Oleh : KH Dr. Abdull Moqshid Ghazali

Orang yang beruntung adalah mereka yang dipertemukan dengan guru-guru mulia; guru-guru yang bisa membimbing kita secara lahir dan batin.

Dan Abah termasuk orang yang beruntung itu karena dalam hidupnya dipertemukan dengan kiai-kiai hebat. Di antara guru-guru Abah adalah:

1. K.H.R As’ad Syamsul Arifin (1897-1990) yang kisah perjuanganya sudah cukup masyhur. Tak perlu dikisahkan lagi di sini. Hanya sedikit ingin saya informasikan bahwa Kiai As’ad pernah menjadi dosen Abah dalam mata kuliah Ilmu Tauhid ketika Abah menjadi mahasiswa di Universitas Ibrahimy (UNIB), satu pergurunan tinggi di Pesantren Sukorejo yang didirikan oleh Kiai As’ad sendiri.

2. K.H Dhofir Munawar (1923-1985). Di samping berguru kepada Kiai As’ad, selama puluhan tahun mondok di Pesantren Sukorejo Situbondo, Abah banyak mengaji kitab kepada K.H Dhofir Munawar, menantu sekaligus sepupu Kiai As’ad yang dikenal sangat alim-allamah. Kepada Kiai Dhofir, Abah mengajib kitab al-Luma’ karya Abu Ishaq al-Syairazi, Kifayatul Akhyar, Iqna’, Fathul Wahhab, dan Tafsir Jalalain. Kiai Dhofir sendiri pernah mondok di tiga pesantren, yaitu Pesantren Guluk-Guluk Sumenep, Pesantren Sidogiri Pasuruan, dan Pesantren Lasem Rembang

3. K.H Sya’rani Parante Asembagus Situbondo. Dengan berjalan kaki kadang naik delman atau dokar dari Pesantren Sukorejo Banyuputih ke Parante Asembagus (11 km), Abah mengaji kitab Jam’ul Jawami’ kepada Kiai Sya’rani.

Kiai Sya’rani sendiri adalah teman seangkatan Kiai As’ad ketika dua-duanya studi di Mekah. Kiai Sya’rani bercerita ke Abah bahwa dirinya bersama Kiai As’ad pernah ziarah ke kuburan ulama legendaris yang terkenal dengan “kecerdikannya”, Abu Nuwas.

Saya sempat beberapa kali sowan pada Kiai Sya’rani di kediamannya. Tapi sayang sekali biografi sosial intelektualnya belum ada yang menuliskan hingga sekarang.

4. K.H. Umar Sumberwringin Jember (1904-1982), ayahanda Alm. K.H Khotib umar (Mustasyar PBNU 2010-2014). Abah bercerita bahwa dirinya sering ngaji waktu bulan Puasa ke Kiai Umar; Abah biasanya tinggal di Pesantren Sumberwringin sepanjang bulan Ramadan.

Tak lebih dari 11 kitab kecil-kecil yang Abah mengaji pada Kiai Umar sampai khatam seperti kitab Nuruddhalam, Qathrul Ghaits, Tijanud Darari, dan lain-lain. Selain ngaji kitab, yang tak terlupakan oleh Abah dari Kiai Umar adalah ketika Kiai Umar meminta Abah untuk bersalaman dengan Nabi Hidir di belakang masjid. (Kisah perjumpaan dengan Nabi Hidir ini menarik diceritakan. Lain kali insya’a Allah).

Kiai Umar juga teman Kiai As’ad Syamsul Arifin waktunya dua-duanya mondok di Pesantren Banyuanyar Pamekasan, asuhan Kiai Abdul Hamid ibn Itsbat (wafat di Mekah tahun 1931, dikebumikan di Pekuburan Ma’la, dekat dengan kuburan Sayyidah Khadijah bintu Khuwailid, istri Baginda Nabi SAW.

5. KH Ali Wafa (1886-1976), dari Ambunten Sumenep, salah seorang santri Syaikuna K.H Muhammad Cholil Bangkalan. Tahun 1973, Abah berbai’at Tarekat Naqsyabandiyah kepada Kiai Ali Wafa, yang dikenal sebagai Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah sangat berpengaruh saat itu terutama di Kabupaten Sumenep.

Namun, setelah diba’at zikir Tarekat Naqsyabandiyah, Kiai Ali Wafa dawuh ke Abah, “Sampeyan mengamalkan zikir tarekatnya nanti saja setelah Kiai As’ad Syamsul Arifin wafat”. Mengikuti dawuh Kiai Ali Wafa dan perintah Kiai As’ad, praktis aktivitas Abah di masyarakat dipenuhi aktivitas dakwah, ngaji, dan berjuang melalui NU. Abah tak menjalankan zikir Tarekat Naqsyabandiyah.

6. K.H Sofyan Miftahul Arifin (1915-2012) dari PP Sumberbunga Sletreng Situbondo. Ketika Kiai As’ad sudah wafat tahun 1990 dan seperti disyaratkan Kiai Ali Wafa, maka Abah mulai menjalankan zikir tarekatnya kepada Kiai Sofyan, salah seorang murid Kiai Ali Wafa Ambunten yang menjadi Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah.

Kiai Sofyan adalah alumni PP Genggong Probolinggo. Beliau diasuh dan didik langsung oleh KH. Moh Hasan Sepuh Genggong (1843-1955) yang dikenal sebagai “waliyullah”. Dari Genggong, Kiai Sofyan melanjutkan belajarnya pada K.H Zainul Mun’im (1906-1976), Pendiri dan Pengasuh Pertama PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Selanjutnya Kiai Sofyan berbait tarekat kepada Kiai Ali Wafa Ambunten Sumenep hingga kemudian beliau mencapai kedudukan sebagai Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah.

Sebenarnya banyak kisah yang disampaikan Abah tentang bimbingan, perhatian, dan arahan Kiai Sofyan untuk Abah. Sebab, sepeninggal guru-gurunya yang lain terutama Kiai As’ad, maka Kiai Sofyan lah yang banyak membimbing dan mengarahkan Abah terutama dalam menghadapi soal-soal pelik di masyarakat. Lain kali insya’a Allah akan saya ceritakan.

Masih banyak mungkin ratusan guru-guru Abah lain, tanpa mengurangi rasa hormat, tak bisa disebut satu persatu seperti K.H. Abdul Adhim Cholil (1930-1992, Pendiri dan Pengasuh Pertama PP Al-Hidayah Arjasa Sumenep), K.H Thaha (Pendiri Pesantren Bindung Situbondo), termasuk paman yang kemudian menjadi mertuanya K.H Syarfuddin Abdusshomad, dan lain-lain. Khusus Kiai Abdul Adhim, beliaulah yang mengantar Abah mondok ke Pesantren Sukorejo dan mempertemukan pertama kali Abah dengan Kiai As’ad Syamsul Arifin. Terima kasih banyak, Kiai Abdul Adhim.

Semoga Abah mendapat keberkahan ilmu dari semua gurunya sehingga Abah diterangi kuburnya dengan terang ampunan dan rahmat dari Allah. اللهم انزل الرحمة والمغفرة والبهجة والنور فى قبر أبى. Amin…

Rabu, 21 Juli 2021

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *