama Indonesia, yang hidupnya relatif tenang dan bahagia. Bisa hidup nyantai, bisa ngopi rokokan kebul-kebul kapanpun walau gak kaya. Sehingga banyak orang barat bertanya-tanya dan akhirnya mempelajari berbagai kebudayaan dunia timur yang corak budayanya pekat dipengaruhi agama.

Artinya, mereka paham ada satu kegelisahan yg menyiksa batin mereka, yg gak bakal ketemu obatnya di alam materialistik dan tak mengenal Tuhan. Ada sesuatu yang lebih berharga daripada sekedar materi. Manusia harus punya sesuatu yang jadi puncak pencariannya secara batin. Ini bukti bahwa akal manusia sebenarnya otomatis akan mencari yang namanya Tuhan. Kalo cuma bermindset materi, kehidupannya bakal muter di situ aja, gak kemana-mana.

Jadi sebenernya, kunci untuk menemukan Dzat Gusti Allah itu cuma kejujuran. Karena yg namanya kejujuran itu artinya memasrahkan diri sesuai akal sehat dan hati nurani. Dan berjalan sesuai akal sehat dan hati nurani itu pasti lebih menenangkan.

Boleh kita berargumen sbg usaha untuk denial (lari dari kenyataan), tapi kita gak bakal bisa membohongi akal sehat. Denial untuk menutupi akal sehat, justru akan menggelisahkan diri. Maka, biar kita tahu apa kata akal sehat dan hati nurani, kita harus melepas semua argumen yg denial, banyak mendengar hati nurani dan akui kelemahan diri. Inilah yang disebut Islam (pasrah di hadapan Gusti Allah).

فَاعْلَمُوا أَنَّمَا أُنْزِلَ بِعِلْمِ اللَّهِ وَأَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَهَلْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Maka ketahuilah, sesungguhnya Al Quran itu diturunkan dengan ilmu Gusti Allah, dan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia, maka maukah kamu berserah diri kepada Gusti Allah?” (Huud 14)

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *