Dinamika politik Indonesia selalu menarik para pengamat yang secara serius ingin mendalami bagaimana nasib masa depan demokrasi yang sejak awal menjadi pilihan bangsa ini dalam bernegara dan berbangsa. Tantangan budaya tentu menjadi aspek yang paling berat, mengingat demokrasi lahir dari proses rasionalisasi relasi nilai-nilai sosial budaya, politik dan ekonomi masyarakat Yunani dan atau Eropa. Di negri ini nilai-nilai sosial budaya, politik dan ekonomi  masih didominasi oleh pandangan-pandangan yang berakar pada nilai-nilai mistik agraris yang tidak rasioal. 

Kalau demokrasi di Eropa melahirkan prilaku politik rasional individual yang menyokong nilai keterbukaan, kejujuran, kemanusiaan dan kebebasan. Di Indonesia demokrasi justru melahirkan perilaku ketertutupan, ketakjujuran, kepentingan kelompok/golongan/kecenderungn oligarkhi yang korup dan pembatasan. Tentu saja ruang pembenahan masih sangat terbuka mengingat sistem demokrasi mulai mendorong dan melahirkan kesadaran politik kolektif masyarakat. 

Meningkatnya kesejahteraan dan terbukanya arus informasi di media, menjadikan para pelaku politik yang dulu mengandalkan mitos kekuasaan absolut yang masih kuat terbenam dalam benak dan pikiran masyarakat, tidak lagi diikuti. Media telah mengisi ruang kosong kesadaran yang dahulu dipenuhi mitos-mitos agraris yang sekarang mulai tergantikan dengan mitos pembangunan/kesejahteraan (uang) yang sebenarnya juga semu.  Akibatnya uang menjadi mitos baru sebagai instrumen paling  menentukan dalam persaingan “kekuasaan”, karena itulah kemudian korupsi semakin menggila meskipun lembaga semacam KPK telah banyak “menghukum” para tersangka. Uang mejadi mitos baru yang mengalahkan bukan saja mitos agraris, tetapi juga menjebak sistem demokrasi dalam ruang yang dalam sejarah perkembangan demokrasi di Barat membutuhkan hampir dua abad untuk menghilangkannya. #SeriPaijo Repost

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *