Kita Tidak usah meremehkan diri sendiri tidak bakalan bisa zuhud seumur hidup. Kadang ketakutan muncul gara-gara belum tau gambaran besarnya aja.
Biar lebih memahami konsep zuhud menurut syariat ini, kali ini kita mbahas tentang derajat orang zuhud. Imam Ghozali membagi derajat orang zuhud jadi tiga macam :
- Orang yang sadar manfaat zuhud dan punya kemauan untuk memulainya. Atau masih berjuang mengalahkan dirinya. Tapi hatinya belum bisa untuk melepaskan nafsu dunianya. Sehingga belum bisa disebut zahid secara benar.
- Orang yang benar-benar meninggalkan dunianya dan gak mau tunduk pada nafsunya, karena punya pemahaman bahwa tidak mungkin meraih kenikmatan akhirat jika masih diribeti hal keduniawian. Maka dia bertekad meninggalkan semua hal-hal keduniawian lalu memiskinkan diri, dia lebih senang mendermakan semua duitnya daripada buat beli ini itu. Ini bisa dibilang orang zuhud tapi belum zuhud yang paling sempurna.
- Zahid yang paling sempurna. Yaitu orang yang tidak tunduk pada nafsunya akan dunia tapi tidak lantas meninggalkan urusan duniawi. Mereka tetap bekerja mencari harta dunia selayaknya manusia pada umumnya. Tapi kondisi hatinya, ada atau tiadanya dunia tidak ada bedanya dan tidak berpengaruh baginya.
Harta baginya seperti air, sedangkan rahmat Gusti Allah seperti samudera. Hartanya merupakan bagian dari rahmat Gusti Allah, sebagaimana air itu bagian dari samudera. Sehingga sadar bahwa harta itu pasti satu saat kembali pada Sang Pemiliknya yaitu Gusti Allah. Sebagaimana air satu saat akan kembali lagi menuju samudera. Hatinya memahami bahwa harta dunia ini mengalir datang dan pergi, mengikuti siklus perputarannya seperti siklus perputaran air, tidak bisa dicegah oleh siapapun karena sunnatullah. Datang dan perginya harta sudah satu keniscayaan dari Gusti Allah.
Dengan pemahaman itu, hatinya seperti pipa saluran air yang bolong kedua ujungnya. Hatinya tidak pernah menutup pintu dari harta namun juga tidak pernah kecantol harta.
Derajat orang zuhud seperti ini dikatakan sempurna karena baginya, membenci atau mencintai harta dunia itu sama saja. Kalo kita benci dunia, maka pikiran kita dipenuhi dengan dunia itu, statusnya sama saja seperti pikiran orang gila dunia.
Satu hari, santri-santri Syaikhah Robiatul Adawiyah rame-rame mencela buruknya dunia. Namun Syaikhah Robiatul Adawiyah malah dawuh pada mereka, “Duh, dengan cacian kalian pada dunia itu, tanda betapa besar dunia itu mendominasi hati kalian”
Siti Aisyah RA satu hari punya uang seratus ribu dirham, tapi beliau tidak membenci atau kecantol pada uang sebanyak itu. Sehingga beliau terlihat tidak menyentuh uang itu sama sekali.
Pembantu beliau bilang pada Siti Aisyah AS “Andaikan satu dirham saja njenengan belikan daging, pasti njenengan sekarang bisa makan daging”
Siti Aisyah RA dawuh “Iya, kalau kamu mengingatkanku pada uang itu, itu kan uangku, itu lebih bijak daripada zuhud. Tapi hal itu bisa jadi tipuan, kalo kemudian hatiku jadi kege-eran merasa tidak akan kecantol uang itu, karena itu tanda saya kecantol uang itu. Sehingga tidak ada bedanya andaikan aku tidak ambil sama sekali atau mengambil semuanya atau sebagian, sama-sama pikiranku akan menuju uang itu,”
Jadi, Siti Aisyah RA tidak menyentuh uangnya karena paham akan tipuan prasangkanya. Andai dia menyentuh uangnya, naluri zuhudnya muncul, maka akan mencela uang itu. Sedangkan mencela uang berarti hatinya dipenuhi pikiran tentang uang.
Seperti orang Jawa bilang, “Sopo geting, bakal nyanding”. Siapa yang membenci, tandanya kepikiran terus. Maka untuk mengalahkan dunia, kita justru kudu melepaskannya dan tidak usah dipikir ruwet-ruwet. Tidak ada benci apalagi cinta. Seperti pipa saluran air, pikiran kudu los gak rewel. Buyar tidak buyar sak karep-Mu, Gusti!
Anekdot Tentang Kredit Berhadiah
Seorang guru dawuh, “Siapa yang merasa ciut di depan sesuatu, dia hamba sesuatu itu,”
Mbahas bab zuhud ini memang dimensinya luas. Karena berhubungan dengan kebutuhan dasar manusia, mulai ekonomi, sosial hingga politik, dari level pribadi, rumah tangga, hingga dunia. Zuhud dalam arti seseorang memakai sedikit dunianya sekedar untuk kebutuhan dasar pribadinya dan porsi lebih banyak untuk kemashlahatan orang lain. Andai semua orang Islam dari yg awam hingga ulamanya bisa zuhud, maka tidak ada lagi ketergantungan pada pihak lain. Umat di semua bidang pun bisa mandiri.
Makanya, tidak boleh kita berhenti untuk terus mengaji dan latihan zuhud. Kalo belum berhasil, coba lagi dan lagi. Zuhud bisa jadi senjata mematikan bagi tengkulak, lintah darat dan setan kredit, jika kita serius mengasahnya tiap waktu. Satu-satunya jalan pembuka biar jadi zuhud, dengan cara kurangi rasa inferioritas (meremehkan diri sendiri) di hadapan gejolak jiwanya sendiri.
Soal kredit ini ada anekdot juga
Satu hari ketika arisan, para emak-emak sibuk ngerumpiin suaminya masing-masing.
Istri Paidi nyletuk, “Kemarin suamiku beli Indomie, dapat hadiah mobil loh!”
Istri Sugeng menimpali, ” Wah, mantab itu, Jeng! Suamiku malah beli mobil, hadiahnya Indomie!”
Istri Sarip gak mau ketinggalan, “Suamiku dong, sejak kredit mobil, jadi makan Indomie tiap hari!”
Motivasi Orang Zuhud
Orang zuhud itu mulia karena punya wibawa di depan dunia. Kewibawaannya ketika orang zuhud itu tidak merasa zuhud. Istilah Imam Ghozali, zuhud dalam kezuhudan (az zuhdu fiz zuhudi). Karena saat dia merasa meninggalkan keduniawian, sama saja dia mengagungkan dunia. Yang benar, dia anggap dunia itu biasa saja, bukan satu hal yang istimewa hingga harus dibenci atau dicintai.
Misal ada polisi yang tidak bisa disogok. Tentu kita jadi segan padanya karena dia tidak mudah ditundukkan dengan iming-iming duit, meskipun dia bilang hanya menjalankan tugas, tidak merasa itu zuhud. Beda kalau ada orang yang sok nyufi, kemana-mana pakai baju usang motifasinya sebagai pernyataan kalau dia itu zahid. Tentu kita jadi tidak respek karena motifasinya ke dunia yaitu pengakuan.
Maka balik lagi, walau kita sudah ngerti dan mengamalkan zuhud, yang paling mulia itu orang zuhud yang tidak merasa zuhud. Ilmu zuhud paling puncak ya balik jadi goblok lagi.
Bicara motif zuhud, asal bukan motif dunia, orang mau zuhud pasti mulia karena zuhud itu sendiri ibadah. Namun dilihat dari motifasinya, tentu ada derajatnya sendiri-sendiri di sisi Gusti Allah. Derajat zuhud dilihat dari motifasinya, menurut Imam Ghozali, antara lain :
- Motifasi zuhud karena takut neraka, ini adalah derajat orang-orang yang takut murka Gusti Allah
- Motifasi zuhud karena ingin nikmat akhirat, ini adalah derajat orang-orang yang berharap rahmat Gusti Allah. Derajatnya lebih tinggi karena ibadah karena berharap (roja’) itu lebih unggul daripada ibadah karena ketakutan (khouf), karena roja’ itu berarti hatinya ridho dan menghasilkan mahabbah (cinta)
- Motifasi zuhud karena tidak ingin diri terhalang dari Al Haq (Gusti Allah), sehingga perlu untuk membersihkan jiwanya dengan zuhud, lalu memandang rendah segalanya kecuali Gusti Allah. Ini adalah motifasi zuhud yang paling tinggi, ini adalah zuhudnya ulama arifin muhaqqiqin. Zuhudnya tidak ingin timbal balik apapun, tidak ada harapan untuk mendapat sesuatu, yang mana hal itu bisa melemahkan keinginan mencapai Al Haq
Ada pula derajat zuhud dilihat dari apa yang sedang dizuhudi, antara lain
- Zuhud terhadap apapun yang ada di dunia dan akhirat kecuali pingin bertemu Gusti Allah. Cuma thomak pada keinginan bertatap muka dengan Gusti Allah, tidak thomak pada makhluk. Ini derajat zuhud yang agung.
- Zuhud terhadap kenikmatan dunia saja, thomaknya pada akhirat. Punya keinginan menggebu bahwa di akhirat nanti mendapat semua kenikmatan dunia yang ditinggalkannya. Ini derajat zuhud pertengahan.
- Zuhud terhadap beberapa kenikmatan dunia saja dan tidak zuhud pada kenikmatan dunia yang lain. Misal zuhud masalah duit saja, tidak zuhud masalah jabatan. Ini derajat zuhud yang terlemah karena kenikmatan dunia itu batasnya semu antara satu dengan yg lain, sulit dibedakan, sehingga mengkhawatirkan karena dapat merusak zuhud itu sendiri. Misal zuhud masalah duit tapi tidak zuhud masalah jabatan, padahal jabatan ini yang mengundang datangnya duit.
Nah, itu semua derajat zuhud dealam beberapa perspektif. Apapun derajatnya, asal bukan tujuan dunia, orang mau zuhud itu tetap mulia. Apalagi jaman medsos, banyak pernak-pernik pengundang syahwat yang bertebaran. Bisa tahan tidak tergoda itu sudah bisa dibilang baik dan sholeh.
Maka kita zuhud aja semampunya kita. Yang ringan-ringan dulu aja. Siapa tau, walau ringan tapi penuh perjuangan, kita dimasukkan ke dalam golongan orang mulia di sisi Gusti Allah dengan rahmat-Nya. Aamiin.

No responses yet