Tangsel, jaringansantri.com – Tahukah Anda, pasca perang Diponegoro (abad ke-19) haji yang dilakukan umat Islam dari Nusantara tidak hanya ritual ibadah. Haji juga menjadi sarana mencari ilmu dan silaturahmi hingga ajang konsolidasi perjuangan kemerdekaan.

Hal itu diungkapkan sejarawan Zainul Milal Bizawie dalam kajian di Islam Nusantara Center (INC), Ciputat, Sabtu (26/8). “Haji itu tidak hanya ibadah saja, tapi sebagai sarana pertemuan, titik temu”, katanya.

Milal mengungkapkan bahwa dulu, haji membutuhkan waktu yang lama sekali, minimal tiga tahun. Dalam perjalanan, pasti melewati beberapa wilayah seperti Yaman dan Haramain. Mereka akan bertemu dengan para guru ulama dari Nusantara.

“Jadi saat itu, haji tidak hanya ritual ibadah saja tapi juga menjadi sarana mencari ilmu,” tandas penulis Masterpiece Islam Nusantara ini.

Tradisi tukar menukar sanad keilmuan juga menjadi salah satu tradisi keilmuan Nusantara yang sangat marak saat itu. Syaikh Nawawi al Bantani, misalnya, yang menjadi tokoh sentralnya, mendapat perhatian Belanda, hingga mereka mengutus Snouck Horgronje untuk mengintainya.

Komunikasi Syaikh Nawawi al Bantani dengan para peserta haji dari Nusantara menghawatirkan Kolonial Belanda. “Pemerintah kolonial ingin sekali mengetahui apa dampak haji bagi muslim di Nusantara,” terang Milal.

Setelah perang Jawa, kolonial Belanda memang terus mengawasi aktivitas dan gerakan sekecil apapun dari ulama-ulama Nusantara yang ada di Mekkah.(Ridho A.)

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *