Tujuan yang paling utama adalah kesholehan sosial pada umat Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Seperti yang sudah diceritakan tentang kiamat kubro kemarin, ternyata semua nasib makhluk itu sama. 

Sama-sama bakal mati dan hancur. Sama-sama bakal balik pada pencipta-Nya. Sama-sama bakal ditanya tentang amalnya. Sama-sama bakal dibangkitkan untuk diadili. Sampai titik ini, semua manusia punya nasib, kebingungan dan kesusahan yang sama. Semua manusia sama-sama pada gak jelas nasibnya.

Karena kesamaan-kesamaan nasib di hari akhir itulah, kalo dipikir-pikir, sangat tidak elok jika kita saling merendahkan di kehidupan sosial di dunia. Karena itu, iman pada hari akhir sering disebut Kanjeng Nabi Muhammad SAW sebagai indikator kesholehan sosial.

Kanjeng Nabi Muhammad SAW dawuh

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت، ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يؤذ جاره، ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم ضيفه

“Barangsiapa yang beriman kepada Gusti Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berbicara yang baik atau (kalau tidak bisa hendaknya) dia diam. Barangsiapa yang beriman kepada Gusti Allah dan hari akhir maka janganlah ia menyakiti tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Gusti Allah dan hari akhir maka hendaknya dia memuliakan tamunya.”

Karena dengan perasaan senasib di hari akhir itulah, diharapkan orang mau mengasihani sesama makhluk, dari yang terdekat sampai yang terjauh, mendoakan mereka dan melakukan kesholehan sosial lainnya. 

Dan kita tahu, bahwa hak adami adalah hal terberat di dalam syariat Islam. Sekali kita menyelewengkan hak orang lain, susah dalam sakarotul maut dan siksa dunia akhirat menanti. Orang yang terdzolimi walau non muslim, bisa menghambat kebahagiaan kita di hari akhir. Maka kita harus hati-hati dalam kehidupan sosial, mbah. 

Nah, akhirnya setelah diadili, ada yang masuk surga, ada yang masuk neraka dan ada yang mampir ke neraka dulu baru ke surga. Yang mampir dulu ke neraka, bisa mendapat keringanan siksa karena mendapat syafa’at dari Kanjeng Nabi dan orang sholeh.

Ini jadi hikmah bahwa kita harus mencintai Kanjeng Nabi Muhammad SAW agar tetap dianggap umat beliau. Kalo udah dianggap umat Kanjeng Nabi, kemungkinan besar ya selamat. Caranya dengan bersholawat pada beliau, mengirim hadiah Faatihah pada beliau, melaksanakan ajaran beliau, bercerita tentang beliau, melakukan kebiasaan beliau. Dan tidak lupa untuk mencintai umat Sayyudina Muhammad SAW dengan melakukan kesholehan sosial.

Caranya menurut Abah Guru Sekumpul, mencintai umat Kanjeng Nabi Muhammad dengan cara harus siap mengampuni/memaafkan kesalahan orang lain, harus kasih sayang kepada umat Kanjeng Nabi Muhammad, harus siap menutupi aib dan kekurangan umat Kanjeng Nabi Muhammad, harus menyenangkan hati umat Kanjeng Nabi Muhammad. Lalu mendoakan mereka :

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِأُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

اَللّٰهُمَّ اسْتُرْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

اَللّٰهُمَّ اجْبُرْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

“Ya Allah, ampunilah umat baginda kami Sayyidina Muhammad SAW. 

Ya Allah, sayangilah umat penghulu kami Sayyidina Muhammad SAW. 

Ya Allah, tutupi kekurangan umat pemimpin kami Sayyidina Muhammad SAW. 

Ya Allah, perbaikilah umat panutan kami Sayyidina Muhammad SAW”

Kita melakukan ini semua sebagai bukti cinta kita pada Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Karena Kanjeng Nabi sangat mencintai umat beliau, maka kita harus ikut mencintai apa yang beliau cintai tersebut. 

Dengan kesholehan sosial, semoga jadi washilah bagi kita diakui umat Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Sehingga kehidupan kita di dunia hingga akhirat akan menjadi lebih baik.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *