Masih berhubungan dengan Bab Nubuwah dalam Arbain Fi Ushuliddin, ada pertanyaan menggelitik, bagaimana seseorang bisa yakin dengan seorang Nabi?

Ini adalah jawaban yang bisa bermacam-macam jawabannya, tergantung bagaimana keilmuannya, bagaimana pengalamannya dan bagaimana keadaannya saat dia memilih percaya pada seorang Nabi.

Untuk itu, kita perlu melihat pengalaman para shohabat Kanjeng Nabi Muhammad SAW saat mereka memilih untuk beriman, yang disarikan dari berbagai kitab Siroh Nabawi dan Siroh Ashahabi. Saya akan coba menulis cerita beberapa sahabat Kanjeng Nabi secara random, tentang bagaimana mereka bisa beriman pada Kanjeng Nabi Muhammad SAW, dalam tulisan terpisah. Dan saya kasih tagar #CeritaSahabatNabi

Cerita pertama, Sayyidina Salman Al Farisi

Dinukil dari Siroh Nabawi karya Ibnu Hisyam, ada bab yang menerangkan pengalaman Sayyidina Salman Al Farisi hingga akhirnya beliau masuk Islam.

Sayyidina Salman berasal dari Persia, tepatnya daerah Asfahan, desanya bernama Jayyu. Beliau anak seorang tokoh Yahudi ternama di daerah tersebut. 

Salman seorang anak yang sangat disayang oleh ayahnya, hingga dia sangat dimanja kehidupannya. Beliau juga penganut Yahudi yang sangat serius, hingga dia ditugasi menjaga api dalam sinagog agar tidak padam.

Satu saat, Salman disuruh menengok ladang ayahnya. Di tengah jalan, beliau melihat ada gereja dan di dalamnya ada jamaah gereja yang lagi sholat. Saat itulah, tiba-tiba dia jadi tertarik memeluk agama Nasrani.

Saat Salman bilang pada ayahnya bahwa dia tertarik agama Nasrani, ayahnya jadi khawatir. Maka Salman pun dipasung dalam rumah. Atas bantuan para pedagang Nasrani, akhirnya Salman bisa lepas dari pasungan dan minggat bersama para pedagang Nasrani itu menuju Syam.

Di Syam, Salman bertekad belajar agama Nasrani dengan serius. Dia pun mengikuti seorang Uskup Nasrani. Setelah dia ikuti Uskup tersebut hingga meninggal, Salman belum puas. Lalu dia ikut ke Uskup yang lain hingga Uskup tersebut meninggal juga.

Sebelum meninggal, Uskup tersebut mewasiatkan Salman agar mengabdi pada Uskup Al Maushil. Setelah Uskup itu meninggal, berangkatlah Salman ke Uskup Al Maushil dan mengabdi di sana hingga Uskup Al Maushil meninggal.

Sebelum Uskup Al Maushil meninggal, Salman diwasiati agar mengabdi ke Uskup Nashibin. Setelah Uskup Al Maushil meninggal, berangkatlah Salman ke Uskup Nashibin dan mengabdi di sana hingga Uskup Nashibin meninggal.

Sebelum Uskup Nashibin meninggal, Salman diwasiati untuk mengabdi ke Uskup Ammuriyah. Setelah Uskup Nashibin meninggal, berangkatlah Salman menuju Uskup Ammuriyah hingga Uskup Ammuriyah tersebut meninggal.

Sebelum meninggal, Uskup Ammuriyah berwasiat pada Salman, “Anakku, demi Allah, sungguh aku tidak tahu pada hari ini ada orang-orang yang seperti aku yang kamu bisa aku perintahkan mengabdi kepadanya, namun telah dekat datangnya seorang Nabi. Dia diutus dengan membawa agama Ibrahim dan muncul di negeri Arab. Tempat hijrahnya adalah daerah di antara dua daerah yang berbatu dan di antara dua daerah tersebut terdapat kurma. Nabi tersebut mempunyai 3 tanda yang tidak bisa disembunyikan. Dia memakan hadiah dan tidak memakan sedekah. Di antara kedua bahunya ada cap kenabian. Jika kamu bisa pergi ke negeri tersebut, pergilah ke sana dan cari Nabi tersebut!”

Maka, setelah Uskup Ammuriyah meninggal, mulailah Salman mencari daerah yang dimaksud untuk bertemu Sang Nabi yang diceritakan Uskup Ammuriyah. Salman sempat ikut rombongan pedagang menuju Arab. Tapi di tengah jalan, saat sampai di lembah Al Qura’, Salman malah dijual ke seorang Yahudi. 

Salman pun tinggal sebagai budak di rumah Yahudi tersebut. Di sana dia melihat kurma. Salman jadi teringat wasiat Uskup Ammuriyah. Beliau pun mbatin, “Wah, jangan-jangan ini negeri Sang Nabi yang pernah diisyaratkan Uskup Ammuriyah!”

Lalu Salman dijual lagi ke seorang Yahudi Bani Quroidzoh dan dibawa ke Madinah. Saat melihat Madinah, Salman takjub “Wah, Demi Allah, kota ini persis seperti yang diisyaratkan oleh Uskup Ammuriyah!”

Satu hari, seorang sepupu tuannya Salman datang dan memberitahu kabar, “Woyy! Warga Madinah lagi pada ngumpul di Quba’ buat menyambut seorang lelaki dari Mekkah yang mengaku sebagai Nabi dan mengklaim membawa wahyu Gusti Allah!”

Mendengar hal itu, Salman bergetar merinding tubuhnya. Semua perkataan Uskup Ammuriyah benar-benar terjadi! 

Kemudian Salman pun menyiapkan sesuatu untuk menguji apakah lelaki Mekkah yang dikabarkan tadi itu benar-benar Nabi?

Saat sampai di hadapan Kanjeng Nabi di Quba’, Salman menyuguhkan sesuatu sambil berkata, “Anda orang sholeh dan anda lelah, makanlah sedekah dariku ini,”

Kanjeng Nabi Muhammad tidak berkenan memakan sedekah dari Salman itu, malah menyerahkannya pada sahabat-sahabat yang lain. Salman pun mbatin, “Wah, ini tanda pertama!”

Di lain hari saat di Madinah, Salman sampai di hadapan Kanjeng Nabi SAW, Salman menyuguhkan sesuatu sambil berkata, “Saya melihat anda tidak makan sedekah, saya pun jadi hormat pada anda, dan ini hadiah khusus dari saya untuk anda sebagai tanda hormat saya,”

Kanjeng Nabi Muhammad pun berkenan menikmati hadiah dari Salman itu, lalu mengajak sahabat-sahabat yang lain untuk ikut makan bersama. Salman pun mbatin, “Wah, ini tanda kedua!”

Di lain hari di Baqi’, saat Kanjeng Nabi dan para sahabat mengantar jenazah seorang sahabat. Beliau SAW terlihat sedang duduk di antara sahabat. Salman pun datang dan mengucap salam. Salman langsung ambil tempat di belakang Kanjeng Nabi karena sudah lama penasaran ingin melihat cap kenabian di antara bahu Kanjeng Nabi SAW seperti yang dijelaskan Uskup Ammuriyah.

Kanjeng Nabi SAW melihat Salman di belakang beliau. Beliau SAW langsung paham apa yang meliputi hati Salman. Kanjeng Nabi pun membuka kain yang menutup punggung Beliau SAW. Seketika Salman takjub saat melihat tanda kenabian tersebut persis seperti yang diceritakan Uskup Ammuriyah, “Ya Allah, ini tanda ketiga! Muhammad benar-benar seorang Nabi!”.

Salman pun kontan menangis. 

Lalu Salman diminta Kanjeng Nabi menghadap Beliau SAW. Salman diminta menceritakan semua petualangannya hingga sampai di Madinah. Salman pun bercerita petualangannya di hadapan Kanjeng Nabi SAW dan para sahabat. Dan di saat itulah Salman langsung masuk Islam karena Salman telah membuktikan sendiri kebenaran kenabian Kanjeng Nabi Muhammad SAW lewat tanda-tanda yang dikabarkan oleh Uskup Ammuriyah.

Dalam satu riwayat lain, Sayyidina Salman Al Farisi bercerita pada Kanjeng Nabi SAW, pernah diwasiati Uskup Ammuriyah, “Temuilah seorang sholeh di negeri Syam yang punya kemampuan menyembuhkan orang hanya dengan doanya, dia sering keluar masuk hutan untuk mencari orang sakit. Temui dia, nanti kamu akan temukan agama yang kamu cari-cari selama ini,”

Salman pun menuruti wasiat Uskup tersebut hingga akhirnya bertemu orang sholeh yg dimaksud. Salman pun menyebut keinginannya pada orang sholeh tersebut, untuk bisa belajar agama Ibrahim padanya. Orang sholeh tersebut pun berkata, “Telah dekat di masa hidupmu ini, kedatangan seorang Nabi di tanah Arab. Carilah dia! Maka kamu akan menemukan agama yang kamu cari selama ini!”

Mendengar cerita Sayyidina Salman tersebut, Kanjeng Nabi Muhammad SAW dawuh, “Wahai Salman, kalau ceritamu itu benar, sungguh kamu telah bertemu dengan Nabi Isa bin Maryam,”

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *