Jika di dunia ini ada sosok ulama yang belum pernah aku temui namun sangat aku cintai dan kagumi, maka itu adalah Syaikh Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi.
Aku pertama kali mengenal Syaikh Buthi ketika masih nyantri di PP. Al-Anwar Sarang sekitar sepuluh tahun yang lalu. Selain karena foto beliau bersama Mbah Yai Maimun (ketika Mbah Yai berkunjungke Suriah) banyak tersebar kemana-mana, kitab Fiqhussiroh karya fenomenal beliau itu juga menjadi materi wajib di kelas kami selama dua tahun berturut-turut.
Dulu aku sama sekali tak menaruh hati kepada Syaikh Buthi, bahkan aku lebih cenderung meremehkan sosok beliau.
Pertama : karena pengalaman pahit dengan karya-karya beliau yang isinya sulit dipahami itu. Balaghoh (sastra) tingkat tinggi dan bahasa arab kontemporer yang memenuhi kitab Fiqhussiroh beliau selalu membuat kami kalang-kabut ketika menghadapi ujian mapel sejarah Islam.
Kedua : adalah alasan yang cukup sederhana, aku tidak tertarik dengan penampilan Syaikh Buthi. Masak orang alim penampilannya kayak gitu ? Pakai celana dan jas necis kayak para pejabat dan presiden ? Bukankah seorang Alim seharusnya tampil gagah dengan jubah dan surban seperti Habib Umar, Habib Ali dan Abuya Sayyid Al-Maliki ?
Bagiku waktu itu Syaikh Buthi tak lebih dari seorang intelektual dan pemikir Islam yang karya-nya jelimet dan gak bisa dimaknai utawi-iki-iku.
2013, ditahun keduaku di Tarim. Syaikh Buthi Wafat di bom kelompok teroris ketika mengajar tafsir di Masjid Jami’ Al-Iman Damaskus. Aku bersedih, namun hatiku masih seperti dulu, aku belum bisa jatuh hati kepada beliau
Sampai akhirnya suatu ketika, aku menemukan sebuah video, video yang akhirnya merubah pandanganku tentang beliau, melihat video itu aku merasa baru mengenal siapa sosok Syaikh Buthi yang sebenarnya.
Video itu adalah cuplikan pengajian “Ayyuhal Murid” yang diasuh oleh Habib Ali Al-Jufri di Masjid Jami’ Damaskus.
( https://youtu.be/o4ImfQ7Y6iw )
Pada pertemuan ke 17, ditengah-tengah pengajian tiba-tiba Habib Ali dan para jama’ah dikejutkan oleh kedatangan Syaikh Buthi. tentu saja Habib Ali kaget dan langsung turun dari kursinya untuk menyambut kedatangan beliau. Habib Ali kemudian meminta beliau untuk meneruskan kajian. Syaikh Buth menolak sambil melambai-lambaikan tangannya, tapi Habib Ali tetap memohon dan mengatakan ini adalah keinginan para hadirin sekalian. Syaikh Buthy akhirnya mengalah, beliau maju lalu berkata :
” saya sebenarnya datang ke majlis ini untuk mendengarkan ilmu, apalagi kajiannya tentang bagaimana cara meniti jalan menuju Allah, Saya datang untuk membersihkan hati saya yang mulai mengeras oleh dosa-dosa yang saya perbuat. tapi Habib kita tercinta – Habib Ali- malah menggagalkan kesempatan ini. “
Kedua mata Habib Ali sampai berkaca-kaca tatkala mendengar kalimat Syaikh Buthi itu.
Aku masih ingat, dalam kesempatan itu Syaikh Buthi menjelaskan tentang Makna “Iyyaka Na’budu Wa Iyyaka Nasta’iin “
” kita semua adalah orang yang sejatinya ingin menjadi hamba Allah yang baik, menjadi seorang Hamba yang selalu dekat dengan-Nya dan mematuhi setiap perintah-Nya..
keinginan kita Itu tertuang dalam kalimat “Iyyaka Na’budu ” : hanya pada-Mu lah kami menyembah, kami hanya ingin ridho-Mu, kami hanya ingin mendekat kepada-Mu.
Tapi Allah Maha Tau, meski sejatinya kita sangat ingin seperti itu, tapi kita ini mahluk yang lemah, kita seringkali kalah oleh hawa nafsu kita, dosa-dosa dan kelalaian seringkali menarik kita terjatuh ke belakang. Oleh karena itu Allah mengajarkan kita untuk mengakui kelemahan kita dengan mengatakan : “Iyyaka Nasta’iin”, tapi Hanya pada-Mu lah kami meminta pertolongan atas kelemahan dan kebodohan kami.. “
Mulai saat itu aku tergila-gila pada sosok Syaikh Buthi, Mp3 Sonyku penuh dengan kajian-kajian beliau, aku juga pernah merelakan uang beasiswa bulananku untuk membeli Syarah Hikam karya Syaikh Buthi yang 5 jilid itu, yang bisa dikatakan sebagai kitab komentar Hikam Ibnu Athaillah tertebal sepanjang sejarah. Mulai saat itu juga aku lumayan sering didatangi beliau di alam mimpi..
Ada satu video lagi yang membuat aku benar-benar kagum kepada beliau, yang membuatku merasa kerdil dan hina dihadapan orang-orang hebat seperti beliau. Isi video itu adalah momen ketika Syaikh Buthi ditanya dalam sebuah acara televisi :
“mengapa anda tak pernah mengizinkan orang lain untuk mencium tangan anda.. “
“Demi Allah, aku malu. ” beliau menjawab. ” Aku sangat malu kepada Allah jika aku membiarkan orang lain mencium tanganku. Aku tahu dosa-dosaku dan kekuranganku, sedangkan Allah hanya menampakkan sisi positifku di hadapan orang lain.
Jadi jika ada orang datang padaku dan mencium tanganku, bisa saja aku berkata padanya :
” silahkan cium tanganku supaya kau menjadi orang terdidik “
Baik, dia memang tidak tahu akan dosa-dosaku. Tapi bukankah Allah maha mengetahui ? Bagaimana jika ketika itu Allah memandangku dan berkata :
” bukankah kau pernah berbuat dosa ini dan itu.? Tidak sadarkah kau akan keadaan dirimu yang sebenarnya?” Inilah yang membuat aku tak pernah mengizinkan orang-orang mencium tanganku “
Ketika berbicara tentang sosok Syaikh Buthi, kita bukan hanya dihadapkan pada samudera ilmu yang tak ada ujungnya, tapi kita juga akan menemukan kesederhanaan, ketawadhu’an dan sifat ke-hamba-an yang selalu beliau tunjukkan meski beliau dianugrahi lautan ilmu dan ribuan keistimewaan..
Ilaa Ruuhi Syaikh Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi Al-Faatihah..
* Ismael Amin Kholil, Bangkalan, 17 april, 2020.

No responses yet