Ada 2 tema bahasan Amaliah yang kerap mendapat tuduhan bid’ah padahal sudah kita amalkan bahkan sejak masa ulama Mujtahid dahulu.

1. Tema Seputar Kelahiran

Sekitar setahun lalu ada seorang artis yang baru ‘hijrah’ dan tidak mau mengazani putranya yang baru lahir, alasannya karena hadisnya dhaif.

Jawaban permasalahan semacam ini dapat anda temukan dalil dan hujjahnya di buku “Kado Kelahiran Sang Buah Hati”. Tidak hanya soal azan saat kelahiran masih banyak tema yang terdapat di dalamnya mulai dalil hingga teknis pengamalannya berdasarkan ijtihad para ulama yang memahami dari dalil. Diantaranya; Azan dan Iqamah, Tahnik, Aqiqah, Memberi Nama, Mencukur Rambut Bayi, Khitan hingga Mengubur Ari-ari (placenta) dan sebagainya.

Contoh yang menarik adalah soal pemberian nama bayi yang hampir mulai ditinggalkan oleh para suami istri kalangan muda, yakni memberi nama dengan orang-orang Saleh dan Salehah. Padahal Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda:

«ﺇﻧﻬﻢ ﻛﺎﻧﻮا ﻳﺴﻤﻮﻥ ﺑﺄﻧﺒﻴﺎﺋﻬﻢ ﻭاﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ ﻗﺒﻠﻬﻢ»

“Sungguh mereka memberi nama dengan nama para Nabi dan orang-orang Saleh sebelumnya” (HR Muslim)

2. Tema Kematian (Buku Pegangan Pak Modin)

Tema ini paling banyak ditemukan tuduhan penyimpangan, hingga banyak dari Ikhwan Salafi yang memberi pelayanan merawat jenazah dengan istilah “Merawat Jenazah Sesuai Syar’i”. Mereka sepertinya menganggap apa yang diamalkan oleh para Modin tidak sesuai aturan Islam dan menyimpang dari Sunah.

Di buku “Cara Mudah Mengurus Jenazah” ini semua item dijelaskan rujukan dan kitabnya. Mulai tuntunan menghadapi orang yang sekarat hingga selesai pemakaman. Uniknya di buku ini disajikan terjemahan dalam bentuk syair yang lagunya sama seperti “Ya Rabbi bil Mustofa…”. Mudah dihafal, difaham dan dimasukkan kantong karena bentuknya seukuran bungkus rokok.

Kedua buku ini ditulis oleh alumni Sidogiri yang tidak kehabisan stok penulis. Buku tentang jenazah ditulis oleh Ust Husnul Bashori . Sementara buku pertama adalah karya bersama, antara Ust Husnul Bashori dan Ust Abdul Wahid Alfaizin . 

Kalau ditanya apa perbedaan mencolok antara dua Ustaz muda ini? Secara domisili Ust Wahid Faizin lebih banyak interaksinya dengan generasi milenial. Sementara Ust Husnul Bashori lebih akrab dengan generasi kolonial (Pak Modin biasanya banyak sepuh).

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *