Jama’ah : “Kang apakah kalau aku beragama kehidupanku dijamin akan lebih baik?”
Paijo : “Kalau yang kamu maksudkan adalah kehidupan duniawi, jawabannya belum tentu.”
Jama’ah : “Jadi hanya di kehidupan akherat atau kehidupan ukhrowi, nasibku akan lebih baik?”
Paijo : “Belum tentu juga begitu?”
Jama’ah : “Lha kalau begitu ngapain aku masuk beragama kang ?”
Paijo : “Lho kamu yang mau menjalani kok malah tanya saya?”
Jama’ah : “Bukan begitu kang, aku merasa teman2 ku yang kebetulan beragama bisa cocok dengan gaya hidupku. Itulah kenapa aku jadi ingin “hijrah” beragama.”
Paijo : “Kalau kamu hijrah karena teman maka yang akan kau dapatkan ya teman. Bukan Tuhan. Beragama itu tujuannya menemukan puncak Kasih dan Sayang (Ridho Tuhan). Kamu sudah merasakan betapa kasih sayang teman-temanmu membuat dirimu merasa tenang dan bahagia. Bagaimana bahagianya kita jika kita sudah bertemu Pemilik Kasih dan Sayang yang menghidupkan cinta di antara kita dan teman-teman kita, keluarga dan kerabat kita? Ketahuilah bahwa kehidupan semesta ini pondasinya adalah Kasih dan Sayang Tuhan. Itulah kenapa kita diajari dengan basmalah jika akan melakukan amal kebaikan.”
Jama’ah : “Apakah amal kebaikan yang aku lakukan di waktu aku masih belum beragama akan sia-sia kang, hanya karena aku tidak baca basmalah diawalnya?”
Paijo : “Tidak sia-sia, bahkan amal jelek kamu di masa lalu akan diganti dengan kebaikan oleh Tuhan.”
Jama’ah : “Waduh kalau begitu Tuhan ngawur dong ? Masa amal buruk kok diganti kebaikan, apa alasan rasionalnya kang?”
Paijo : “Ha ha ha Itulah sifat Tuhan yang Maha Segalanya. Tuhan itu selalu mendahulukan kasih sayang Nya kepada mahluk Nya. Dia begitu senang dengan orang yang kembali kepada Nya setelah terjebak dalam kegelapan. Namanya juga Cinta atau berbunga-bunga maka tai kucing pun terasa coklat. Kamu sudah pernah merasakan jatuh cinta dan diperbudak olehnya. Karena itu Tuhan akan menghapus semua dosa kita dan bahkan menggantinya dengan banyak kebajikan.
Jama’ah : “Betul sekali kang, tapi aku masih merasa aneh saja kang?”
Paijo : “Bayangkan jika kita terjebak dalam gua kegelapan tanpa ada sedikitpun cahaya. Apakah ada keindahan yang bisa kita lihat? Paling-paling hanya harapan2 atau angan-angan dalam pikiran dan hati. Itupun kalau orang yang terjebak hebat kayak nabi Yunus yang terjebak dalam perut Ikan Nun. Bisa selalu berdzikir. Tapi kalau ahli maksiat kayak kita, alih-alih berzikir justru malah mengumpat dan ketakutan. Nah ketika kita dibimbing Allah dan dikeluarkan dari kegelapan itu, bukankah kegelapan kita diganti dengan terang yang membuat kita bisa menikmati pemandangan indah yang menenangkan? Bahkan agar kita bisa selalu bersyukur, Allah meninggalkan jejak bayangan diri kita dalam cahaya. Kalau kamu berjalan ke titik cahaya sekali waktu tengokkan kepalamu ke belakang, kamu akan melihat bayangan gelapmu di belakang. Maka janganlah terlalu sering berjalan mundur menjauh dari cahaya Cinta. pasti kamu akan masuk dalam kegelapan lagi. Bergegaslah mendatangi pusat cahaya itu sampai bayanganmu benar-benar menyatu dan hilang dari dirimu. Maka pada titik itulah kamu akan bertemu Cinta yang menjadi tujuan akhir diri kita dalam beragama.”
Tak terasa jama’ah dan Paijo sama-sama menitikkan air mata, entah itu air mata penyesalan ataukah air mata kerinduan. #SeriPaijo

No responses yet