Yuk Tin berpamitan pada Paijo setelah menyerahkan semua kunci warungnya. Paijo hanya terdiam dalam keheningan. Tak sepatah kata pun keluarnya. Padahal sebelumnya dia sering membantah untuk mendapatkan jawaban yang lebih mudah ia pahami. Kali ini dia terdiam bahkan ketika Yuk Tin kembali pada gerobaknya dan menjauh dari pandangannya.
Tangan Paijo masih bergetar ketika sepasang suami istri pembantu Yuk Tin datang dengan tergopoh dan bertanya pada Paijo; “Jo apa pesan Yuk Tin pada kita?” Paijo tak segera menjawab, pikirannya masih jauh melayang mencoba memahami apa yang sedang terjadi pada dirinya dan Yuk Tin. Kembali terdengar suara yang sama, kali ini lebih keras dan tegas. “Jo ! Apa pesan Yuk Tin untuk kita?” Paijo segera bangkit dari duduknya dan memandang dua orang yang begitu setia membantu Yuk Tin selama ini. “Warung ini diwariskan kepada kalian, kalian harus menjaga dan merawatnya, jangan sampai berkurang kualitas layanannya, meski Yuk Tin sudah tidak ada.” Keduanya saling berpandangan dan kemudian serempak berujar : “Bukan itu maksud kami Jo! Itu nggak penting. Adakah pesan lain yang belum engkau sampaikan? Paijo terdiam dan mencoba mengingat-ingat apa saja pesan yang disampaikan Yuk Tin. Tetapi tak ada lagi pesan selain itu. Keduanya kembali bertanya : “Apa beliau tidak pesan kapan akan datang mengajak kita ikut bersamanya?” Paijo terkejut dan tiba-tiba menangis dan berkata lirih ; “Maafkan saya, saya seolah kehilangan kesadaran ketika Yuk Tin memanggilku untuk duduk di hadapannya. Tetiba sepasang suami istri itu menangis dan segara masuk ke area dapur.
Pagi itu suana warung Yuk Tin jadi hening, Paijo terus saja “melamun” dan tak memberikan respon seperti baisanya kepada silang perdebatan di antara jama’ah pelanggan nya. Para jama’ah yang sudah dengar bisik-bisik kepergian Yuk Tin seolah paham dan tidak berusaha mendesak Paijo untuk ikut dalam diskusi mereka. Hanya setengah hari saja warung Yuk Tin ditutup oleh Paijo dan sepasang suami-istri pembantu Yuk Tin. “Jo, apa lamu yakin Yuk Tin tak meninggalkan pesan selain wasiat itu?” Ujar perempuan setengah baya itu pada Paijo. Paijo menggeleng dan perempuan itu segera terdiam sesaat dan kemudian berujar : “Jo kami ini jadi santri yang melayani Yuk Tin, sejak beliau pulang dari pesantren. Jo Yuk Tin telah berpamita akan menyusul para gurunya. Artinya kita sudah btak bisa lagi menimba ilmu beliau. Kami sebenarnya ingin ikut beliau, tapi bahkan beliau tidak berpamitan kepada kita. Kami memang baru belajar mencintai dan masih jauh sebelum manapaki pengorbanan cinta. Apalagi berharap cinta kami diterima.” #SeriPaijo

No responses yet