Nama komplitnya KH. Muhammad Balya Firjaun Barlaman. Ketika lahir pada 12 Februari 1968, ayahnya, KH. Achmad Siddiq (Rais Aam Syuriyah PBNU 1984-1991), mengabadikan konteks perlawanan terhadap kaum komunis. “Firjaun itu bermakna ‘sikat’. Sikatnya kuda, pembersih kaki kuda. Barlaman artinya parlemen. Dulu waktu saya lahir, ada pembersihan parlemen dari oknum komunis,” katanya pada suatu ketika. Kalau Balya, itu nama lain dari nabi Khidir.

Mengapa saya pilih Gus Firjaun sebagai CaWabup Jember:

1. Gus Firjaun pernah dua periode menjadi anggota dewan. 2004-2009 di Kediri, dan 2009-2014 sebagai anggota DPRD Jatim. Pengalaman di bidang politik ini mengingatkan saya pada nama yang tersemat di namanya, Barlaman, alias Parlemen. Setidaknya, urusan macetnya komunikasi antara bupati sebelumnya dengan DPRD Jember bisa dicairkan dengan pola komunikasi yang bermartabat oleh Gus Firjaun, yang paham “jerohan” dan pola komunikasi yang baik dengan DPRD. Pola komunikasi dan penyampaian visi-misi serta program dalam acara debat kandidat menunjukkan Gus Firjaun memiliki pemahaman dan pengalaman yang oke di bidang pemerintahan.

2. Santri. Gus Firjaun alumni Ponpes Ploso, Mojo, Kediri. Kemampuan fiqh beliau mumpuni. Kalau kita hadir di acara Bahtsul Masa-il PWNU Jatim, beliau sering hadir. Sesekali mimpin sidang. Jadi, penguasaan fiqh beliau tidak perlu diragukan. Saya bangga mendukung santri tampil memimpin daerah. Justru agak aneh dan menggelikan jika ada santri mendukung non-santri maju memimpin dirinya. Bagaimana dengan anda?

3. Kiai. Selain kemampuan ilmu agama yang baik, Gus Firjaun saat ini menjadi pengasuh Pesantren Assiddiqi Putra, Talangsari, Jember. Saya berharap, karena beliau merupakan pengasuh pondok, maka kebijakan-kebijakan pemerintah Jember bisa memihak kaum santri. Ratusan, bahkan mungkin ribuan pesantren ada di Jember. Jika seorang pengasuh pesantren bisa menjadi pemimpin Jember, aspirasi lebih “klik” dan nyambung. Ini harapan saya. Bagaimana dengan anda?

4. Pengurus NU. Ayahnya, KH. Achmad Siddiq, merupakan Rais Aam Syuriah PBNU (1984-1991). Nama ini kini diabadikan sebagai nama UIN di kota Jember, atau yang akan disingkat UIN KHAS (KH. A. SIDDIQ). Oke, bisa dipastikan, Gus Firjaun bukan kader NU abal-abal. Sejak muda, beliau aktif di Rabithah Maahid Islamiyah (RMI), sayap organisasi yang menghimpun pesantren NU. Juga aktif di Lembaga Bahtsul Masa-il PWNU Jatim, forum perembug dan pencari solusi atas permasalahan agama. Di PCNU Jember, sejak 2018 hingga 2024, beliau juga tercatat sebagai mustasyar. Fix, Gus Firjaun berdarah “hijau”. Bagi saya ringan saja, jika ada kader NU maju, mengapa saya harus pilih yang lain?

Ada beberapa alasan lain yang membuat saya sreg dengan pasangan Kaji Hendy dan Gus Firjaun, tapi cukup empat saja yang saya sebutkan.

****

Biasanya, ketika ada orang NU, apalagi kiai, maju Pilkada, pasti dituding “melenceng dari Khittah NU”, “Menyeret NU ke politik praktis”, dan tuduhan lain.

Dan biasanya, yang bikin statemen begini juga dari tim Paslon lawan yang tidak ingin orang NU menjadi pemimpin. Khakhakhakha.

Saya, Rijal Mumazziq Z bersama istri dan keluarga, hari Rabu besok memilih pasangan nomor 2, Haji Hendy Siswanto dan Gus Firjaun.

Memilih dan membantu mengantarkan putra KH. Achmad Siddiq (Rais Am Syuriah PBNU, 1984-1991) ini sebagai pemimpin Jember, merupakan sebuah kehormatan bagi saya. 

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *