_”Mati syahid ada lima kategori: mati sebab wabah, mati sebab sakit perut, mati sebab tenggelam, mati sebab tertimpa sesuatu, dan mati sebab perang di jalan Allah.”_
HR. Bukhari Muslim
Rasanya tiada hari tanpa terdengar berita-berita tentang musibah. Baik yang disebabkan oleh tanah, air, angin, maupun api. Tanah longsor yang kerap terjadi, banjir yang tak kunjung berhenti, angin yang ikut menjadi-jadi, hingga api yang tak mau menepi. Baik tanah, air, angin maupun api saling mendahului ambil bagian menguji negeri ini.
Bencana yang melanda kini tak jauh dari silih bergantinya tanah, air, angin dan api dalam mengambil perannya masing-masing. Antar keempatnya tidak mau ketinggalan untuk terus memberi ujian pada bumi pertiwi ini. Belum lagi wabah Covid-19 yang kian menjadi dan tak disadari telah memutus ribuan urat nadi. Lantas apa yang harus kita lakukan menghadapi semua ini.
Bencana memang telah terjadi, akan tetapi inilah kenyataan yang tak mungkin kita elak. Ia datang ‘semena-mena’ meluluhlantakkan yang ada. Hingga semua porak-poranda tak tersisa. Barangkali inilah isyarat bahwa bumi menuju kehancuran.
Selain faktor yang maha kuasa, bencana lazim terjadi sebab ulah tangan manusia. Beberapa tangan manusia yang tidak baik turut andil menghancurkan bumi ini, dengan cara-cara yang kejam. Mulai membabat alas tanpa kenal batas, higga mengesploitasi alam tanpa henti. Kiranya inilah faktor yang dijangkau akal terkait kerusakan dan bencana yang melanda.
Meskipun bencana tak kunjung berhenti, namun kita harus yakin bahwa di balik semua ini ada kehendak-Nya. Barang kali dengan terjadinya bencana turit menggugah kesadaran untuk tidak melakukan pengrusakan. Baik untuk kepentingan diri sendiri maupun orang lain. Selain itu mungkin dengan bencana ada peluang mati syahid. Sebab syahid tidak hanya tewas di medan perang sebagaimana zaman Nabi Saw.
Kanjeng Nabi Saw., menegaskan bahwa ada lima ketegori sebuah kematian dikatakan syahid. Pertama kategori: mati sebab wabah. Kedua, mati sebab sakit perut. Ketiga, mati sebab tenggelam. Keempat mati sebab tertimpa sesuatu. Kelima, mati sebab perang di jalan Allah. Mungkin di antara bencana yang terjadi pada dasarnya memberi peluang untuk mati syahid.
Semoga dengan bencana yang terjadi menambah keimanan kita akan kehendak dan takdir-Nya. Menumbuhkan kesadaran bahwa manusia tidak ada apa-apanya. Jika bencana telah melanda tiada yang dapat menolaknya. Kecuali beberapa korban bencana dapat dikategorikan mati yang mulia. Mati yang kemudian bernilai syahid.
Demikianlah uraian singkat tentang sisi lain di balik bencana. Sebelum penutup, semoga kawan-kawan kita yang sedang tertimpa bencana senantiasa sabar menghadai ujian.
Wallahu A’lam Bisshawab.
Kediri, 21-02-2021.

No responses yet