Beberapa hari lalu, sang guru sepuh yang betah melek dan luwe (kuat tidak makan dan tidak tidur) ini berkisah tentang ayahnya. Kisah ini hanya diceritakan kepada Emaknya dan kepada saya karena mengandung hal yang bisa dianggap “aib” keluarga. Saya tulis di sini atas seizin beliau untuk diambil sebagai pelajaran. Tentu nama ayah, nama sang guru tidak perlu saya sebut.

Sang guru mempunyai ayah yang dulu ikut berjuang dengan menjadi tentara (walau setelah merdeka beliau pilih mundur dari tentara). Saat perang 10 Nopember, sang ayah juga ikut berperang dengan dipimpin oleh Mas Sungkono, begitulah ayahnya menyebut pimpinannya. Mas Sungkono tidak lain adalah Mayjen Sungkono.

 Ayah sang guru meninggal sekitar  22 tahun lalu. Selang sekitar 7 hari dari meninggalnya ayahnya, sang guru mengalami kejadian di luar kebiasaan. Saat sang guru selesai sholat asar,  dalam kondisi sadar  didatangi 4 bocah bayi. Tiga bocah bayi laki-laki dikenal  sang guru bahwa itu adalah adiknya yang meninggal dalam usia 2 tahunan. Sedang satu bocah bayi perempuan, sang guru tidak mengenali. Tapi si bocah bilang sebagai kakaknya.

Pada waktu itu para  bayi melapor kepada sang guru bahwa kondisi almarhum ayahnya yang baru saja meninggal “kurang” menguntungkan di alam kubur. Sang guru menjawab, “Kamu semua kan lebih dekat dengan “bos”nya kehidupan, mintakan ampun kepadaNya, nanti saya juga akan ikut mendoakan.” Dikatakan lebih dekat karena  mereka meninggal saat masih bayi.

‌Selepas Maghrib, sang guru menemui Emaknya dengan bertanya apa punya anak bayi perempuan yang meninggal? Sang emak berkata, memang benar punya bayi sulung yang dalam usia 7 bulan di kandungan lahir dalam kondisi  meninggal. Dengan demikian, 4 bocah yang menemui sang guru adalah adik-adiknya dan satu kakaknya.

***

Saya penasaran dengan kisah tersebut dengan bertanya kepada guru. Apa kira-kira yang dilaporkan sang bayi tentang amaliah ayahnya adalah benar? Maksudnya apakah saat di dunia amaliah sang ayah ada yang tidak bagus?

Ternyata sang guru berkata bahwa ayahnya dulu kata Emaknya suka minum-minuman dan judi, dan kadang meninggalkan sholat. Sang Guru sendiri saat usia remaja melihat dengan mata kepala sendiri ayahnya memasang nomor  togel.

Kisah perjumpaan bayi dengan sang guru  ini boleh Anda percaya ataupun anda tolak. Bagi saya yang penting diambil hikmahnya. Apa hikmahnya? Paling tidak bagi yang masih suka mabuk dan togel lebih baik segera berhenti. Pun  bagi yang lupa sholatnya agar segera kembali sholat 

 Ada pelajaran lain,  mendoakan orang tua adalah penting. Maka bila ada orang tua yang meninggal, jangan hanya mengundang tetangga untuk mendoakan, tapi para anaknya juga ikut mendoakan.

***

Berenang kemarin siang, Alhamdulillah bisa tambah jauh 50 meter kali sepuluh putaran.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *