أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang2 yg beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. (QS. Ali Imran: 200)
Doa pertama
Seseorang, pasti pernah kehilangan sesuatu, setelah ikhtiar mencarinya, maka ikhlaskan dgn sikap ridho, pertanda tawakal menerima kenyataan yg telah terjadi, kemudian berdoa, yg iriwayatkan oleh Ummul Mukminin Sayyidah Ummu Salamah atau Hindun binti Abu Umayyah Radhiyallahu Anha (580 – 680 M, Jannatul Baqi, Madinah)
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا
Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’un, Allaahumma’jurniy fii mushiibati wa akhlif liy khoiron minha.
“Sesungguhnya kita milik Allah dan akan kembali kepadaNya, ya Allah berikan aku pahala dalam musibahku ini dan gantikan dgn yg lebih baik darinya”.
Doa kedua
Selain doa diatas, kita dapat membaca doa kehilangan barang dibawah ini, agar mendapat petunjuk dari Allah subhanahu wa ta’ala. Doa ini disebutkan oleh Muhammad ‘Abdur Ra’uf ibn Tajul Arifin ibnu Ali ibnu Zainal Abidin al-Haddi al-Manawi atau Imam Al Munawi rahimahullah (1545 – 1621 M Kairo Mesir, dalam kitab Faidul Qadir Sharhul Jami’ush Shaghir), bahwa saat kehilangan barang dan sedang berusaha mencarinya dianjurkan untuk membaca doa berikut ini.
اَللَّهُمَّ يَا جَامِعَ النَّاسِ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيْهِ اِجْمَعْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ ضَالَّتِيْ فِيْ خَيْرٍ وَعَافِيَةٍ
Allahumma ya jamian nasi li yaumin la raiba fihi ijma baiia wa baina dlallati fi khairin waa fiyah.
“Ya Allah, wahai Tuhan yg mengumpulkan semua manusia di hari yg tiada ragu lagi padanya. Pertemukan aku dan barangku yg hilang dgn kebaikan dan kesehatan”.
Doa ketiga
Doa ini diriwayatkan Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub Al-Lakhmi Asy-Syami Ath-Thabrani, Imam Thabrani rahimahullah (wafat Kamis 1 Juli 979 M / 28 Dzulqa’idah 368 H), dalam kitab Mu’jam al-Kabir, dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu (610 – 693 M, Mekkah)
بِسْمِ اللهِ يَا هَادِي الضَّلَالِ وَرَادِ الضَالَّةِ اُرْدُدْ عَلَي ضَالَّتِي بِعِزَّتِكَ وَسُلْطَانِكَ فَإِنَّهَا مِنْ عَطَائِكَ وَفَضْلِكَ
Bismillahi yaa haadi al-dhalal wa raadi al-dhaalah, urdud ‘ala dhaalatii bi izzatika wa sulthanika fainnahaa min ‘athaaika w fadhlika
“Dengan menyebut nama Allah, wahai yg Maha Memberikan Petunjuk sesuatu yg hilang arah, wahai yg Maha Mengembalikan sesuatu yg hilang, kembalikanlah kepadaku barangku yg hilang dgn kemuliaan-Mu dan kekuasaan-Mu, sesungguhnya itu adalah dari pemberian-Mu dan kemurahan-Mu.”
Doa keempat
Selain membaca doa di atas saat kehilangan barang, bisa juga anda menambahkan membaca doa di bawah ini, sebagaimana yg dibaca oleh Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu
اَللّٰهُمَّ يَارِبِّ الضَّآلَّةِ وَيَاهَادِيًا مِنَ الضَّلاَلَةِ رُدَّ ضَآ لَّتِىْ
Allaahumma ya rabbadl dloollati wa yaa haadiyan minadl dlolaalati rudda dloollati
“Ya Allah Tuhan dari sesuatu yg hilang, ya Tuhan yg memberikan petunjuk dari kesesatan, kembalikanlah barangku yg hilang.”
Jangan khawatir, ketika kita kehilangan sesuatu pasti ada hikmah di baliknya. Mungkin dgn kehilangan kita bisa lebih bersyukur, kita bisa lebih berhati2 dan sadar bahwa rezeki sudah ada yg mengatur.
Jika sudah berusaha mencari barang tsb dan berdoa memohon kepada Allah agar barang tsb kembali, namun belum ditemukan juga. Berarti barang tsb, bukan rezeki kita lagi, kita harus mengikhlaskan barang tsb, dan semoga Allah mengganti barang tsb dgn baik yg lebih baik untuk kita. Sejatinya di dunia ini, cepat atau lambat kita pasti akan merasakan kehilangan karena semua hanyalah titipan dari Allah subhanahu wa ta’ala.
Dibalik kehilangan suatu barang, tentunya mempunyai hikmah tersendiri bagi pemiliknya. Agar kita lebih bijak lagi saat kehilangan suatu barang dan lebih mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Keempat doa tsb, bisa digabung. Tetapi ingat, jangan cuma berdoa. Lakukanlah ikhtiar atau upaya semaksimal mungkin untuk memudahkanmu mencapai tujuan.
Tindakan terpuji, bila seseorang mengerahkan upaya maksimal sebelum kenyataan tiba. Adapun seseorang menjadi tercela menurut agama, kalau hanya mengandalkan kalimat tsb, tanpa didahului upaya maksimal atau berikhtiar.
Semoga bermanfaat
From various sources by Al-Faqir Ahmad Zaini Alawi Khodim JAMA’AH SARINYALA

No responses yet