Sayyidina Ali  berkata, “Perhatikan apa yang disampaikan, jangan melihat siapa yang menyampaikan”. Terkadang beberapa orang kurang tepat mengaitkan “pepeling” di atas dengan masalah-masalah tertentu di masa sekarang, termasuk masalah agama.

Kekurangtepatan yang terkait dengan masalah agama bisa dihubungkan dengan banyaknya ceramah-ceramah di medsos yang biasanya mengajak kembali langsung kepada Al-Qur’an Hadis. Lalu mereka mempunyai konstruksi atau pemahaman yang beda atau bahkan mengarah ke paham intoleran dan radikal. Karena jargon kembali Alquran-hadis, biasanya akan langsung taken for granted tanpa reserve.

Lebih tepat adalah petuah yang menegaskan bahwa saat ini yang penting bukan apa yang diucapkan seseorang, tapi siapa yang mengucapkan. Dengan demikian, akhirnya si pembawa informasi atau yang mengucapkan menjadi penting.

Pentingnya si pembawa informasi (penceramah) ini bisa diibaratkan orang jualan pada masa kini, apalagi jualan online. Sama barangnya, tapi beda penjual, akan beda menilai barang yang dijual. 

Semisal penjual tasbih dari kayu akar bahar atau dari solib atau tongkat kayu luz dari seseorang semisal dari Gus Arie Jamloed ElZenkgote yang kita kenal dengan yang satunya dari orang yang tidak kita kenal, pasti anda akan pilih yang dari orang yang anda kenal.

Jangankan membeli barang, sama-sama diberi sebuah benda  semisal keris atau kayu setigi atau benda yang lain. Satunya pemberian dari kiai atau dari guru spiritual kita, sedang satunya dari orang “biasa”, pasti akan beda. Apalagi untuk masalah benda yang dianggap bertuah.

Untuk benda tidak bertuah saja juga masih berlaku hukum di atas. 

Anda beli pisau dari Gus Jabbar Hubbi  atau beli VCO dari orang ganteng sepropinsi  di Afrika (Den Bagus Lulus Suprapto ) atau beli keris anyar buatan “Empu” Ma’ruf Tamfan  atau beli kitab dari mas Baihaqi, Kang Samsudin AF, beli bakso dari Cak Yus Bakso, beli  soto dari Cak  M Anang Sofyandi dan lain-lain akan berlaku hukum yang sama.

Masih dari logika di atas, baca dan beli sejarah Tambakberas yang ditulis tim sejarah Tambakberas akan lebih afdhol.

Walhasil, bagi generasi muda saat ini yang punya semangat Islam alangkah tepat bila saat mau mengambil ajaran Islam dilihat siapa yang membawa bukan asal mereka mengucap Alquran dan hadis.

Ditulis di acara mantenan keponakan, Gus Tomy bin Kiai Abdul Hamid Wahid, PP. Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *