Tentu anda tahu carrefour atau setidaknya pernah mendengar kata itu? Di Indonesia, beberapa tahun lalu, carrefour yang kita tahu adalah nama pusat perbelanjaan milik perusahaan Perancis. Carrefour sendiri memang bahasa Prancis yang artinya persimpangan. Saya amati memang letak pusat perbelanjaan itu selalu berada di persimpangan jalan, tentu jalan raya, berada di salah satu bagian dari persilangan jalan besar.
Kini, setelah pusat perbelanjaan itu beralih kepemilikan ke perusahaan milik pengusaha nasional si Anak Singkong, Chairul Tanjung, pusat perbelanjaan itu berganti dengan berbagai nama, misalnya di Bekasi ada Revo atau Blue Plaza. Meskipun berganti nama, tapi tak pindah tempat, tetap di persimpangan, tetap carrefour dalam bahasa Prancis.
Pagi ini, saya membaca buku hebat karya seorang sejarawan Prancis, Denys Lombard yang tentu saja sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, Nusa Jawa: Silang Budaya, Batas-batas Pembaratan (Gramedia, 2005), dalam 3 jilid. Judul asli buku ini dalam bahasa Prancis, Le Carrefour Javanis Essai de’histoire globale, le limited de’occidentalisation (Paris, 1990).
Saya teramat ingin membaca buku Tuan Denys ini dalam bahasa aslinya, Prancis. Sayangnya saya tidak menguasai bahasa negara yang timnas sepakbolanya dijuluki Les Bleus ini. Saya tidak pernah belajar bahasa negara yang terkenal dengan semboyan revolusinya yang kini menjadi moto resmi negara ini bersama Republik Haiti, Liberté, égalité, fraternité (“Kebebasan, keadilan, persaudaraan).
Waktu saya S3 di UIN Jakarta saya memilih mengikuti kuliah salah satu bahasa asing yang wajib diambil. Saya ambil Jerman, bukan Perancis. Jadi, saya buta bahasa Prancis, sedangkan Jerman, karena pernah sedikit belajar, saya tidak buta-buta amat alias remeng-remeng. Pada dasarnya, bahasa Jerman pun, saya tidak menguasai meskipun pernah belajar, apalagi bahasa Perancis. Tapi, untuk buku-buku yang ditulis dalam dua bahasa itu, untuk tahu isinya kita bisa bantu dengan kamus-kamus atau dengan google translate yang makin ke sini makin baik hasil terjemahannya, meskipun perlu pula kita edit.
Kaitan dengan buku-buku bahasa asing yang bahasanya tidak saya kuasai, waktu saya menyusun disertasi tentang Ibn ‘Arabi, saya menemukan sebuah buku yang sangat bagus, namun sayangnya dalam bahasa Spanyol, El Islam christianizado: estudio del sufismo a través de las obras de Abenarabi de Murcia (Madrid, 1931( karya Miguel Asin Palacios.
Saya teramat butuh memahami buku ini. Lalu saya iseng-iseng translate memakai google yang bisa menerjemahkan dokumen besar. Hasilnya lumayan juga, sedikit bisa memahami isinya. Satu waktu, ketika saya mengumpulkan kitab-kitab berbahasa Arab untuk menyusun disertasi saya itu, kebetulan sekali, saya punya kitab Ibn al-`Arabi, Hayatuhu wa-Madhhabuhu terjemahan `Abd al-Rahman Badawi.
Ternyata kitab Ibn ‘Arabi, Hayatuhu wa Madhhabuhu itu merupakan terjemahan El islam christianuzado karya Tuan Miguel Asin Palacios tadi dan di situ ada keterangan tarjamah al-Isbaniyah (terjemahan dari bahasa Spanyol). Sayapun bagai mendapat durian runtuh dengan adanya terjemahan Arab dari buku Tuan Palacios itu. Saya pun teringat ungkapan salah seorang guru saya, “Bila Anda mau mendalami ilmu-ilmu Islam, belajarlah bahasa asing, minimal Arab dan Inggris, ditambah Jerman dan Perancis”. Saya baru menyadari belakangan ini, memang buku-buku hebat tentang Islam ditulis dalam bahasa-bahasa asing terutama dalam empat bahasa tadi dan banyak pula dalam selainnya seperti Belanda dan Spanyol.
Meskipun saya tidak menguasai bahasa Prancis, beruntung sekarang banyak buku-buku dalam bahasa Prancis yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, di antaranya buku Le Carrefour karya Denys Lombard ini. Buku ini diberi pengantar oleh Prof. Dr. Sartono Kartodirjo, sosiolog ternama; Prof. Dr. A Teeuw dan Denys Lombard sendiri sebagai pengarangnya.
Denys Lombard sendiri, cukup terkenal di kalangan cendekiawan Indonesia karena karya-karyanya yang luar biasa.
Dalam cover belakang buku Nusa Jawa: Silang Budaya, vol. 1 ini ditulis bahwa Prof. Denys Lombard mengajar sejarah Asia Tenggara di Paris. Telah tiga puluh tahun ia meneliti sejarah kebudayaan Indonesia. Karya-karyanya meliputi sejumlah buku dan artikel dalam berbagai bidang, antara lain sejarah Aceh, sejarah Jawa, masyarakat Cina peranakan, serta bahasa dan sastra Indonesia.
Buku Nusa Jawa: Silang Budaya menguraikan Indonesia, dan Pulau Jawa khususnya, selama dua ribu tahun sejarahnya, telah menjadi persilangan budaya: peradaban-peradaban yang terpenting di dunia (India, Islam, Cina dan Eropa) bertemu di situ, diterima, diolah, dikembangkan, dan diperbarui. Pulau Jawa merupakan sebuah contoh yang luar biasa untuk penelitian konsep-konsep tradisi, pengaruh budaya, kesukuan, dan akulturasi.
Dalam pengantarnya Denys Lombard mengatakan bahwa program dasarnya memang cukup ambisius, yaitu memperlihatkan bahwa Pulau Jawa dan Indonesia seluruhnya, yang di Barat belum diakui sebagai “peradaban besar” (kalau dibandingkan dengan Timur Tengah, Benua India, atau Dunia Cina), ternyata merupakan sebuah pokok studi yang luar biasa. Dengan kata lain, menurut saya, proyek ambisius Denys Lombard yang luar biasa ini, ingin mengangkat Pulau Jawa dan Indonesia sebagai salah satu dari peradaban besar dunia yang juga layak diakui dunia. Sebuah ambisi yang secara konsisten ia lakukan melalui karya-karya tentang Indonesia seperti karya besarnya ini Le Carrefour.
Dengan demikian, bila kini Anda sudah tidak menemukan pusat perbelanjaan yang bernama Carrefour karena telah berganti nama, masih ada buku yang berjudul Le Carrefour. Bila di pusat perbelanjaan Anda bisa mencuci mata dengan melihat-lihat berbagai jenis barang dagangan bahkan membelinya, maka dalam buku Le Carrefour ini Anda bisa melihat bahkan mendalami budaya sendiri, budaya Jawa dan Indonesia.
Terkadang memang orang lain barangkali lebih tahu tentang kita daripada kita sendiri. Dan sepertinya Tuan Denys Lombard juga para Indonesianis lainnya lebih tahu tentang kita, tentang budaya Jawa dan Indonesia. Itu karena mereka meneliti sedangkan kita hanya menjadi penghuni di Pulau yang indah ini. Bahkan mungkin lebih enak tidur di saat hujan turun setiap hari. Setidaknya lebih baik membàca buku sambil ngopi menghangatkan diri. Membaca buku Silang Budaya adalah menjelajah Pulau Jawa bahkan Indonesia dengan segala ragam budayanya sebagai hasil pertemuan berbagai budaya besar dunia yang kemudian pula melahirkan ‘peradaban besar’ bernama ‘peradaban Indonesia’. Wallahu a’lam, pinggir kolam rumah, 20-02-21.

No responses yet