Jumat-Sabtu kemarin saya berada di kampung. Seperti biasa, pada pagi hari ada matahari, saya olahraga ringan agar langsing hehe. Saat itu bertemu dengan orang yang dulu saat saya masih bujang menjadi guru mengaji di masjid kampung itu.
Guru ngaji ini baru pulang dari menyemprot benih padi di sawah. Saya melihat dia naik sepeda pancal sambil menggendong alat semprot hama, maka saya hentikan.
Beliau bercerita negopeni ayahnya yang umur 95 tahun dalam kondisi sehat. Ibunya stroke dan harus digendong kalau ke kamar mandi.
Sang guru ngaji ini memelihara sawah milik orang lain seluas satu bahu. Sawah yang diopeni ini padinya bagus. Namun jelang musim panen, harganya turun. Katanya karena ada berita impor beras, plus kena hujan hingga padi yang bulirnya bagus itu ambruk.
Walhasil, biaya tanam impas dengan harga jual padi. Beliau rugi tenaga saja. Begitulah petani kecil.
****
Guru ngaji ini juga berkisah punya keponakan yang sakit lambung lalu dibawa ke sebuah rumah sakit. Di sana disodori surat copid (saya juga tidak tahu apa itu surat copid). Karena tidak mau, akhirnya disuruh pulang dengan rawat jalan. Alhamdulillah, dengan rawat jalan ini sakit lambungnya sembuh.
Pak guru ngaji itu melanjutkan, ada tetangga keponakannya yang juga sakit, entah sakit apa? Lalu disodori surat kopid, dan mau, selang empat hari dari dirawat, si tetangga itu meninggal.
Tiga hari lalu adik ipar saya berkisah bahwa baru saja ada warga yang sakit dan dirawat di sebuah RS. Lalu meninggal. Kata pihak RS karena kena kopid. Tapi keluarga tidak terima kalau dimakamkan ala kopid.
Lalu pihak RS berkata kalau tidak mau dimakamkan secara kopid, maka biaya rawat di RS total 50 juta. Keluarga kaget, tapi merasa berat untuk membayar 50 juta, akhirnya mereka rela dimakamkan secara kopid.
Kisah sejenis di atas berseliweran di telinga. Saya tidak mengerti apakah ada penyelewengan atau kesalahpahaman atau apa? Hal yang pasti, saya tetap berpegang masih banyak pihak kesehatan yang baik dan peduli rakyat. Saya juga yakin ada saja sedikit oknum yang memanfaatkan kepedihan rakyat. Saya pun sangat yakin balasan dosa perbuatan kita tidak hanya di akherat saja, tapi juga bisa di dunia.
***
Oh ya, saya juga mikir apakah dalam perawatan di RS pada awal kopid ada kelirunya ya? Menarik statemen singkat suami-istri yang meneliti virus ini.
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10224844309160082&id=1384627908 dan
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10224879952931154&id=1384627908
Ada juga pikiran saya kenapa kok para ahli Indonesia yang dulu katanya mau membuat vaksin, saat ini kok belum terdengar lagi hasilnya? Bagus juga komentar teman FB ini
https://www.facebook.com/100008879261456/posts/2668910396748243/

No responses yet