Salah satu ciri manusia yang baru belajar agama adalah “suka kagetan” dan menganggap Bid’ah segala amaliyah yg berbeda dari yg dia pelajari. Mulai dari tahlilan, yasinan, maulidan, membaca robbi ‘ghfirli setelah Alfatihah, selametan, rowahan, nujuh bulanan, sedekah lautan, dll.

Atau, mungkin saja orang tersebut ahli agama, cuma waktu dulu belajar agama berhenti pada tataran fiqh syariat belaka. Dia lupa bahwa dalam mengkaji agama tidak hanya cukup pada konsep fiqh syariat, tetapi harus dibarengi dengan tasawuf, agar agama itu menjadi indah.

Ketika Ngustadz Elvie “ngacaprak” bahwa membaca robbighfirli setelah membaca surah Al-Fatihah dengan “Pede”nya mengatakan tidak ada tuntunannya (dalilnya). Ini satu bukti bahwa ilmu agama yg beliau pelajari masih tataran Taman Kanak-Kanak. Memvonis salah amaliyah yg dia sendiri belum pelajari. Saya bisa maklum.. karena bisa saja tataran keilmuannya hanya sampai itu.

Padahal berdasarkan hadis riwayat Imam Al-Baihaqi dalam kitab As-Sunan Al-Kubra berikut;

عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ : أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- حِينَ قَالَ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِى آمِينَ

Dari Wa-il bin Hujr, dia pernah mendengar Rasulullah Saw ketika mengucapkan ‘ghairil magdhubi ‘alaihim wa ladhallin’, beliau membaca; ‘Robbighfirli, amiin.’

Habib Abdurrahman dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin menyampaikan keterangan berikut;

قال الشريف العلامة طاهر بن حسين : لا يطلب من المأموم عند فراغ إمامه من الفاتحة قول رب اغفر لي ، وإنما يطلب منه التأمين فقط ، وقول ربي اغفر لي مطلوب من القارىء فقط في السكتة بين آخر الفاتحة وآمين

Al-Syarif Al-Allamah Thahir bin Husain berkata; ‘Tidak dianjurkan bagi makmum membaca ‘robbighfirli’ ketika imam selesai membaca surah Al-Fatihah. Ia hanya diminta membaca amin saja. Bacaan ‘robbighfirli, hanya dianjurkan bagi orang yang membaca saja, yaitu pada saat diam antara akhir surah Al-Fatihah dan amin.

Gimana, Stadz? Saya masih punya 20 Kitab dan banyak dalil tentang hal ini. Masih mau bilang ngak ada dalilnya? Atau memang Ngustadz belum tahu? 

Mengenai fenomena ngustadz-ngustadz hijrah seperti ini, saya ingin bercerita panjang, begini bro.

Dahulu, ketika zaman pra-Islam atau sering kita sebut masa Jahiliyyah, alat musik rebana, terbangan, Hadrah, beduk atau sejenisnya (yang terbuat dari kulit kambing, domba atau unta) digunakan untuk melakukan upacara keagamaan, mengiringi pentas kesenian para penyair, atau tarian-tarian erotis Jahiliyyah waktu itu.

Ketika Islam yang dibawa oleh Baginda Nabi SAW itu datang, tidak serta-merta dilarang alat kesenian tersebut. Beliau SAW tetap memperbolehkannya sambil pelan-pelan memasukkan unsur-unsur positif (nilai-nilai Islam). Begitu juga dengan Puisi Jahiliyyah, yang dulu berisi celaan, kesombongan, membanggakan diri, semangat perang. Oleh Nabi SAW diarahkan kepada bentuk pujian kepada sang Khalik, keimanan dan akhlak.

Tarian erotis yang dulu ditarikan oleh “sinden-sinden” cantik jahiliyyah, dengan baju semi transparan, digantikan oleh para penari pria dengan irama gerak yang sopan dan beradab. Dan hingga kini kita masih bisa melihat, memainkan dan merasakan indahnya alat musik tersebut.

Demikian cara Nabi SAW membawa Islam ke dalam sebuah masyarakat Jahiliyyah yang keras dan bejad waktu itu. Hasilnya, Islam mudah diterima oleh masyarakat Jahiliyyah. Yang tentunya selain faktor akhlak beliau yang luhur dan dapat dipercaya (Al-Amin).

Rupanya, cara Baginda Nabi SAW ini dicontoh oleh para Walisongo dalam menyebarkan Islam di Nusantara ini. Waktu itu, Hindu dan Budha telah menjadi agama besar yang dianut oleh seluruh masyarakat. Kemudian Islam datang dengan cara yang indah dan santun dan tidak Serta-merta menganggap sesat ritual atau adat istiadat masyarakat waktu itu.

Walisongo mencoba membumikan ajaran Islam, menterjemahkan ayat-ayat Al-Quran dalam bentuk yang indah dan mengena ke hati masyarakat. Tarian, alat musik dan ritual adat yang ada dijadikan sarana untuk memasukan inti ajaran Islam. Al-Quran yang diajarkan bukan lagi pada tataran huruf dan arti, tapi tataran hakikat. Pujian-pujian, istilah sembahyang, Gong, wayang, serat-serat, mantra-mantra dan masih banyak lagi, oleh Walisongo dimasukan nilai-nilai Islam.

Sandainya, para ulama dan Walisongo langsung mengharamkan, membid’ahkan, bahkan memusyrikan adat istiadat waktu itu, tentu Islam tidak akan menjadi mayoritas dan membumi seperti sekarang ini. Atau bahkan bisa Si Udin, Kipli, Mpok Leha, Mpok Mumun, dan kalian pun saat ini masih dalam keadaan musyrik, tidak mengenal apa itu Islam.

Saya hanya ingin menegaskan buat “ngantum-ngantum” sekalian, Walisongo dan ulama-ulama terdahulu yang berjasa menyebarkan Islam di Nusantara ini adalah manusia-manusia pilihan, keilmuan mereka jauh melebihi kita yang hanya belajar dari mesin google. Al-Quran, Hadits dan segala kaitan ilmunya, bukan saja mereka hapal, namun mereka mengemas dan mengebumikannya di Nusantara ini. Sehingga, sampai detik ini kita bisa merasakan manisnya Islam.

Sebagai catatan penutup. Jujur, saya salut dengan Ngustadz Elvie dengan semangat dakwahnya. Namun, perlu kiranya memperluas bacaan tentang kajian2 agama. Mengapa? Agar Ngustadz lebih luas pemahaman dan tidak terburu2 mencap Bid’ah setiap amaliyah yg Ngustadz sendiri belum tahu landasannya.

Pesan dari Kak Kipli yg sedikit nakal : “Seruput lagi kopinya Kang, kalau perlu isap rokoknya, biar gak kagetan”

Wallahu’alam bishowab

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *