Sekarang kita masuk bab ke sepuluh atau bab terakhir dari kitab Arbain Fi Ushuliddin. Bab terakhir ini, Imam Ghozali mengetengahkan dzikrul maut sebagai akhlaq mulia. Ini bab yang harus diketahui oleh para sarkub (sarjana kuburan).

Sedikit meriview pembahasan yg telah lalu. Dalam macam2 akhlaq mulia yg telah kita bahas, akhlaq mulia itu dibagi 2 menurut tujuan kenapa akhlaq tersebut dicari.

1. Akhlaq mulia dicari karena hal itu menjadikan syariat dan ketetapan Gusti Allah itu sangat berkesan di hati. Atau kalo orang Jawa bilang “tirakat olah roso”. Roso dicari agar kita tidak bosan dlm melakukan perintah Gusti Allah, lebih semangat dalam melakukannya dan mendulang hikmah karenanya. Ini adalah maqom akhlaq mulia tertinggi. Merupakan tujuan orang mengolah batin dan perasaan. Namun akhlaq mulia ini gak bisa berdiri sendiri, harus didukung oleh akhlaq mulia lainnya.

Yang termasuk akhlaq mulia golongan ini seperti mahabbah (cinta), tawakkal, ikhlas, syukur dan ridho. Semua itu gak bisa terwujud tanpa ada dukungan akhlaq mulia golongan kedua.

2. Akhlaq mulia yang jadi pondasi macam-macam akhlaq mulia tertinggi. Tanpa akhlaq ini, kita tidak akan mencapai akhlaq tertinggi. Karena itu, akhlaq ini harus ada di setiap orang muslim. Baik yang awam maupun yang udah wali sekalipun.

Yang termasuk dalam akhlaq mulia golongan ini seperti taubat, zuhud, khouf dan sabar. Tiap2 akhlaq mulia ini dikatakan bisa berdiri sendiri.

Akhlaq Taubat berarti beranjak dari jalan sebelumnya, menuju jalan yang benar.

Akhlaq zuhud berarti meninggalkan keruwetan agar bisa menuju jalan yg benar

Akhlaq khouf berarti memacu diri untuk segera meninggalkan keruwetan.

Akhlaq sabar berarti bersungguh-sungguh (jihad) untuk menahan hawa nafsu demi mendapat jalan yang benar.

Semua ini tidak butuh dukungan satu sama lain dan bisa berdiri sendiri. Sifatnya lebih ke perilaku fisik, akal dan jiwa, bukan perasaan dan bashiroh. Merupakan upaya untuk mendekatkan diri pada jalan yg benar, yaitu makrifat dan mahabbah.

Namun, akhlaq mulia golongan kedua ini juga tidak akan sempurna kalau didirikan tidak bertujuan untuk mengolah perasaan dan menyingkirkan kecintaan pada selain Gusti Allah. Maka pelaku akhlaq ini harus punya cita2 untuk mencintai Gusti Allah.

Maka, disinilah letak maqom Dzikrul Maut atau mengingat kematian berada. Akhlaq mulia ini bertujuan untuk memutus kecintaan kita pada gemerlap dunia, menghentikan ketergantungan kita pada dunia, mengerem perilaku kita dan mengembalikan kita pada maqom makhluk. Dan dgn mengingat mati, kita akan merasa terintimidasi ketika akan berbuat keburukan.

Gusti Allah pun berfirman

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ۖ

“Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya itu, ketahuilah bahwa kematian itu pasti akan menemui kamu”

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *