Dikirimi seorang kawan screenshot kitab Majmu Fatawa/i Ibn Taimiyah prihal Dhuha dan Tahajud berjama’ah secara terus-menerus.
Ini saya terjemahkan ya….
Shalat Sunnah (Tathawwu’) secara berjamaah itu ada dua;
1) Dianjurkan Berjamaah terus-menerus, seperti; Shalat Gerhana, Shalat istisqa, Qiyam Ramadhan (Terawikh dan Witir Ramadhan). Ini selalu dikerjakan berjamaah, sebgaimna berlakunya Sunnah Nabi.
2) Tidak dianjurkan berjamaah terus menerus, seperti; Qiyamullail (tahajud dan witir selain Ramadhan), Shalat Sunnah rawatib (yg mengiringi shalat fardhu), shalat dhuha, shalat tahiyatul masjid, dan semacamnya.
Ini, bila dikerjakan berjamaah secara KADANG2/SESEKALI2, ya BOLEH.
Adapun pengerjaan berjamaahnya secara terus-terusan, maka hal demikian TIDAK DISYARI’ATKAN, bahkan tergolong BID’AH MAKRUHAH (hal baru yg dibenci). Karena, Nabi dan para sahabatnya tidak membiasakan berjamaah untuk menunaikan shalat2 rawatib (dan semacamnya di atas).
(Dasar kebolehan shalat sunnah berjamaah secara SESEKALI adalah;) Nabi pernah melaksanakan Shalat sunnah, dengan jama’ah yg sedikit, tapi ini kadang2 saja. Nabi pernah shalat Qiyamullail sendiri, lalu Ibnu Abbas terbangun dan ikut shalat bersama Nabi. Di malam yg lain, Nabi shalat sunnah bersama Khudzaifah, Di malam lainnya, Nabi shalat sunnah bersama Ibnu Mas’ud, begitu pula shalat sunnah bersama Utban ibn Malik al Anshori di suatu tempat yg dijadikan mushalla (tempat biasa yg dijadikan untuk shalat bersama), begitu pula nabi shalat sunnah bersama Anas, ibunya dan seorang yatim.
Akantetapi, UMUMNYA SHALAT SUNNAHNYA NABI ITU DILAKUKAN SECARA SENDIRIAN.
*Kitab Majmu’nya Syeikh Ibn Taimiyah ini begitu digemari guruku Prof. Dr. Ali Mustafa Yaqub. Buktinya, banyak referensi beliau yg menggunakan kitab majmu’ ini….

No responses yet