Sayyidah Nafîsah adalah cucu dari panglima Ahli Bayt Rasulullah saw., sayyidina Hasan bin Ali bin Thalib. Lahir di Makkah pada hari Rabu, 11 Rabiul Awwal tahun 145 H. Beliau memiliki beberapa laqab. Di antaranya:

  1. Nafîsah al-Dârain. Dinamai demikian karena kerendah-hatiannya dan kekhusyukannya pada Allah.
  2. Nafîsah al-Ilm. Laqab ini karena usahanya menyingkap sesuatu yang tersembunyi dari ilmu. Berpindah-pindah dari satu negara ke negara yang lain demi mencari Ilmu Nubuwwah. Telah hafal Alquran sejak usia dini.
  3. Nafîsah Thâhirah. Julukan tersebut karena kesucian jiwa dan penghambaannya kepada-Nya.
  4. Nafîsah Âbidah. Dikarenakan ibadah dan ketakwaannya. Siang berpuasa. Malam beribadah. Dan beliau telah berhaji selama 30 kali lebih dalam keadaan berjalan. Pernah beliau mendepempet di pintu Ka’bah dan berkata: “Ilahi, Tuanku. Dikau beri aku kenikmatan dan kebahagiaan melalui keridaan-Mu. Maka janganlah jadikan diriku sabab-musabab terhijabnya diri-Mu.
  5. Nafîsah Misriyyah. Gara-gara kecintaan penduduk Mesir kepadanya. Ketika beliau berniat pergi dari Mesir menuju Hijaz, penduduk Mesir keberatan dan memintanya agar tetap tinggal di Mesir. Saat wafat, suaminya datang ke Mesir dan hendak membawanya ke Madinah agar dikuburkan di Baqi. Penduduk Mesir berkumpul lalu menuju Raja kala itu. Mereka mengadukan agar Raja merayu suaminya untuk menguburkan beliau di Kairo. Dan akhirnya, memang dikuburkan di sana. Karena itulah, penduduk Mesir menamai beliau Nâfîsah Misriyyah.

Beberapa Ulama kenamaan mengunjungi, meminta doa, petuah, dan ngarep barakah dari beliau. Di antaranya: Usman bin Saîd al-Mishry, Abu Faid Zun Nun al-Mishry, Imam Syafi’i, dan lain-lain.

Hari Sabtu bertepatan 23 Ramadhan 193 H, sayyidah Karimah Darâin (sayyidah Nafisah) datang ke Mesir sebelum kedatangan Imam Syafi’i lima tahun setelah itu. Beliau memiliki tempat khalwat, di dekat makam syaikh Abi Jamrah dan Ibnu Sayyidinnas.

Sayyidah Nafîsah makan tiga hari sekali. Beliau memiliki semacam tali tempat menggantung di mushalla-nya. Setiap kali beliau hendak makan, telah tersedia makanan di tali gantungan tersebut. Beliau juga tidak makan kecuali yang telah disediakan oleh suaminya dan tidak mencari makanan yang disukai. Beliau berkata:


“Alhamdulillah Allah telah menjadikan diriku sebagian dari diri sayyidah maryam as. Dan Allah telah bercerita tentangnya:

كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِندَهَا رِزْقاً قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِندِ اللّهِ إنَّ اللّهَ يَرْزُقُ مَن يَشَاء بِغَيْرِ حِسَابٍ

Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.

Allah telah menjadikan sayyidah Nafîsah seperti sayyidah Maryam as. Ustadz Fahmi berpuisi tentangnya:

حبا الاله نفيسة كرامة # خصت بها قبل ذلك مريم
فيض من الله الغنى ونفحة # فتبارك الله الكريم المنعم
والله يرزق من يشاء بفضله # والله يرفع من يحب ويكرم

Allah ngasih karamah pada Nafîsah
Yang dikhususkan sebelumnya pada Maryam

Curahan, kecukupan, karunia dari-Nya
Maha Suci Allah yang Maha Mulia nan Pemberi Kenimatan

Allah memberi Rizki yang dikehendaki dengan kemurahan-Nya
Dan Allah menaikkan derajat seseorang yang dicintai dan dimuliakan-Nya

Imam Syafi’i ketika sakit menyuruh salah seorang delegasi dari para muridnya seperti Rabi dan selainnya serta menyuruh untuk menyampaikan salam kepada sayyidah Nafîsah.

“Imam Syafi’i sakit. Beliau meminta jenengan untuk mendoakannya.” Maka berdoalah beliau. Belum sempat pulang, imam Syafi’i telah sembuh dari sakitnya.

Di sakit terakhirnya Imam Syafi’i–sebagaimana biasa–mengirim utusan untuk meminta doa pada sayyidah Nafîsah. Kemudian beliau berdoa:

متعه الله بالنظر الى الوجه الكريم
“Moga Allah memberikan nikmat padanya (Imam Syafi’i) memandang Zat yang Maha Mulia.”

Dan datang seorang utusan bertanya apa yang disampaikan oleh sayyidah Nafîsah Dan dijawab pula apa yang telah terdengar. Dan setelah itu, Imam Syafi’i wafat.

Sebagian orang shalih yang menghadiri pemakaman Imam Syafi’i berkata:

“Setelah selesai shalat, aku mendengar suara, namun tak melihat seseorangpun. Dia berkata: Sungguh Allah telah mengampuni orang yang shalat jenazah atas Syafi’i dengan syafa’at-Ku. Dan Syafi’i telah diampuni karena sebab Nafîsah turut shalat atasnya.”

Setelah Imam Syafi’i wafat, di sebuah majelis, sayyidah Nafîsah memuji dan memohonkan rahmat padanya.

“Semoga Allah merahmati Syafi’i. Sungguh dia adalah sosok yang senantiasa memperbaiki wudhu.”

Dikatakan juga:

” Imam Syafi’i adalah orang yang sangat sabar. Dan menghadapi cobaan dengan jiwa yang teguh. Tenang menghadapi penyakit yang menimpanya. Berpegang kepada Allah dengan sangat erat. Bertawakkal dengan sebaik-baiknya tawakkal. Bersyukur atas penyakit yang menimpanya. Merendah diri akan terkesiapnya penyakit dari-Nya. Sebab pahala di sisi Allah sesuai dengan seberapa sakit yang diderita. Dan terus menerus seperti itu tanpa mengeluh dan rasa bosan hingga Allah menghilangkan rasa sakit itu. Dan seketika itu pula, Imam Syafi’i shalat atas rasa syukur. Ketika terkena ujian, dia bersyukur. Dan ketika terkena penyakit, dia termasuk orang-orang yang berterimakasih.”

الأصل في الحب حرف الحاء والباء
حاشية الحبيب بعد الإعتناء

Asal-muasal cinta adalah huruf Ha dan Bâ (Hubb)
Catatan kaki seorang pecinta setelah selesai memerhati yang dicinta

Mazhab cinta yang paling indah adalah terkesiapnya dua jiwa yang dicinta. Laiknya Sayyidah Nafîsah dan Imam Syafi’i yang sama-sama menautkan huruf Ha’ dan Ba’ di dalam kedua hatinya.

Buuts, 06 Juli 2017

Referensi: Abu Îlm, Taufiq, Sayyidah Nafîsah ra, 2015. (Majelis Â’lâ, Qahirah)

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *