Jadi orang terkenal baik, pinter dan banyak dipuji, penyakitnya kebanyakan jadi memandang remeh orang lain. Padahal semulia-mulianya pangkat seorang Nabi dan Rasul, mereka sangat berhati-hati dalam memperlakukan orang lain. Mereka tetap menghormati sesama manusia dan menghormati jabatan mereka, kendati gak ada pangkat makhluk yg lebih tinggi daripada pangkat Nabi dan Rasul.
Dikisahkan Kholilurrohman Kanjeng Nabi Ibrahim AS satu hari melewati satu padang pasir yang di situ jarang ditemukan air. Saat itu musim lagi panas-panasnya dan Nabi Ibrahim merasa tubuhnya dehidrasi. Lalu di tengah jalan, Nabi Ibrahim bertemu seorang penggembala kambing berkulit hitam.
Nabi Ibrahim pun menyapa penggembala itu lalu bertanya, “Bisakah saya bisa meminta seteguk air pada anda?”
Saat menoleh, penggembala itu langsung mengenal Nabi Ibrahim lalu berkata, “Duh Nabi Ibrahim, perintahkan saja pada saya apa saja, njenengan ingin air atau susu? Akan saya siapkan segera,”
“Saya minta air saja, Nak,”
Maka penggembala berkulit hitam itu segera menginjak sebuah batu. Sekali injak, batu itupun pecah terbelah dan memancarkan air dari sela-selanya. Nabi Ibrahim takjub melihat hal itu.
Kemudian Gusti Allah berfirman pada Nabi Ibrahim, “Andai penggembala itu memohon kepada-Ku agar Aku meruntuhkan langit dan bumi, maka pasti Aku turuti permohonannya,”
Nabi Ibrahim kaget dengan hal itu, lalu bertanya pada Gusti Allah, “Mengapa demikian, Duh Gusti? Siapa sebenarnya penggembala ini?”
Gusti Allah berfirman, “Dia adalah wali-Ku, dia tidak berharap apapun di dunia dan akhirat selain mengharapkan Aku,”
Jadi, mbesok kita kalo udah sukses dan mulia, kita usahakan tiru para Nabi yang tidak pernah meremehkan orang lain, mbah. Kalo punya cita-cita pingin disegani, jadilah nasi pecel. Kalo punya cita-cita ingin dihormati, jadilah tiang bendera.

No responses yet