Opsi militer sebagai salah satu sarana menggapai tujuan politik adalah opsi terakhir yang ditempuh bagi semua pelaku politik kekuasaan zaman dulu, cara ini sebagai cara paling efektif mencari jalan pintas untuk mencari kekuasaan, terkadang dia harus menyampingkan nilai-nilai normatif, dengan pendek kata cara apa saja halal yang penting tujuan tercapai, akan tetapi dalam dunia politik modern dia bukan satu-satunya alternatif guna mancapai tujuan politik, operasi militer atau cara kekerasan adalah cara yang harus ditinggalkan begitu para ahli politik jaman ini berkata dan menyimpulkan, akan tetapi menghilangkan sama sekali opsi militer untuk tujuan politik juga salah, toh negara modern sekelas Amerika masih menggunakan cara-cara kekerasan guna mencapai tujuan politik mereka, tidak ada salahnya gerakan Islam modern hari ini menggunakan opsi ini sebagai salah satu jalan untuk menggapai tujuan dan cita-citanya.

Menurut Salman Hafidz diskusi-diskusi soal revolusi ini menjadi topik yang hangat dibicarakan selama mereka di Arab Saudi. Berbagai aksi sabotase dan teror sempat muncul dalam diskusi-diskusi. Misalkan rencana untuk membakar kota Jakarta. Caranya ketika hujan lebat dan Jakarta kena banjir mereka akan menumpahkan sepuluh tangki bensin di jalanan kota Jakarta kemudian membakarnya. 

Selain itu mereka merencanakan membunuh Presiden Soeharto dan para petinggi ABRI ketika sedang ada ulang tahun ABRI. Mereka bahkan merencanakan akan menggunakan bazooka untuk melakukan aksi pembunuhan tersebut.(11)

Sampai disini untuk sementara mereka belum menemukan model yang cocok tentang gaya kegiatan teror, sampai ketika mereka pulang ke indonesia dan menemukan gaya yang cocok untuk rencana teror, untuk itu Imron menyerahkan kepemimpinannya kepada Mahrizal. Alasannya, selain ia ngebet pulang ke Indonesia. Selain kangen dengan keluarga dia ngebet menikah dengan seorang gadis pujaannya yang sering ia kirimi surat yaitu Syahraini Batubara. 

Paska kepulangan Imron, peran Salman Hafidz menjadi lebih menonjol. Hal itu disebabkan kemampuan bahasa Arabnya dan pengetahuan keislamannya relatif paling baik diantara anggota jamaah yang lain. 

Salman bersama kelompoknya sering berdiskusi dengan para ulama dari berbagai negara yang kerap datang datag ke Saudi Arabia. hasil-hasil diskusi dengan para ulama yang datang kesana juga makin mengukuhkan rencana mereka untuk memilih jalan revolusi.

Pada akhir 1977 muncul ide untuk mulai menjajaki pencarian senjata ke berbagai negara Islam dan kelompok-kelompok Islam. Mahrizal kemudian menunjuk Salman Hafidz untuk melaksanakan tugas itu, dan tugas untuk melobi mencari dana sekaligus mencari dukungan telah dilaksanakan oleh Salman Hafidz di atas, walau kemudian tidak sesuai harapan dikarenakan ada bebarapa catatan kegagalan, di antaranya tidak ada tokoh yang dikenal dikalangan mereka, kemudian untuk memberikan rekomendasi kegiatan mereka akan betul sesuai target yang di capai, artinya nasehat para tokoh-tokoh Islam Indonesia diluar negeri membuat revolusi tidak semudah yang dibayangkan anak-anak muda yang mempunyai idialisme tinggi akan tetapi tampa di barengi pengalaman yang cukup dalam banyak aspek dan kondisi realitas kesiapan ummat Islam di indonesia untuk menerima ide-ide revolusi.

Tidak adanya garansi atas suksesnya tujuan mereka dengan sarana aksi-aksi sabotase yang cenderung membuat takut ummat islam akan menyebabkan kegagalan untuk mencapai tujuannya, cara-cara kekerasan yang tidak di mengerti ummat islam akan sulit menjadi pemantik ummat Islam untuk bangkit mendukung revolusi tersebut, apalagi pendekatan para pengusung idiologi ini sering kontraproduktif dengan tujuan suci mereka. Dan persoalan tekhnis ini yang harus dijawab oleh aktifis hari ini, jikalau tidak mereka akan mengulangi kesalahan-kesalahan jamaah Imran masa lalu. 

Sampai kemudian acara rutin berkumpul kembali di Jakarta mereka mulai mendiskusikan banyak hal yang mengecewakan mereka. Mulai dari soal keprihatinan mereka dengan ibadah umat Islam yang dipenuhi oleh bid’ah dan khurafat hingga soal cara melakukan revolusi Islam.

Bersambung ke bag 9

————

(11)  Berita acara persidangan tanggal 16 Maret 1982.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *