Cinta adalah kata yang memiliki makna universal. Ya siapapun bahkan apapun bisa menggunakan kata ajaib itu. Bahkan cinta bisa “bermakna tragedi”. Konon dua bersaudara (Qobil dan Habil) bisa saling membunuh karena cinta. Dua kerajaan saling berperang karena cinta. Cinta juga bisa menjadi sebuah ironi, karena ada yang merasa bangga bisa menebar cinta pada banyak wanita dan atau pada banyak pria. Tetapi di sisi lain mereka hanya berharap memiliki satu cinta sejati. Apa itu cinta sejati? Tak pernah bisa didefinisikan hingga saat ini. Karena ternyata cukup banyak orang yang rela dicintai seseorang ( tak peduli dia mau dijadikan pasangan keberapa ) asal dia diperlakukan dengan penuh cinta. Bahkan dia rela merebut cinta itu dari orang lain yang lebih dulu mendapatkan. Tidak ada lagi rasa malu untuk cinta, bahkan jika harus berebut dengan banyak pesaing. Karena itu banyak yang berpendapat bahwa cinta itu tuli dan buta. Tak ada nasehat yang bisa menyembuhkan kecuali Tuhan yang berkehendak. Itupun masih dengan syarat bahwa dia percaya pada Tuhan. Sebab kadang cinta membuat manusia lupa untuk ber-Tuhan.


Bagiku yang masih setia dalam ber-Tuhan, percaya bahwa Tuhan menciptakan Cinta tanpa alasan. Sebab Dia sendiri adalah Cinta dan Pemilik Cinta. Dia ciptakan manusia dengan Cinta dan menghukumnya dengan alasan Cinta. Para malaikat saja kesulitan memahami Cinta. Coba tengok bagaimana mereka sampai harus “mendebat” Tuhan ketika mendengar kabar bahwa Tuhan “memilih” Adam (manusia) sebagai Khalifah Nya di dunia. Bagaimana yang Maha Pengasih menciptakan Kholifah Nya (manusia) di bumi yang justru menjadi pelaku utama perusakan dan pembunuhan di muka bumi? Begitu absurd kehendak Tuhan ini, hingga iblis (yang lebih tunduk dari malaikat karena sudah beribadah selama 70.000 tahun ) tidak bisa menerima dan berani menentang perintah Nya untuk “sujud” pada Adam. Lantas kenapa Iblis dianggap sebagai mahluk Tuhan yang sombong? Iblis nampaknya tidak sadar kalau dia terjebak dalam ruang “material simbolik”. Dia lupa Tuhan itu Maha Segalanya (Sak karepe Dewe). Dia Allah tidak membutuhkan argumen dari mahluk ciptaan Nya untuk memutuskan sesuatu. Meskipun Dia mengajak mahluq Nya untuk “berdialog”. Seperti para penguasa yang menawarkan dialog soal undang-undang kepada rakyat, tapi ujungnya memutuskan tanpa harus menerima masukan dari rakyat. Bahkan yang mengkritik akan dianggap menentang penguasa.


Dalam narasi Islam “tradisionalis” alam ini diciptakan Tuhan karena Cinta Nya kepada nabi Muhammad yang konon “Nur-cahayanya” diciptakan lebih dahulu ketimbang semesta raya ini. Nur Muhammad adalah representasi keagungan Cinta (Maha Kasih dan Sayang) Tuhan yang merahmati semesta alam. Tuhan sudah lebih dahulu menciptakan Iblis dan malaikat sebelum menciptakan manusia. Tetapi eksistensi Nur Muhammad mendahului penciptaan mereka. Itulah kenapa Jibril tidak mampu menemani Nabi Muhammad “bertemu Allah” ketika mi’raj. Muhammad adalah ekspresi keagungan Cinta Allah yang menjadi wasilah atas semua bentuk Rahmat Nya. Muhammad adalah muara tempat bertemunya segala bentuk kepasrahan (kepada Allah) dalam bentuk kasih sayang dan sekaligus amarah. Kita sebagai ummat nabi yang taat, meluapkan segala bentuk penghormatan (kepada Allah) lewat ekspresi cinta pada Baginda Rasul dengan sholawat. Sedang mereka yang tidak taat, meluapkan segala bentuk kebencian (kepada Allah) dengan cara mencaci maki, menghina dan mengancam beliau.


Lihatlah sikap Abu Bakar yang mempertaruhkan hidupnya untuk Rasulullah. Tetapi lihat pula Abu Lahab sang paman yang begitu bahagia dengan kelahiran Muhammad. Jika Abu Bakar larut dalam ketundukan dan kepasrahan Cinta. Abu Lahab sebaliknya, dia terjebak dalam cinta yang penuh kepentingan duniawi ( yang membutakan nurani) sehingga bermuara pada kebencian. Bukankah Iblis juga mahluk yang penuh cinta sebelum kehadiran Adam. Seperti itulah Abu Lahab yang begitu bahagia dengan kelahiran sang keponakan, tetapi justru menjadi “musuh” ketika sang keponakan terpilih sebagai Nabi akhir zaman. Cinta memang memabukkan. Meneguk Cinta secara langsung akan membuat lupa kalau kita adalah mahluk. Seperti Iblis yang begitu sombong karena merasa dekat dengan sang Maha Pengasih. Sehingga “berani” mengatur Tuhan agar menuruti kehendaknya nafsunya. Bagi kita nabi Muhammad adalah utusan tempat kita mengais Cinta Allah, karena kita tidak akan mampu meraihnya selain harus melewati sang Rasul. Jika Jibril yang “Mutohharun” saja tak mampu “bertemu” Allah (padahal dia sang pembawa pesan/wahyu Allah kepada Baginda Rasulullah), apalagi kita yang hati, pikiran dan perbuatan kita penuh dengan kotoran kepentingan duniawi? Semoga kemuliaan dan keselamatan selalu tercurah pada Baginda Rasulullah Muhammad S.A.W. #SeriPaijo

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *