Mungkin banyak yang dimasa kecilnya merasakan pengalaman seperti saya. Memiliki orang tua yang karakternya berbeda 180 derajat. Bapakku seorang pendidik yang cukup liberal sementara ibuku seorang perempuan kuat yang cenderung menguasai semua pekerjaan rumah. Jangankan memasak dan mencuci, mendekati dapur saja saya sudah “diusir”. Paling-paling tugasku sebagai anak yang rutin kulakukan adalah menimbah air untuk mengisi 3 bak kamar mandi yang ukurannya sangat besar sampai penuh sebelum mandi. Atau menyapu halaman depan yang biasa kita pakai untuk permainan gobak sodor. Atau mengupas kelapa atas permintaan ibu dan menumbuk kopi dan merica atas permintaan bapak.
Satu-satunya pekerjaan dapur yang dilakukan bapak yang kulihat saat aku masih kecil adalah membikin nasi goreng. Kadang aku menjumpai dia mencuci sarung BHS (baru kusadari sekarang yang ternyata mahal harganya) dan menjemurnya sendiri dengan “dipentang di halaman belakang rumah kami. Pekerjaan lainnya dituntaskan umi yang super women itu. Benar aku dibesarkan dalam tradisi keluarga yang sangat patriarki. Selepas Maghrib dan subuh kami mengaji di langgar. Pagi sekolah di MI sampai tingkat Tsanawi, sebelum kemudian melanjutkan ke SMA. Sebuah pilihan yang aku putuskan sendiri, meski bapak menginginkan aku masuk MA atau pesantren. Tidak ada raut sesal di matanya, dia hanya berpesan jadilah anak baik dan sekolah yang baik. Jangan lupa ngaji dan sholat.
Aku sebenarnya tidak mengenal kedua orang tuaku dengan baik. Saat itu aku cuman merasa menjadi anak terakhir dari 14 bersaudara yang hidup sangat sederhana. Bahkan ketika masuk SMA aku sempat merasa minder karena sepatuku yang sudah lusuh meskipun masih layak pakai jika ukurannya sekolah di Tsanawiyah. Karena itulah aku memilih duduk di belakang dan kadang di tengah agar tak mudah terlihat teman. Beruntung saat itu belum banyak perilaku membully kayak saat ini. Saat itu paling yang dibully hanya cewek yang cantiknya kebangeten. Mungkin saat itu yang semua harus seragam sampai warna sepatu pun harus hitam, membuat perbedaan yang ada tidak terlalu mencolok meskipun tetap terlihat yang terawat dan tak terawat. Tidak setiap hari aku membawa uang saku, aku bahkan kadang harus jalan kaki jika sepeda anginku rusak dan aku tak punya kesempatan memperbaiki. Hebatnya saat itu aku merasa itu bukan beban masalah yang besar.
Aku mulai merasa aneh justru ketika menjelang lulus SMA, ketika sedang seru berbincang rencana kuliah. Tiba-tiba beberapa teman dekatku yang selama ini aku pandang lebih pintar dan dari keluarga yang cukup kaya, karena terkadang sekolah sudah bawa motor, ternyata justru tidak bisa melanjutkan kuliah. Sementara diriku yang uang saku saja kadang nggak punya, sudah merasa pasti bisa kuliah, karena semua kakakku kuliah. Sebagai remaja aku sempat berpikir bahkan kedua orang tuaku pasti “menyembunyikan” uangnya dan pura-pura tampil sederhana agar tidak saya mintai uang saku. Anehnya ketika kuliah keadaan ini tidak berubah, keduanya hanya punya uang ketika waktunya bayar kuliah. Untuk uang saku dan makan seolah dipasrahkan saja sama Tuhan, anehnya aku bisa survive. Meskipun saat itu aku juga sudah ditanggung oleh kakakku. Tapi tetap saja menurutku sangat aneh cara melihat dan menjalani kehidupan dunia keduanya.
Aku belum sempat tanya mendalam soal ini sama bapak. Tapi dia pernah bilang dalam satu kesempatan sebelum beliau wafat. “Kamu sudah bisa baca Al Fatihah, insyaallah hidupmu di dunia terjamin. Maka berpikirlah untuk akheratmu saja.” Sementara ketika aku tanya sama umi soal ini, beliau hanya menjawab; “Manusia itu ada yang menciptakan, jadi biarkan yang menciptakan mengurus hidupmu. Asal kamu baik Dia tidak akan menelantarkanmu.” Sekarang aku sudah punya empat anak, tetapi kenapa pikiranku terkadang masih diliputi kekuatiran tentang masa depan mereka. Sehingga kadang aku merasa ingin agar mereka mendapatkan fasilitas yang serba terbaik. Kenapa aku merasa fasilitas lebih menentukan ketimbang Tuhan? Aku sadar fasilitas itu juga disediakan Tuhan, tapi terasa aneh saja melihat fasiltas dunia itu dengan cara yang penuh “kekuatiran”. Sedangkan kita tidak terlalu kuatir akan ditelantar Tuhan. Aku teringat pesan bapak yang memaknai sebuah nasehat secara terbalik. “Hiduplah untuk kepentingan akheratmu seolah hidupmu akan berakhir besok pagi (harus serius menghamba pada Nya, bahkan harus meninggalkan kepentingan duniawi). Serta hiduplah untuk kepentingan duniamu seolah kamu akan hidup selama/abadi (santai sajalah kan sudah dijamin Tuhan semuanya). Sekarang aku baru paham ternyata banyak sekali orang alim hidup dengan prinsip ini. #SeriPaijo
8 Januari 2021

No responses yet