Oleh : Muhamad Rafli Nasution, Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA
Setiap manusia yang hidup tentu dapat merasakan adanya cinta. Karena manusian adalah makhluk Allah swt. yang dalam diciptakannya diberikan rasa cinta sehingga dlam menjalani kehidupan ini manusia akan saling menyanyangi, mengasihi dan mencintai. Terutama rasa mencintai terhadap sang pencipta alam semesta dan seluruh isinya. Karena Allah swt. sumber dari seluruh cinta yang ada di alam semesta ini.
Seluruh yang diciptakannya pun dengan cinta.
Cinta adalah hal yang wajar yang dapat tejadi dan dapat dirasakan oleh semua orang. Baik cinta pada orang tua, cinta pada adik, cinta pada kakak, cinta pada keluarga, cinta pada teman hingga cinta kepada lawan jenisnya. Cinta adalah hal yang normal. Cinta menjadi fitrah untuk setiap manusia, dan kembali kepada bagaimana cara setiap manusia mengekspresikan dan mewujudkan rasa cinta tersebut.
Cinta berasal dari bahasa Sansekerta “Citta” yang artinya yang selalu dipikirkan, disenangi dan dikasihi. Menurut KBBI cinta artinya suka sekali, saying benar, kasih sekali, ungin sekali, berharap sekali, susah hati (khawatir) dan risau.
Dalam psikologi cinta adalah gejala psikologis yang mendominasi dalam setiap perilaku manusia. Sigmund Freud sebagai bapak psikologi mengatakan bahwa segala perilaku manusia didasari atas emosi cinta yang lebih dikenal dengan konsepsi sexuality theory. Segala tindak – tanduk yang dilakukan manusia tidak pernah terlepas dari cinta sebagai dasar munculnya sebuah perbuatan gambarkan dalam wujud perilaku behavior. Namun demikian setiap cinta tidak tentu memiliki bentuk perilaku yang positif dan membangun terhadap peradaban yang baik namun juga terdapat cinta yang memiliki konotasi negatif dalam implementasinya. Sehingga tidak semua cinta memiliki arti dan memiliki output perilaku yang positif (Subahri, 2020).
Dalam islam cinta sering disebut dengan “musabbah”. Menurut al-Tustari “mahabbah” adalah keselarasan hati dengan Allah swt., konsisten dalam keadaannya, mengikuti Nabi–Nya, senantiasa berdzikir dan merasakan manisnya munajat bersama-Nya. Konsep cinta dalam islam dapat dipahami melalui hadist. Seperti pada hadis yang berbunyi “Tidaklah beriman seseorang dari kalian sehingga dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri” (H.R. Bukhari No. 12).
Islam mengistimewakan cinta. Islam menempatkan cinta pada posisi yang sangat istimewa. Ini karena cinta adalah aspek perasaan yang sangat indah dan memiliki rasa cinta dan perhatian. Karena cinta memiliki energi yang mampu membangkitkan jiwa pada mereka yang merasakannya. Karena itu, cinta harus disimpan di hati setiap orang. Merawatnya dengan mengembangkan cinta dalam iman dan taqwa kepada Allah swt. Makna cinta yang paling tinggi dalam Islam adalah cinta yang tercurahkan kepada Allah swt. seperti firman Allah swt. dalam Q.S Ali Imran ayat 31 yang artinya “Katakanlah jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku. Niscaya kamu akan dicintai pula oleh Allah, dan diampuni-Nya dosamu” (Erada dkk, 2022).
Manusia sebagai makhluk Allah swt. wajib untuk megenal dan menjadikan Allah swt. sebagai tempat bersandar sebagaimana Nabi Muhammad saw. Bersabda “Demi Dzat yang jiwaku yang berada dalam kekuasaan-Nya, tidak sempurna keimanan seseorang dari kalian sehingga aku lebih dicintainya dari pada orang tua dan anaknya sendiri” (H.R. Abu Huraira).
Kemudian cinta kepada Nabi Muhammad saw. sebagai teladan yang baik. Cinta untuk Allah swt. dan Nabi Muhammad saw. inilah yang kemudian menjadi dasar cinta kepada sesama manusia. Hal ini ditegaskan dengan Nabi Muhammad saw. mengatakan: ” Ada tiga perkara yang apabila ketiganya dimiliki oleh seseorang maka ia akan merasakan manisnya iman. Hendaknya Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari pada apa pun selain keduanya, mencintai seseorang hanya karena Allah dan benci apabila harus kembali kepada kekufuran, sebagaimana ia tidak mau dimasukan ke dalam nyala api” (H.R. Bukhari Muslim).
Cinta dapat dikatakan sebagai suatu hal yang menjadi dasar dari iman seseorang. Apabila manusia lebih mencintai sesuatu hal yang dimilikinya secara duniawi dibandingkan degan Allah swt. dan Rasull – Nya maka iman seseorang tersebut tidaklah sempurna. Sehingga seseorang tersebut harus terus berusaha dan berupaya untuk menyempurnakan keimanannya terhadap Allah swt. Selain mencintai Allah swt. dan Nabi Muhammad saw., mencintai sesama manusia, bukan berarti melupakan cinta terhadap orang tua, keluarga, saudara, teman seperjuangan, cinta terhadap pasangan hidup, dan cinta kepada mahluk hidup lain. Sebab bukan hanya manusia saja yang diberikan anugrah berpa rasa cinta, namun makhluk hidup lain seperti hewan pun turut merasakannya (Misbah, 2017).
Manusia tidak bisa hidup tanpa adanya cinta. Tanpa adanya cinta dalam hidup seseorang akan menjadikannya hatinya keras, menimbulkan perasaan yang meyesakkan serta akan merasakan kesepian. Implementasi cinta yang benar akan membawa kedamaian dan kebahagian. Namun meskipun manusia tidak bisa hidup tanpa cinta, kadar cinta pada setiap diri seorang manusia tidak boleh sampai melebihi kadar rasa cintanya kepada Allah swt. Inilah pentingnya Al-Qur’an sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan, khususnya mengenai cinta. Supaya manusia tidak salah mengambil langkah dan terseret serta terjerumus oleh perangkap setan.
Referensi
Erada, R.A.Z, Jati, R.R.S.J.W, & Darmawan, Dadang. (2022). Risalah Cinta dalam Pandangan Hadis. Gunung Djati Conference Series, Volume 8 (2022). 857–866.
Misbah, N. (2017). Sejatinya Kamu Milik Tuhan . Cet-1 (Sidoarjo, Imtiyaz, 2017), 4. 1.
Subahri, B. (2020). Cinta Dalam Perspektif Psikologi Qur ’ Ani. Al-Thiqah Vol. 3, No. 2 Oktober 2020. 141–156

No responses yet