Selama jadi pedagang kopi, saya belajar memahami banyak hal. Semua ilmu yang pernah diajarkan para guru yang dulunya gak paham gimana penerapannya untuk keseharian, saya jadi paham. Termasuk bagaimana menerapkan ilmu tasawuf untuk keseharian.

Jadi ada kalanya kedai saya buka seperti biasa, tapi sebenernya saya lagi capek, pingin tidur seharian, lagi gak enak badan atau mood yang lagi kacau. Pokoknya ada perasaan saya gak pingin ada pelanggan yang datang ngopi di kedai. Eh, lha kok malah pelanggan datang berjubel-jubel. Tapi pas lagi kepikiran profit dan punya keinginan banyak pelanggan, malah seret pelanggannya atau malah sepi. 

Kedua fenomena yang paradox ini saya perhatikan selalu terjadi berulang kali. Seakan Gusti Allah hendak mengajari saya sesuatu tentang usaha. Akhirnya karena saya gak pingin hidup tertekan dan saya pingin usaha dengan pikiran yang los gak rewel, maka saya belajar untuk menghilangkan keinginan-keinginan yg bikin ruwet. Kalo pengusaha biasanya punya keinginan untuk profit banyak dan rame pelanggan, saya hilangkan keinginan itu. Karena saya rasakan, keinginan tersebut ternyata malah bikin ruwet dan hidup tertekan. 

Selama ini kita mengira kalo kita bikin usaha, tujuan utama ya kudu rame pelanggan biar profit banyak. Agar profit, maka kita lakukan segala cara mulai ikut-ikutan jualan yang lagi viral, musim ini jualan ini, banting harga buat tarik pelanggan, sehingga sedikit menurunkan kualitas dan lain-lain. Itu artinya kita rela didekte oleh lingkungan demi ngejar profit. Akhirnya energi kita pun habis karena kecapekan ngejar ini itu karena terus-menerus didekte. Dan usaha pun gak berumur panjang karena musiman.

Padahal hidup bukan cuma untuk mencari duit saja. Sayang sekali energi kehidupan habis dipakai untuk ngejar profit yang gak jelas ukurannya. Dan ternyata prinsip bisnis para pedagang sukses itu bukan semata profit, tapi ketersambungan dan kesinambungan. Ini yang sering dilupakan oleh pedagang musiman.

Ketersambungan dalam arti ada konektivitas antara pedagang dan pembeli. Pedagang mengerti keinginan dasar para pembeli dan pembeli memahami apa yang dibeli dari pedagang. Dan kesinambungan dalam arti ada sesuatu yang khas yang bikin ketagihan untuk datang kembali. Entah itu dari kualitas produk, pola komunikasi atau environment yg dibangun.

Kalo dalam berdagang, kita hanya fokuskan 2 hal tersebut, kita gak akan tertekan masalah profit. Profit itu anggap saja salah satu efek samping karena kita berhasil fokus dalam 2 hal tersebut. Selain profit, kalo bisa fokus dalam 2 hal itu, efek samping lainnya kita akan punya image tersendiri dan jadi trendsetter. Selamanya kita dan usaha kita akan dikenang orang. Namun, semua efek samping itu bukan tujuan utama.

Tujuan utama saya berdagang adalah sebagai media membuat produk yang berkualitas, belajar berkomunikasi yang baik dengan semua lapisan masyarakat dan usaha untuk menciptakan lingkungan yang baik bagi semua orang. Tujuan tersebut lebih abadi dan lebih bermanfaat buat saya dan semua orang.

Maka dari itu, saya sampai hari ini terus belajar untuk melepas keinginan-keinginan yang bikin ruwet. Imam Ghozali pun berkali-kali dawuh, bahwa keinginan itu sumber penderitaan, yang dinukil Iwan Fals jadi lagu. Dan dawuh beliau itu memang benar dan relevan saya rasakan sebagai pedagang. Sehingga, prinsip ilmu tasawuf pun teraplikasikan dalam kehidupan nyata yaitu lewat perdagangan. Saya pun berkeyakinan, tanpa mindset tasawuf, kegiatan dagang pasti gak akan abadi, umurnya pendek karena arah tujuannya cuma mengejar yang sifatnya sementara.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *