Mencermati kajian Gus Baha sejak 2013 saya seperti menemukan spirit NU di awal-awal NU berdiri. Berangkat dari kegelisahan spiritual yang tidak pernah bisa berhenti kenapa arah perjalanan ke -NU- an aku rasakan semakin jauh dari pesantren. Saya berpikir dugaankulah yang salah saat itu, sampai aku akhirnya “menemukan” Gus Baha dan ternyata ungkapan-ungkapannya tentang keadaan ummat saat ini begitu pas dengan apa yang aku rasakan. Salah satu yang begitu menohok adalah kesalahan memahami pesan tersirat dalam sebuah teks suci. Seringkali pesan tersurat yang dipakai para penceramah untuk “menghibur” para pendengarnya. Karena waktu yang terbatas pesan tersirat atau substansinya tak sempat mereka sampaikan. Seperti kasus sholat Dhuha yang sering dipahami orang awam dapat membuat yang melaksanakan ibadah itu bisa kaya. Padahal maksud yang sesungguhnya adalah menjaga ketauhidan seorang hamba ketika harus berjibaku dengan aktivitas duniawi yang berpotensi melalaikan kesadaran mereka akan eksistensi Tuhan. 

Dalam kesadaran historis yang saya pelajari, pesantren adalah lembaga yang paling terdepan dalam mempertahankan nilai-nilai subtansial Islam. Harus diakui dalam perjalanannya, lembaga ini juga mulai terpapar perubahan dunia dan masyarakat yang semakin materialis dan rasional. Sehingga kekuatan spiritual yang menopang rasionalitas, mulai berbalik. Dahulu di pesantren praktik-praktik riyadhoh lebih diyakini sebagai asas atau pondasi kealiman santri. Maka kesederhanaan gaya hidup pesantren menjadi terapi paling efektif menghadapi masalah dan sekaligus membangun karakter santri yang tangguh. Artinya kemantapan tauhid lebih diutamakan dipelajari lewat laku (ahlaq) daripada melalui teori. Maka yang dilahirkan pesantren zaman dahulu adalah kemantapan pengetahuan sekaligus ahlaq. Di era Milenial ini figur santri semacam ini diwakili oleh Gus Baha yang benar-benar lahir dari proses penggemblengan pesantren.  Kecerdasan ahlaq spiritual dan intelektualnya menjadi satu kesatuan yang utuh.  Inilah generasi pesantren yang harus kita tumbuhkan lagi di era masyarakat digital ini. 

Spirit kenabian yang diawali dari latihan atau ujian hidup yang sangat berat yang dialami nabi Muhammad sejak kecil adalah model pembelajaran pesantren dan ulama/kiai zaman dahulu. Kesantunan ahlaq, kejujuran dan sikap qonaah adalah basis dari pribadi nabi. Maka tidak perlu heran ketika beliau menerima amanah kenabian ketahuidan beliau “melampaui” prestasi nabi-nabi sebelumnya. Meskipun kita tahu hal itu tidak bisa dibandingkan satu sama lain. Tetapi paling tidak kita bisa melihat betapa kekuatan pesan subtansi kenabian beliau adalah soal ahlaq kepada Allah dan mahluq Nya. Inilah yang sedang diajarkan Gus Baha sebagai wali Milenial kepada kita. Tidak perlu takut pada perubahan keadaan selama kita bisa menanamkan spirit ketauhidan dengan pondasi ahlaq yang mantab. #SeriPaijo 

Tawangsari, 20 Februari 2021

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *