Saya ekslusif dalam iman. Dan inklusif dalam pergaulan antar iman. 

*^^^*

Siapa bisa bantah tentang dua mainstream saling menjauh, saling melawan dan saling mengalahkan: keberadaan agama mulai dipertanyakan karena pemeluk agama dan pengguna iman gagal. 

Pertama, mainstream yang ingin menjadikan agama sebagai identitas, benar salah, jumlah pemeluk mayoritas dan minoritas, atas dan bawah dalam memandang relasi dengan kekuasaan, dan puncaknya adalah menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk menjalankan syariat agama. Kekuasaan untuk mengintimidasi, menindas dan menghilangkan siapapun yang berbeda. 

Kedua, menjadikan agama sebagai inspirasi bukan aspirasi, meletakan agama dalam kesetaraan, komunikasi yang sehat dan harmoni antar iman, moderasi untuk menciptakan ruang dialog dan afirmasi perbedaan dan keragaman dalam konteks humanitas. Bahwa tidak ada paksaan dalam beragama sebagai wujud moderasi dan sikap tengahan (wasath- al awsath).

Anda berdiri pada yang mana ? 

*^^^^*

Identitas dan agama di politiki— dijadikan kuda tunggangan untuk merebut kekuasan— bukan kedamaian yang di dapat tapi kekacauan di mana-mana, umat terbelah dicabik puluhan aliran madzab dan sekte. 

Kresten pernah luluh lantak dan merasakan betapa sakit dan menderitanya selama puluhan abad, ketika gereja menjadi alat untuk membunuh dan menghilangkan siapapun yang berbeda dan ‘melawan Tuhan’.  Pun dengan imam Ahmad bin Hanbal yang harus jubaku mempertahankan pendapat di depan khalifah Al Mu’tashim yang kebetulan berbeda madzhab tentang Quran itu makhluk atau bukan. Tegas menjelaskan bahwa perbedaan dan perang bisa terjadi dalam se-iman, jika kekuasaan dijadikan pendekatan. 

Setiap agama punya sejarahnya sendiri — ketika identitas dijadikan alat pandang yang terjadi adalah perpecahan permusuhan dan berakhir perang — dan tak satupun masalah bisa diselesaikan dengan perang kecuali kesengsaraan umum. Buya HAMKA menjelaskan dalam tafsir Al Azhar bahwa titik temu agama dalam iman adalah pada substansi ajaran bukan pada bentuk formalnya”. 

*^^^^*

Lantas bagaimana meletakkan agama dalam perbedaan ? Pertanyaan klasik dan tak mudah diurai— sebab realitasnya masing-masing agama punya watak destruktif dikarenakan sifatnya yang ofensif— Disinilah reduksi ajaran agama bermula. Perang Suci atau perang sabil mendapatkan bahan bakarnya, untuk menyalakan amuk karena iman. Lantas kaum atheis bertanya sinis : masih perlukah agama jika adanya hanya membuat kacau dan penyebab semua konflik ? Tidak perlu repot- repot bikin jawaban, para pemeluk agama dan pengguna iman cukup hanya membuktikan bahwa agama yang dipeluknya masih diperlukan. 

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *