Oleh : Humaira Kamiliya Najla, Mahasiswa Psikologi, prodi studi Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Hamka ( UHAMKA )
Manusia dalam hidupnya selalu mengalami kegiatan pendidikan. Kegiatan pendidikan dimaksud dimulai sejak fase awal terciptanya dan senantiasa berlangsung terus menerus, seiring dengan tahapan perkembangannya. Dalam hubungannya dengan hal ini, al-Gazali menyebutkan bahwa: anak didik itu adalah anak yang sedang mengalami perkembangan jasmani dan rohani sejak awal terciptanya dan merupakan obyek utama pendidikan. Namun satu hal yang harus dipahami bahwa jika seorang anak usia dini melakukan kegiatan belajar, maka kegiatan belajar yang dilakukan belum dapat digolongkan sebagai kegiatan belajar yang ilmiah. Disebut demikian sebab anak usia dini dalam melakukan kegiatan belajar yang berwujud kegiatan bermain, merupakan kegiatan.
Manusia adalah makhluk yang berkembang karena pengaruh dari pembawaan dan pengaruh lingkungan yang merupakan salah satu hakikat wujud manusia.7 Hal ini berarti bahwa jiwa manusia tidak akan berkembang secara baik jika hanya aspek pembawaan yang mempengaruhi perkembangannya tanpa lingkungannya dan pengaruh lingkungan tanpa pembawaan. Oleh karenanya, keduanya harus bersinergi dalam mempengaruhi perkembangan manusia sehingga potensi yang dibawah oleh manusia dapat berkembang secara optimal. Inilah yang dimaksud dengan hadits Nabi saw., yang berbunyi:
و و ي ن ُ ص ران و ا ه ىد ان و ا ىاه ي ط رة ف ا ب ً ال ف م ي ج سان و )روهُالبخاري(ُ Artinya: Tiap anak yang dilakhirkan membawa fithrah, ayah dan ibunyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi (H.R. Bukhari dan Muslim).
Sebelum membahas tentang perkembangan psikologi anak usia dini, maka terlebih dahulu akan dikemukakan pengertian psikologi sebagaimana yang telah dirumuskan oleh pada ahli, diantaranya:
- M. Dimyati Mahmud, menjelaskan bahwa: Istilah psikologi, psychology, berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan logos yang berarti ilmu. Dari pengertian tersebut sehingga orang selalu dengan mudah mendefinisikan psikologi sebagai lmu jiwa.
- . Singgih D. Gunarsa, merumusakan pengertian psikologi, yaitu: “Secara harfiyah, psikologi bererti ilmu jiwa, atau ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala kejiwaa. Tetapi dalam sejarah perkembangannya kemudian arti psikologi menjadi ilmu yang mengandung arti yang abstrak dan sukar di pelajari secara objektif. Kecuali keadaan jiwa seseorang melatar belakangi timbulnya hampir seluruh tingkah laku.
sebagai makhluk sosial yang keberadaannya selalu membutukan kehadirang orang lain. Sehubungan kebutuhan anak terhadap teman bermain, Henry N. Siahaan, menyebutkan bahwa: “seorang anak membutuhkan teman bermain, karena teman itu dapat menolong, teman dapat memberikan apa yang mungkin tidak diperoleh dari kedua orangtunya karena sibuk. Seorang anak butuh teman bermain untuk saling mengenal, saling membagi hati, dan siap menjadi sepenanggungan, serta saling mengisi kekosongan masingmasing.
1. Pada usia 6 tahun, anak suka bermain loncat-loncatan, main kucing-kucingan, berlomba lari, lempar bola dan main sekolah sekolahan.
2. Pada usia 7 tahun, anak suka mengumpulkan benda-benda kecil, mulai nampak sifat masingmasing, seperti: Anak laki-laki suka bermain perang-perangan, anak perempuan senang boneka.
3. Pada usia 8-10 tahun, sudah ada unsur kerjasama anak dalam bermain, misalnya bermain kartu, walau sifat ingin menang sendiri masih menonjol.
4. Pada umur 11-12 tahun, anak mulai melakukan inovasi, misalnya anak laki-laki senang membongkar sepeda ataupun membuat mobil-mobilan, anak perempuan senang menjahit, menyulam.
Penjelasan di atas menunjukan bahwa bersama dengan bertambahnya usia anak, maka hal itu akan berpengaruh pula terhadap cara bermain anak. Anak sangat perlu untuk melakukan berbagai aktivitas bermain sesuai dengan tingkat perkembangannya, agar dapat berkembang secara optimal. Aktifitas bermain anak akan menjadi semakin kompleks seiring dengan bertambahnya usia mereka. Imam Al-Ghazali, menyebutkan bahwa: “Seyogyanyalah anak itu di perbolehkan bermain dengan permainan yang baik, dimana ia bisa beristrahat dari lelahnya mengikuti aktivitas di sekolah, sehingga dengan bermain, dapat mengobati kelelahan dan ika anak tidak diizinkan untuk bermain dan hanya dipaksa untuk belajar, hal itu dapat menyebabkan hatinya mati dan dapat menghambat kecerdasannya.

No responses yet