Categories:

Oleh : Frista Nurcahyani (mahasiswi IPMAFA Pati)                                                                          

Tahun 2020 merupakan tahun yang mengkhawatirkan bagi Indonesia. Bukan hanya di Indonesia saja tapi hampir seluruh dunia. Hal ini disebabkan oleh munculnya covid 19 atau yang biasa disebut dengan virus corona. Corona virus sendiri adalah kelompok virus yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan atau manusia. Virus ini menyerang saluran napas pada manusia dimulai dari batuk, pilek, demam bahkan bisa menyebabkan kematian. Penularan virus ini sangat mudah dan cepat bisa melalui udara, sentuhan, ataupun benda.

Adanya pandemi ini pemerintah dengan sigap mengeluarkan kebijakan social distancing, hingga lock down atau yang dikenal dengan istilah PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Adanya lock down membuat tatanan hidup berubah masyarakat disuruh diam di rumah untuk mentaati program work at home, study at home, dan beribadah di rumah. Adanya kebijakan tersebut banyak masyarakat yang protes dan sedikit yang menyetujui. Banyak masyarakat yang berkeluh kesah bahwa kalau belajar dari rumah pengeluaran lebih banyak karena mengeluarkan biaya double untuk membayar dan membeli kouta internet, ada juga yang mengeluh terkendala oleh sinyal. Menanggapi hal tersebut pemerintah berupaya memberikan kouta gratis. Tapi semua itu masih menimbulkan kontra karena pemberian yang tidak merata.

Yang paling banyak mendapatkan kontra adalah beribadah dari rumah, banyak masyarakat yang tidak setuju. Mereka beranggapan masjid tidak boleh ditutup dan sepi dari jama’ah karena mereka beranggapan sehat, sakit, dan kematian manusia itu hanya allah yang mengetahui dan menentukan. Banyak juga yang beranggapan kalau virus corona itu dibuat oleh pemerintah untuk ladang bisnis. Yang seharusnya virus ini bisa dihindari malah semakin menjadi karena keabaian masyarakat yang menggangap bahwa virus ini bukan virus yang membahayakan.

Ditengah pandemi yang menghebohkan dunia ini dan menimbulkan pro kontra dari kalangan, sebaiknya kita sebagai masyarakat beragama harus berhati-hati agar tidak mudah terprovokasi yang hanya menimbulkan kerugian bagi diri sendiri beserta orang lain.

“islam moderat merupakan sikap keberagamaan islam yang mengambil jalan tengah (wasath) antara dua paham atau pemikiran yang ekstrem”

Maka dari itu sikap moderasi beragama yang harus diterapkan oleh masyarakat muslim ditengah pandemi seperti ini adalah :

PERTAMA

Bersabar dalam menghadapi pandemi virus corona ini. Kesabaran merupakan perwujudan keyakinan agama dalam bentuk sikap dalam kehidupan sehari-hari. Sebab bencana virus yang didatangkan Allah ini untuk menguji kita seberapa kuat kesabaran dalam iman kita, sebab segala sesuatu yang terjadi telah tertulis dalam kitab Lauhul Mahfudz.

KEDUA

Mengikuti aturan pemerintah, MUI, dan pakar-pakar yang berwenang. Kita harus menurut pada aturan yang telah dibuat untuk menghentikan terjadinya penularan pada virus. Jadi stay at home, pray at home, study at home, and work from home.

KETIGA

Mengutamakan keselamatan manusia, karena dalam islam keselamatan manusia sangat dianjurkan sesuai dengan kaidah Fiqih Dar’ul Mafasid Aula Min Jalbil Musholih atau menghilangkan kemudharatan itu harus dilakukan dari pada mengambil manfaat.

KEEMPAT

Tolong menolong untuk mengatasi covid 19. Tolong menolong ini harus dengan niat dan hati yang ikhlas tanpa memandang suku, ras, agama, serta derajat sosial karena di Indonesia memiliki beragam budaya. Apalagi pada masa covid 19 seperti ini masyarakaat sangat butuh dengan yang namanya masker, hand sanitizer, dan lain sebagainya. Hal ini akan memperkuat tali persaudaraan setanah air, serta menunjukkan betapa umat islam mempunyai rasa solidaritas tinggi.

Jika kita semua mampu menempatkan cara, pandang, sikap, dan berperilaku beragama moderat dan tidak terseret dalam tarikan paham dan perilaku ekstrem kanan dan kiri, kita akan membangun bangsa yang maju. Dengan begitu kita telah mampu menunjukkan bahwa perbedaan agama bukan halangan dari tegaknya kesatuan dan persatuan bangsa.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *