yang paling mengesankan bagi Kanthongumur adalah cerita yang akan kita bahas berikut ini.
Kisah ini terdapat dalam kitab Al-Lujain Al-Dani karya Syaikh Ja’far bin Hasan bin Abdil Karim Al-Barzanji. Kitab manaqib inilah yang dulu dibaca oleh Syaikhona Maimoen Zubair saat berziarah ke Maqbaroh Syaikh Abdul Qodir Al-Jaelani pada tahun 2011.
Kisah ini saya tulis ulang dengan selipan hikmah yang saya rasakan.
Diceritakan bahwa Syaikh Abul Hasan Ibnul Thonthonah Al-Baghdadi bercerita pada hari wafatnya Syaikh Abdul Qodir Al-Jaelani, tanggal 11 Robiul Tsani 561 H.
Pada saat Syaikh Abul Hasan masih mengaji kepada Syaikh Abdul Qodir, Abul Hasan sering berjaga malam untuk mengantisipasi bila Syaikh Abdul Qodir memerlukan sesuatu.
Ini adalah bentuk khidmah murid kepada gurunya.
Pada suatu malam bulan Shofar tahun 553 H, Syaikh Abdul Qodir Al-Jaelani keluar dari rumahnya. Melihat itu, Abul Hasan membawakan teko untuk berwudhu, akan tetapi Syaikh Abdul Qodir tidak mengambilnya.
Syaikh Abdul Qodir berjalan menuju ke pintu Madrasah dan memberi isyarat ke pintu itu. Pintu itu terbuka, kemudian Syaikh Abdul Qodir keluar dari Madrasah.
Abul Hasan mengikuti Syaikh Abdul Qodir secara diam-diam, dalam hatinya ia berkata: “Sungguh Beliau tidak menyadariku (yang mengikutinya)”.
Pintu Madrasah itu kemudian tertutup dengan sendirinya. Begitu pula dengan pintu kota yang terbuka hanya dengan isyarat Syaikh Abdul Qodir dan menutup kembali.
Syaikh Abdul Qodir berjalan tidak jauh, tiba-tiba sampai pada kota yang tidak diketahui oleh Syaikh Abul Hasan.
Di akhir kisah disebutkan bahwa kota itu adalah Nahawand, Iran. Sedangkan tempat tinggal Syaikh Abdul Qodir Al-Jaelani adalah kota Baghdad, Irak. Sedangkan jarak kedua kota itu sekitar 549 Km. Bila ditempuh sekarang dengan kendaraan sekitar 6 sampai 7 jam.
Syaikh Abdul Qodir menempuh jarak tersebut hanya dengan berjalan singkat. Begitu pula dengan murid yang berjalan mengikuti guru, juga memperoleh kemudahan seperti yang dialami guru. Bila ia berjalan sendiri tanpa mengikuti guru, mungkin dan tentunya jarak tersebut akan ditempuh beberapa hari dengan berjalan kaki. Bila ditempuh menggunakan unta, maka menghabiskan waktu tiga belas hari.
Syaikh Abdul Qodir kemudian memasuki sebuah tempat seperti ribath. Di dalamnya terdapat enam orang yang sedang duduk. Tatkala melihat Syaikh Abdul Qodir, mereka pun menghaturkan hormat seraya berdiri dan segera berjabat tangan dengan beliau.
Dalam kitab Al-Jurumiyyah Bab Maf’ul Min Ajlih disebutkan contoh:
قام زيد إجلالا لعمرو
Zaid berdiri karena menghormati Amr yang datang. Begitulah bila ada orang mulai datang, maka kita berdiri sebagai bentuk hormat. Hal ini adalah sebuah budi pekerti yang mulia.
Syaikhona Maimoen Zubair menjelaskan bahwa ribath pada zama dahulu adalah istilah untuk menyebut pondok orang-orang tasawuf. Bahkan Pondok Pesantren Sarang pun dulu juga menggunakan istilah Ribath, seperti disebutkan dalam kitab Tarojim karya Syaikhona Maimoen Zubair. Seperti pada syi’ir berikut:
رباط وقاه الله شرا ووحشة * ولا زال للأخيار مأوى ومقصدا
Pada syi’ir yang lain juga disebutkan:
رباط حماه الله من كل وحشة * ولا زال مأوى للفضائل والمجد
Sedangkan pondok yang digunakan untuk mendalami ilmu agama diistilahkan dengan sebutan Ma’had.
Melanjutkan kisah Abul Hasan kemudian bersembunyi di balik tiang. Tiba-tiba terdengar suara rintihan, dan tidak berselang lama suara rintihan itu tidak terdengar lagi. Dan ternyata orang itu sudah meninggal.
Kemudian datang seorang laki-laki dan menuju ke arah terdengarnya suara rintihan. Laki-laki itu kemudian membawa jenazah orang yang sudah meninggal itu.
Setelah itu, seorang laki-laki yang tidak memakai tutup kepala dan berkumis panjang masuk ke ruangan itu kemudian duduk di hadapan Syaikh Abdul Qodir kemudian mengucapkan dua kalimat syahadat.
Syaikh Abdul Qodir kemudian mencukur rambut dan kumis orang itu. Syaikh Abdul Qodir lalu memakaikan tutup kepala kepadanya dan memberinya nama “Muhammad”.
Syaikh Abdul Qodir berkata kepada enam orang itu: “Aku memerintahkan agar orang ini menjadi wali pengganti (wali badal) dari orang yang barusan meninggal”.
Keenam wali badal itu berkata: “Sam’an Watho’ah”.
Setelah selesai, Syaikh Abdul Qodir kemudian keluar meninggalkan mereka. Syaikh Abul Hasan pun mengikutinya. Tidak berselang lama, mereka sudah berada di pintu kota Baghdad. Pintu itu tiba-tiba terbuka, kemudian menutup kembali. Begitu pula dengan pintu Madrasah. Syaikh Abdul Qodir kemudian memasuki rumahnya.
Saya sering menyaksikan Syaikhona Maimoen Zubair yang pulang dari menghadiri acara pengajian pada malam hari. Setelah sampai di Sarang, beliau langsung menuju Ndalem (rumah beliau). Beliau kemudian masuk ke kamar dan menanggalkan baju. Kemudian masuk ke jeding. Setelah keluar dari jeding, beliau memakai kaos kemudian istirahat.
Keesokan harinya, Abul Hasan pun duduk di hadapan Syaikh Abdul Qodir untuk mengaji sorogan (murid membaca disimak oleh gurunya). Tetapi karena takut terhadap kewibawaan guru, Abul Hasan si murid tidak mampu untuk membaca.
Syaikh Abdul Qodir berkata: “Wahai anakku, bacalah!. Tidak apa-apa”.
Abul Hasan pun meminta dan bersumpah agar Syaikh Abdul Qodir menjelaskan kejadian malam itu.
Syaikh Abdul Qodir berkata: “Kota yang aku kunjungi adalah Nahawand. Keenam orang itu adalah para wali Abdal An-Nujaba’. Orang yang merintih adalah ketujuh dari para wali itu. Ia sedang sakit. Tatkala ajal menghampirinya, aku pun turut hadir. Orang yang membawa jasadnya keluar adalah nabi Khidir Alaihis Salam. Dan orang yang mengucapkan Syahadat adalah orang Nashroni dari Konstantinopel. Ia aku perintah untuk menjadi pengganti wali yang meninggal tadi”.
Abul Hasan berkata: “Syaikh Abdul Qodir menyuruh aku berjanji untuk tidak menceritakan peristiwa ini kepada siapa pun selama beliau masih hidup”.
احذر من إفشاء السر في حياتي
Peristiwa pengangkatan wali badal itu tidak akan terekam tanpa adanya murid yang kadang diam-diam mengikuti guru, dan tidak meminta izin kepada guru.
Dari peristiwa itu kita juga mendapatkan pelajaran bahwa Syaikh Abdul Qodir walaupun pada malam harinya melakukan hal besar sebagai Sulthonul Aulia, akan tetapi tidak meninggalkan tugas sebagai ulama’ yaitu mengajar santri atau murid pada waktu yang lain.
Saya sering menyaksikan Syaikhona Maimoen Zubair yang pulang dari menghadiri acara dan sampai Ndalem melewati tengah malam. Kadang jam satu, jam dua lebih. Tetapi keesokan harinya, tetap mengimami sholat shubuh di Musholla Pondok Pesantren Al-Anwar. Dilanjutkan dengan mengaji kitab Ihya’ Ulumiddin.
Syaikh Abdul Qodir Al-Jaelani wafat pada usia 91 tahun dan tidak dikuburkan di tanah kelahirannya, tetapi dikuburkan di Baghdad. Beliau dilahirkan di Jilan, Thobaristan.
Begitu pula Syaikhona Maimoen Zubair dilahirkan di Sarang. Tetapi wafat dan dikuburkan di Makkah. Beliau wafat pada usia 91 tahun.
Semoga bermanfaat.
Kramatsari III Gang 7.
Selasa Kliwon, 11 Rojab 1442 H / 23 Februari 2021 M.

No responses yet